Esensi Tugas Mahasiswa Baru

2 Comments

Penugasan yang diberikan kepada maba haruslah dapat dimengerti esensinya.

Kamis (30/08), Pukul 09.00 di kampus A Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Terlihat sekolompok orang berpakaian gaya retro beragam warna, berjalan mengelilingi kampus sambil meneriakkan yel-yel. Mereka ialah mahasiswa baru (maba) Jurusan Seni Rupa (SR) beserta panitianya. Kegiatan ini dalam rangka pelaksanaan Masa Pengenalan Akademik (MPA) jurusan. Kostum tersebut merupakan penafsiran dari tema MPA SR, olimpiade tahun 1980-an. Alasan olahraga dijadikan tema karena didalamnya terdapat unsur-unsur seni, contohnya kostum atlet atau tim sepakbola. MPA SR tahun-tahun sebelumnya pun, kostumnya menyesuaikan tema. Rupanya, maba tak berkebratan dengan kostum tersebut. “Bagus sih, kreatif banget deh seni rupa. Tapi, agak malu juga dengan pakaian gini,” ujar Ridwan, maba SR. Inilah, esensi penugasan kostum MPA. Kreatif menafsirkan tema. Ini penting bagi SR. Menurut ketua MPA SR yang akrab disapa Asun, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) terutama SR harus kreatif. Ini dianggap membawa dampak yang baik bagi mahasiswa baru dalam menjalani perkuliahan. Selain itu, kostum berlaku bagi mahasiswa baru (maba) dan panitia. “Kita disini sebagai keluarga jadi harus bisa merasakan (MPA-red) bersama-sama,” ucap Asun.

Lain fakultas, lain pula kebijakan penugasan MPA. Penugasan-penugasan  yang kurang dipahami esensinya diberlakukan di beberapa fakultas. Di Fakultas Teknik (FT), panitia MPA FT mewajibkan maba laki-laki hanya boleh mempunyai rambut lima sentimeter. Maba pun belum mengerti esensinya. “Saya gak tau kenapa maba harus dibotakin, katanya (teman-teman-red) ini udah tradisi dari angkatan-angkatan sebelumnya,” kata Guntur, maba teknik elektronika. Ketika ditemui di BEM FT, Herza sebagai ketua MPA FT ini memang mengakui tak ada hubungan langsung antara rambut botak dengan akademik, tapi ia beralasan hal tersebut lebih dikarenakan kultur akademik di FT. “Dosen menginginkan mahasiswanya yang pria berambut tipis.  Itu wajib bagi seluruh maba dan ini tradisi”, ucapnya tegas.

Selain masalah rambut, ada aturan memakai perlengkapan wajib MPA seperti helm proyek. “Saya sebenarnya keberatan dengan aturan ini karena harus mengeluarkan uang hampir 150ribu untuk membeli perlengkapan. Tapi, mau gak mau dibeli juga takut diomelin senior,” tutur Ratri, maba teknik sipil. Peraturan ini, menurut Herza merupakan cerminan dari masa depan pekerjaan maba itu sendiri.

Penugasan lain yang mewarnai MPA, salah satunya pembuatan essai. Pembuatan essai merupakan tugas wajib di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dan Fakultas Ekonomi (FE). Menurut Ketua BEM FIS Yodi pemberian tugas essai bagi mahasiswa baru bertujuan memperkenalkan dunia mahasiswa yang tak jauh dari urusan tulis-menulis. Aturannya adalah ditulis tangan maksimal lima halaman dan tidak boleh copy paste. Sebetulnya tugas essai tidak masalah, justru baik. Tapi aturan tulis tangan ini dikeluhkan maba. Salah satunya Fadhila. Dia mengeluhkan, “bikin essai gak masalah tapi kalo tulis tangan sebanyak lima lembar ya capek juga.” Maksud diperintahkannya tulis tangan karena Yodi masih menganggap sangat banyak mahasiswa yang copy paste. Menyoal banyaknya kostum dari tiap jurusan, Yodi beranggapan itu semua adalah simbol penanda karakteristik jurusan masing-masing. “Tetapi inti dari kostum dan perlengkapan lainnya jangan sampai memberatkan maba,” ucapnya.

MPA memang sangat diwarnai dengan segala macam kostum, yel-yel, maupun tugas. Semuanya memiliki tujuan, tapi terkadang bukan tujuan yang esensial. Hal ini dikritik, salah satunya oleh Sugeng Prakoso, dosen jurusan pendidikan sejarah. “MPA seharusnya memunculkan nilai akademis bukan hanya sekedar pekikan yel-yel,” ungkapnya saat ditemui seusai memberi materi MPA. Lebih lanjut, ia menjelaskan nilai-nilai akademis harus terus dibangun dalam MPA sebagai awal dari mahasiswa terjun dalam dunia perkuliahan.

Salah satu nilai akademis yang harus dibangun yakni kejujuran. Fenomena copy paste ini, tidak sesuai dengan norma kejujuran. “Sangat disayangkan jika banyak generasi muda yang tidak mau menulis sendiri,” paparnya. Lebih lanjut ia meminta kepada BEM fakultas untuk mengevaluasi kebijakan membuat essai jika memang tidak efektif seperti saat ini. Lebih jauh, evaluasi terhadap tugas-tugas yang diberikan kepada maba.

Evaluasi MPA secara menyeluruh pernah dijanjikan Pembantu Rektor III Fachrudin Arbach tahun lalu. Salah satunya masalah penugasan. Namun, janji belum bisa terealisasi. Sebab, maba masih dibebani dengan berbagai penugasan yang sering kali esensinya belum jelas. Jika tugas diberikan tanpa esensi, ini hanya menegaskan ritualitas MPA. Terbukti, tugas-tugas yang diberikan tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *