Maba Membengkak, Kelas dan Dosen Menciut

4 Comments

pada 2012 UNJ menerima 6200-an mahasiswa. tidak sepadan dengan fasilitas yang ada

Kuota maba berlebih tidak dibarengi peningkatan infrastruktur, berdampak terganggunya efektifitas belajar mengajar

Tahun ajaran baru 2012/2013, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menerima mahasiswa baru (maba) sejumlah 6.200 mahasiswa, meningkat dari tahun sebelumnya sekitar 5.200 mahasiswa. Kenaikan maba justru tidak diimbangi dengan infrastruktur yang memadai. Berdampak, terganggunya kegiatan belajar-mengajar.

Zainal Rafli Pembantu Rektor (PR) I mengatakan, semakin banyak lulusan SMA, membuat pihak kementrian merekomendasikan penambahan kuota mahasiswa baru. Dengan penambahan tersebut, universitas berkeinginan membuka akses sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan.

Erfi Firmansyah, Seketaris jurusan (Sekjur) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, mengungkapkan, dalam perumusan maba jurusan hanya menerima limpahan maba dari fakultas dan universitas. “ Universitas dan fakultas yang menentukan hasil akhirnya.”

Pernyataan Efrie justru bertolak belakang dengan PR I. Jurusan mengajukan jumlah mahasiswa. fakultas bertindak menandatangani pengajuan. “Universitas hanya menerima, karena jurusan yang lebih mengetahui kondisi jurusannya.”

Hal serupa dikatakan oleh Lili Suryani selaku PD 1 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS). “Fakultas menyerahkan ke jurusan perihal kapasitas maba,” ujarnya. Karena menurutnya, jurusan yang nantinya akan mengelolanya. Saling lempar tanggungjawab, diantara kedunya. Terkesan, kurangnya komunikasi yang baik antara jurusan, fakultas dan universitas.

“Kami sudah siasati maba yang membludak, namun minimnya dosen menjadi masalah,” ujar Kepala Jurusan (Kajur) JBSI Sri Suhita. Terkait kekurangan dosen, jurusan telah mengajukan permintaan dosen ke Fakultas, tetapi tidak mencukupi. Universitas berdalih, telah mengajukan 50 dosen ke kementrian, tapi hanya memperoleh 16 dosen

Assida, dosen JBSI, mengeluhkan Kelebihan kuota mahasiswa yang menghambat proses pembelajaran, sehingga ada beberapa materi yang tidak sesuai dengan targetnya. Kondisi tersebut diperburuk dengan terbatasnya jumlah kelas. “Ruangan kelas kurang, maka ada beberapa kelas yang harus digabung. “Ihwal, mahasiswa JBSI 2012, turut mengelukan kondisi tersebut,”Pengap banget di kelas, karena kebanyakan orangnya, jadi kurang bisa konsentrasi”.

Pembludakan jumlah maba juga terjadi di jurusan Bahasa Arab. Romdhani, kajur Bahasa Arab mengatakan jurusan telah mengantisipasi dengan melakukan pengaturan jadwal kuliah, agar dosen dapat mengajar sesuai bidangnya. Menurutnya, dosen jurusan Bahasa Arab telah memenuhi kebutuhan mahasiswa. Realitanya berkata lain, pembludakan jumlah maba tetap menimbulkan masalah. Jurusan pun mengambil sikap dengan melakukan penggabungan kelas dalam mata kuliah agama.

Lili Suryani, Pembantu Dekan (PD) I Fakultas Ilmu Bahasa (FBS), menyayangkan kondisi ini. “Sesungguhnya penggabungan kelas tidak diperbolehkan”, kelas yang disesaki banyak mahasiwa justru tidak nyaman karena mengakibatkan proses belajar mengajar jadi tidak maksimal. Fakultas sebenarnya tidak menginginkan, pembludakan mahasiswa terjadi. Menyadari adanya kekurangan dari segi infrastruktur seperti ruang kelas yang terbatas.

Permasalahan pembengkakan  jumlah maba yang tidak didukung peningkatan sarana-prarasan. Baru diketahui, pihak PR I dan PD I FBS, ketika tim didaktika menanyakan hal ini. “Kami baru tahu ada laporan kejadian seperti itu ”, ungkap keduanya.

Zainal Rafli, memperingatkan kedepannya jurusan dan fakultas harus mempetimbangkan keadaan infrastruktur dengan Sumber Daya Mahasiswa (SDM) dalam penerimaan maba dan pihak universitas berusaha mempercepat pembangunan. Sedangkan Lili Suryani, menganjurkan penggabungan atau pemisahan kelas.

Jumlah maba yang banyak di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menurut Asep Supena Pembantu Dekan (PD) I, dapat diatasi karena fakultas memiliki 195 dosen yang mencukupi untuk mengajar. Idealnya dosen dan mahasiwa berbanding 1 : 30, sesuai ketentuan dari Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Membuka akses pendidikan seluas-luasnya boleh dilakukan, tapi harus dilihat dari factor kesiapan universitas. Kurangnya koordinasi antara jurusan, fakultas dan universitas harus segera diselesaikan. Karena infrastruktur mempunyai peran sentral dalam menunjang kegiatan akademik. Infrastruktur yang memadai, akan menunjang suasana  proses belajar mengajar yang nyaman dan kondusif. Hal ini akan berdampak pada keefetivitasan pembelajaran di kelas-kelas.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *