Mabuk Sertifikat

2 Comments

“Keberadaan sertifikat bukan bentuk apresiasi, melainkan ancaman.”

Setiap fakultas yang ada di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) wajib memberikan sertifikat. Untuk setiap mahasiswa baru (maba) yang mengikuti seluruh  kegiatan masa pengenalan akademik (MPA). Hal ini tertuang dalam buku pedoman mahasiswa baru 2012/2013. Yang menjelaskan bahwa sertifikat tersebut berguna sebagai persyaratan bagi mahasiswa yang ingin mengajukan beasiswa. Serta untuk keperluan administrasi lainnya.

Pemberian sertifikat ini berangkat dari keresahan fakultas. Terkait banyaknya laporan dari dosen menyoal menurunnya prestasi akademik mahasiswa di ruang kelas.  “Masih banyak mahasiswa yang kurang rajin masuk kuliah,” ungkap Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Bahasa dan Seni Nursilah.

Dosen yang mengajar di Jurusan Seni Tari ini juga menambahkan, melalui MPA, sebagai ajang persentuhan awal mahasiswa dengan kampus. Pemberian sertifikat MPA ini bertujuan sebagai stimulus guna mendongkrak semangat mahasiswa untuk rajin masuk kuliah. “Melalui ini, kedepannya seluruh mahasiswa UNJ bisa lebih rajin,” katanya lantang. “Ini akan memacu semangat mahasiswa baru dalam melaksanakan pekuliahan selama berada di kampus,” tambahnya.

Tidak hanya itu, kewajiban memberikan sertifikat juga berlaku pada program mahasiswa bimbingan, yang rencanya akan dihelat selama  10 kali pertemuan. Dan ditujukan untuk mahasiswa baru 2012. Sebagai si empunya acara, hal  ini dimaksudkan Fakhrudin Arbah, selaku Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan. Sebagai apresiasi kepada maba  yang bertujuan, agar mahasiswa aktif di dalam kampus dengan mengikuti semua acara yang telah diagendakan oleh kampus.

Hal ini berangkat dari minimnya minat mahasiswa untuk berorganisasi. Oleh karena itu, kegiatan mabim yang bertujuan mengatasi hal tersebut. Menjanjikan sertifikat guna menarik mahasiswa untuk mengikuti agenda yang disusun oleh pihak fakultas. Yang salah satu materi kegiatannya mesti menanamkan soft skill dan memberikan pendidikan karakter.

Terkait kewajiban memberikan sertifikat bagi peserta MPA. Maba pun belum mengetahui keberadaan dan kegunaan sertifikat tersebut. “Infomasi seputar mabim sudah dikasih tau, tapi belum tau kalau bakal dapat sertifikat,” keluh Adlina, mahasiswa Pendidikan Sejarah 2012 kepada Didaktika kemarin sore. “Ada atau tidak sertifikat, menurut saya tidak membawa pengaruh apapun,” tambahnya.

Anomali Eksistensi Sertifikat

Namun, melalui sertifikat, niat memberi apresiasi kepada maba yang rajin mengikuti MPA dan pogram lainnya, terkesan mengancam mahasiswa. “Jika sertifikat digunakan sebagai alat untuk syarat kelulusan ini sebuah ancaman. Padahal jelas, nilai sertifikat tidak sebanding dengan ijazah,” tutur Ketua Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) UNJ Hamzah Muhammad Ghozi.

Keberadaan sertifikat pada MPA dan mabim, semakin mengisyaratkan kalau ada masalah yang begitu besar terkait kurikulum pendidikan di UNJ. Minimnya prestasi akademik mahasiswa yang disebabkan oleh masih maraknya mahasiswa yang malas mengikuti perkuliahan. Adalah akibat dari cermin gagalnya proses pengajaran. “Iming-iming sertifikat pada acara MPA dan mabim pasti hanya akan membuat rasa terpaksa dan tidak nyaman bagi mahasiswa yang mengikutinya,” jelas lelaki yang akrap disapa Ghozi. Ghozi menegaskan apabila pemberian sertifikat dilakukan dengan cara mengancam semakin memperjelas bahwa UNJ hanya ingin menginginkan proses instan dalam membentuk mahasiswanya.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *