Rektor UNJ: Kita Tidak Ditunjuk Dalam Pembuatan Kurikulum 2013

343 Comments

Mendengar kabar bahwa pada tahun 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menerbitkan kurikulum baru. Pada acara seminar yang diselenggarakan oleh Jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (27/11), bertempat di Aula Daksinapati, Fakultas Ilmu Pendidikan. H.A.R Tilaar angkat suara, dia beranggapan bahwa kurikulum yang akan mengurangi jumlah mata pelajaran pada tingkat pendidikan SD dan SMA ini akan gagal.

Sekarang, untuk tingkat SD saat ini ada sepuluh mata pelajaran yang diajari yaitu, pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan diri. Tapi mulai tahun ajaran 2013/2014 jumlah mata pelajaran akan diringkas menjadi tujuh, yaitu pendidikan agama, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, serta Pramuka.

Menanggapi hal ini Tilaar mengatakan bahwa kurikulum bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah sarana. Dia menyangsikan kalau pembuat kurikulum ini tidak mengerti tujuan dari kurikulum yang sebenarnya. Dan bukan sekadar menjadi proyek jabatan semata. “ Tujuan kurikulum mesti mampu menjadikan anak bangsa mengelola Sumber Daya Alam dan budaya guna meningkatkan taraf hidupnya,” imbuh Guru Besar Emiritus UNJ.

Orientasi pengembangan kurikulum 2013 yang menurut pemerintah bertujuan tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Ditambah cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Menurut Tilaar, capaian tersebut penuh dengan kebasa-basian. “ Bukan kurikulumnya yang dibenahi, yang pertama dibenahi itu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Sebagai pencipta guru,” kata suami dari seorang wanita yang memiliki bisnis kosmetik terbesar di Indonesia. “ Di sana (kampus bekas IKIP yang berstatus LPTK) masih ada pemahaman dan praktek keliru soal pendidikan. Ilmu pendidikan bukan cuma ilmu mengajar di dalam kelas,” tambahnya.

Tilaar juga menyayangkan kondisi pendidikan hari ini. Di mana pembuat kebijakan pendidikan tidak paham betul soal masalah pendidikan yang sebenarnya terjadi. “ Satu pun dari mereka, tidak ada yang berlatar pendidikan. Yang saya bingung, ke mana orang-orang yang berlatar pendidikan itu,” ungkap Tilaar menunjuk absennya UNJ ketika ada gagasan soal pembuatan kurikulum 2013 ini.

Menanggapi pernyataan Tilaar, Rektor UNJ Bedjo Sujanto yang kebetulan hadir dalam acara tersebut memberi pendapat sama dengan Tilaar. Menurutnya kurikulum 2013 bisa saja gagal dilaksanakan, “ jangankan 2013, kurikulum yang sedang diberlangsungkan sekarang saja gagal,” tegas Bedjo kepada forum. Menjawab pertanyaan Tilaar soal keberadaan UNJ di tengah buruknya kondisi pendidikan serta gagasan pembuatan kurkulum 2013. Bedjo menjawab santai, “ kebijakan yang dibuat Kemendikbud itu kan sifatnya penunjukan. Kita (UNJ) tidak ditunjuk dalam pembuatan kurikulum itu.”

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *