Komodifikasi Waktu Senggang

2 Comments

Judul: SOSIOLOGI WAKTU SENGGANG (Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mal)
Penulis: Muhammad Ridha
Penerbit: Resistbook cetakan pertama, 2012
Halaman: 150 halaman

Mall diyakini sebagai representasi waktu senggang masyarakat konsumsi

Ke mall adalah sebuah aktifitas yang bermakna konsumsi. Konsumen datang ke mal, untuk melaksanakan ritus konsumsi. Seperti halnya dengan masyarakat konsumsi yang lain, menjadikan mal sebagai pusat kegiatan. Masyarakat diberikan pengetahuan akan sesuatu yang baik dan buruk oleh mal, guna membangun budaya konsumen.

Inilah yang terjadi di masyarakat perkotaan Indonesia. Dalam bukunya berjudul, Sosiologi Waktu Senggang: Eksploitasi dan Komodifikasi Perempuan di Mal. Penulis, Muhammad ridha, ingin menyampaikan bahwa kapitalisme tidak menemukan waktu sebag ai jam, tapi ia berhasil untuk memaksa masyarakat ke bawah aturan jam.

Dalam kapitalisme, hubungan sosial cenderung dimaknai hubungan yang diperantarai oleh uang. Kegiatan produksi dan konsumsi dalam siklus kapital, tidaklah terpisah. Hal inilah yang menjadi fokus analisa Alumnus Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar.

Dalam siklus kerja, buruh yang memiliki waktu kerja 12 jam memiliki waktu senggang di luar waktu kerjanya. Inilah yang dilihat oleh kapitalisme sebagai waktu senggang. Dalam waktu senggang buruh, kapitalisme melihat ini sebagai ritus konsumsi. Di mana buruh harus mendedikasikan dirinya penuh ke dalam kegiatan kapital. Maka dari itu kapitalisme mengkomodifikasi waktu senggang yang dimiliki buruh dengan membentuk apa yang disebut oleh Jean P. Baudrilard sebagai, masyarakat konsumsi.

Dalam buku ini diungkapkan, budaya masyarakat saat ini yang berkaitan dengan konsumsi. Adalah sebuah bentukan dari keberlimpahan produksi kapitalisme. Serta tersedianya gerai-gerai dan iklan bagi produk-produk hasil industri.

Walaupun berbeda-beda dengan majikannya dalam menjalankan praktek konsumsi dan menghabiskan waktu senggangnya. Buruh terlihat mempunyai kesamaan pada kesempatan meraih waktu senggang dan mengekspresikannya. Di luar ranah kerja, masyarakat pelahap waktu senggang mulai terbentuk. Sehingga waktu senggang yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh buruh untuk mencari dan mendapatkan kemanusiaannya. Kembali dirampas oleh kapitalisme.

Kapitalisme membaca itu semua. Di sini praktek waktu senggang sudah menjadi sebuah ekspresi dari industri waktu senggang. Atas kenyataan setiap pekerjaan membutuhkan waktu senggang, maka didirikanlah situs-situs waktu senggang dan konsumsi. Dalam buku ini kapitalisme mewujudkannya dalam bentuk mal.

Perempuan dan Wujud Masyarakat Konsumsi

Ridha mengamini bahwa perempuan mempunyai tugas mengatur kebutuhan rumah tangga. Berbelanja kebutuhan domestik adalah hegemoni peremupan. Sedangkan wilayah publik diserahkan kepada laki-laki.

Sebagai administrator rumah tangga, perempuan menganggap kegiatan membeli sangat berharga dan penting untuk dilakukan. Maka dari itu posisi perempuan dalam budaya konsumen sebagai bagian dari subjek sekaligus sebagai objek budaya konsumen. Inilah yang dilihat Ridha sebagai perjumpaan perempuan dengan budaya kapitalisme.

Dalam buku ini Ridha mewawancarai sejumlah perempuan di Makassar terkait aktifitasnya di mal. Dengan beragam profesi, perempuan yang diwawancarai oleh Ridha mengambil kesimpulan kenapa perempuan gandrung mengunjungi mal. Bagi perempuan Makassar, mal dianggap lebih murah, lengkap dan praktis. Sehingga perempuan Makassar lebih tertarik dengan mal ketimbang pusat perbelanjaan tradisional.

Pada tingkat kebutuhan hidup misalnya, perempuan kota memang memiliki kebutuhan yang lebih kompleks daripada laki-laki. Kebutuhan tambahan, selain makan dan kebutuhan subsisten lainnya. Perempuan memiliki kebutuhan kosmetik. Dalam bahasa kapitalisme ini disebut sebagai kecendrungan konsumsi. Yang pada akhirnya menjadikan perempuan sebagai bagian penting dari perputaran komoditas. Dalam bahasa Ridha disebut, ‘perempuan menjadi etalase produk’ bagi korporasi dan bermacam-macam produk yang sedang dipromosikan. (hlm 119)

Dengan cerdas Ridha melihat aktivitas berbelanja yang identik dengan perempuan sudah berubah menjadi semacam kegilaan. Konstruksi global dan media telah menawarkan sesuatu yang baru tentang model aktualisasi diri bagi perempuan. Kenyataannya, saat ini perempuan menikmatinya. Akhirnya hubungan antara perempuan dan aktivitas waktu senggangnya adalah hubungan yang sama-sama terkomodifikasi oleh instrumen modal. Yang menyeru konsumen untuk berbelanja pada saat menghabiskan waktu senggangnya di mal.

Proses komodifikasi waktu senggang yang menurut Ridha telah menghilangkan nilai kemanusiaan ini. Malah didukung oleh pemerintah daerah. Dalam konteks ini mal memang dibangun oleh swasta, tapi kebijakan membangun mal melalui persetujuan pemerintah daerah.

Hadirnya buku ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa dengan dalih menambah pendapatan daerah. Pemerintah terkadang sering melupakan hal substansial, bahwa keberadaan mal yang kian marak di kota besar, salah satunya Jakarta. Semakin menjadikan masyarakat terkungkung dalam budaya konsumerisme yang pada hakikatnya tidak manusiawi.

Tumbuh suburnya mal semakin meminggirkan kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik. Keberadaan mal selain menggeser hunian rakyat yang sebelumnya berdiri di atasnya. Juga telah memastikan bahwa hubungan sosial hanya mampu dimakanai dengan uang. Oleh karena itu, tidak ada yang gratis dalam waktu senggang.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *