UNJ Bukan Pilihan

No Comment Yet

Dalam dimensi apapun, kampus ini tidak lagi punya nilai lebih.

Jumlah mahasiswa baru (maba) yang masuk Universitas negeri Jakarta (UNJ) setiap tahun meningkat. Peningkatan ini dikarenakan beberapa pertimbangan yang menjadi landasan pilihan mahasiswa. Salah satunya mengenai letak UNJ yang ada di pusat kota. Juga punya akses strategis untuk menjangkau daerah-daerah lain. Hal ini diakui oleh Nia Muktiana, maba jurusan pendidikan luar biasa. “UNJ lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah saya,” ujar Nia yang tinggal di daerah Bekasi.Alasan serupa juga diakui Adelina Natasha, maba jurusan pendidikan sejarah. Sebenarnya dia ingin kuliah di daerah Malang. Sayangnya, orang tua tidak mengijinkan. Akhirnya, setengah terpaksa Adelina memilih UNJ.

Sebagai kampus pendidikan, UNJ menjadi pilihan bagi mereka yang bercita-cita menjadi guru. Ini dipercayai Dhika maba Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam(FMIPA). Dhika menilai bahwa kampus ini mampu merealisasikan mimpinya menjadi guru. “UNJ kan kampus terbaik penghasil guru di Jakarta,” tuturnya. Padahal sekarang untuk menjadi guru harus ikut Program Pendidikan Guru (PPG) di sertifikasi UNJ. Program ini membuka aksesnya buat lulusan non kependidikan. Bagi lulusan kependidikan mereka harus kuliah PPG selama satu tahun lagi. Dan untuk yang non kependidikan, dengan berkuliah PPG selama satusetengah tahun, mereka pun bisa menjadi guru.

Selain status Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), soaluang kuliah yang murah juga menjadi salah satu nilai lebih. Biaya persemester di UNJ masih lebih rendah dibanding universitas negeri terkemuka lainnya. Muhammad Riadi maba Jurusan Manajemen Pendidikan mengatakan,”Disini masih murah.Jika di Universitas Indonesia mungkin bisa tiga kali lipat bayarannya.”

Namun jika diamati dari tahun-tahun sebelumnya, biaya kuliah semakin naik. Dan hal ini tidak disadari para maba yang baru masuk. Status Badan Layanan Umum (BLU) yang disandang UNJ sejak 2009 berperan banyak dalam hal ini. Lewat BLU, kampus diberikan otonomi untuk mencari dana bagi pembiayaan kegiatannya. UNJ, tidak punya sumber daya yang dapat diberdayagunakan untuk mencari uang. Makanya, mahasiswa jadi sasaran empuk. Sejak tahun 2011, biaya kuliah terus naik.

Terlepas dari itu semua, UNJ ternyata bukan pilihan pertama di mata banyak maba. Banyak dari mereka yang masuk UNJ karena kecebur. Hal ini diamini Anis, maba Jurusan Psikologi. Sebelumnya, dia telah mendaftar ke UI, Unpad, dan UPI. Namun sayang tidak diterima. “Biayanya sih memang lebih murah dari UI, tapi kualitasnya belum tahu,” ujar Anis meragukan UNJ. Di mata masyarakat, selain sebagai kampus LPTK, UNJ masih tetap belum diperhitungkan. Bahkan, Putri Rahmadani maba psikologi mengatakan semasa SMA dirinya tidak pernah memperhitungkan UNJ sebagai pilihannya.

Hal ini yang membuat pihak rektorat menerapkan adanyamasa pembinaan (Mabim) pasca Masa Pengenalan Akademik (MPA). Menurut keterangan Pembantu Rektor III Fakhrudin Arbah,ini dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan maba pada UNJ. Sebab dia tidak ingin para mahasiswa menyesal masuk UNJ. Ketika ditanyai perihal kecintaaan pada universitas, Adelina tidak merasa perasaan itu telah tumbuh. Apalagi melihat kondisi gedungnya, dirinya mengaku tidak ada yang membuatnya berkesan.

Maka,retorika yang selama ini dibangun pihak birokrat terbantahkan. Dengan bertambahnya mahasiswa baru yang masuk, bukan berarti mereka benar-benar berminat. Sebab UNJ hanya diposisikan sebagai cadangan bagi pilihan mereka.

Menerapkan masa pembinaan pun belum tentu membangkit semangat kecintaan. Sebab mahasiswa membutuhkan sesuatu yang membanggakan dari kampus ini. Seperti kondisi Infrastruktur misalnya. Lebih dari itu, kampus ini butuh peran yang berarti bagi masyarakat. Semasa berbentuk Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), kampus ini banyak menelurkan gagasan pendidikan. IKIP Jakarta merupakan satu perguruan tinggi yang sangat diperhitungkan perannya dalam pendidikan nasional.

Kini, mahasiswa terkunci aktivitasnya di dalam ruang kelas. Kepekaan terhadap permasalahan di masyarakat bukan jadi hal yang penting. Tujuan mereka adalah lulus dengan cepat. Seperti yang dikatakan Agus Nur maba Jurusan Teknologi Pendidikan. Karena uang kuliah yang mahal, rencananya dia akan memfokuskan diri untuk cepat lulus. “Saya tidak ada pikiran untuk ikut organisasi,” ujarnya. Bukan salah Agus jika tidak memiliki minat berorganisasi. Biaya kuliah yang tinggi mengarahkannya pada sikap-sikap seperti itu.

Disamping menguntungkan, terlelapnya kesadaran mahasiswa untuk aktif berkegiatan juga membawa dampak. Produktivitas mahasiswa pun menurun. Citra dan perannya di hadapan masyarakat tidak berarti. Dengan begitu, kampus ini tetap bukan menjadi pilihan yang benar-benar diinginkan.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *