Eksisnya Hukuman Fisik dalam MPA

4 Comments

Hukuman di luar yang sifatnya akademik, akan mengurangi esensi-esensi akademik yang menjadi semangat MPA

Institusi pendidikan merupakan tempat bagi golongan terpelajar. Golongan terpelajar ini seharusnya mengutamakan cara-cara intelektual dalam kerjanya. Sayangnya, masih banyak institusi pendidikan yang menggunakan cara fisik dalam menyelesaikan masalah. Bahkan dalam lingkungan perguruan tinggi. Dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Akademik (MPA), masih ada saja yang memberlakukan hukuman fisik. Padahal sudah ada peraturan yang jelas. Hal inilah yang dikatakan Ketua Tim Pengawas (TIPE) Universitas Niko Rizky Putra.” Di spanduk yang telah tertera di lingkungan kampus UNJ sudah ada larangan hukuman fisik tersebut,” ucapnya ketika ditemui diruangannya kamis (30/08/2012)

Meski sudah ada larangan akan hal itu, tapi tetap saja masih ada beberapa fakultas yang melakukan hukuman fisik tersebut. Contohnya Fakultas Teknik (FT), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK).

Dalam rangkaian acara MPA FT, hukuman fisik ini seolah sudah membudaya. Menurut Erwin, ketua MPA Jurusan Mesin, hukuman fisik ini bagian dari pengajaran kedisiplinan. Pengajaran disiplin penting, tapi caranya bukan dengan hukuman fisik. Apalagi kita sebagai pendidik. ”Kurang pas saja hukuman fisik seperti ini, saya lebih suka yang hukumannya bersifat akademis karena lebih bermanfaat,” keluh maba jurusan teknik mesin Febrianto. Hal ini pun disetujui oleh Raden Denay Wahyudin, pejabat komisi displin di dalam kepanitiaan MPA FT. ”Untuk kedepannya kami akan mencari hukuman alternatif lain yang lebih mendidik,” ucapnya

Pemberlakuan hukuman fisik tidak luput dari FMIPA. Ini diprotes oleh maba. ”Yang salah disuruh push up. Hukuman push up sangat tidak berintelek. Buat cewe bahaya buat rahim, cowo biarin aja,” tukas Jumi, maba FMIPA. Jumi menginginkan agar maba hanya diberi nasehat supaya menyadari kesalahannya. FIK lebih kental lagi dengan hukuman fisik. Uniknya, hal tersebut bisa dimaklumi. Niko menyadari push up bagian dari kuliahnya.

Meski masih ada  yang mempraktekan hukuman fisik dibeberapa tempat, TIPE terlihat tidak langsung menindaknya. Penindakan, tergantung kuantitas hukuman yang diberikan. “Jika push up dilakukan sebanyak lebih dari lima kali, maka hal ini sudah diluar kemanusiawian. Jika demikian TIPE langsung menindaknya,” tegas Niko.

Namun, pihak dekanat sama sekali tidak setuju dengan pemberlakuan hukuman fisik sekecil apapun. ”Dalam memberi hukuman ke maba saya tidak ingin ada kekerasan dan anarkhisme,” tutur Pembantu Dekan (PD) III FT Tuti Irliani. Dia menginginkan bentuk hukuman yang lebih bermanfaat. Sangsi akan diberikan jika ketahuan ada kekerasan dan anarkhisme dalam MPA.

Hukuman fisik yang mewarnai hiruk-pikuk MPA ini membuat esensi dari akademik itu sendiri menjadi tereliminasi. Patut disayangkan sebagai kampus, bukan hukuman yang lebih mendidik yang dilakukan. Terlebih UNJ sebagai kampus pendidikan, semestinya  mengedepankan nilai-nilai akademis.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *