Para Pembangkang yang khusyuk

880 Comments

Di kepulauan yang jauh dari negara sekuntum bunga melamar cinta para pekerja yang merenangi keringat doa-doa dan kesetiaan yang mengasah senjata.

Jakarta-Ini cerita tentang pembangkang, tapi pembangkang yang khusyuk, transenden, dan taat, serta kebaktian. Tapi bagaimana cerita mengenai pembangkang masuk ke domain ketaatan?

Agus Subhan Malmae tahu bagaimana cara menjadi pembangkang yang berbakti. Karena, selain petikan di atas merupakan bagian dari puisi Agus dalam Kebaktian para Pembangkang, pun Agus ialah pembangkang yang khusyuk.

Kebaktian para Pembangkang sendiri dijadikan judul antologi puisi yang diluncurkan Agus pada, jumat (21/12) di Wahid Institut, Jakarta. Selain Agus hadir pula Sarasdewi, dosen FIB UI, dan Jose Rizal, Budayawan. Dalam Kebaktian Para Pembangkang ada 84 puisi lain yang ditulis Agus sejak 1993.

Ihwal pembangkang dan bakti, buat agus yang mantan mahasiswa filsafat UGM, adalah satu komitmen diri yang dimanifestasi atas tindakan berpihak. “Setelah menulis puisi, lamtas mau apa?” ujar Agus. Disini Agus mengajak bertindak, mengajak membangkang dengan khusyuk.

Sementara itu, Sarasdewi salah satu pembicara yang hadir mengungkapkan bahwa ada dimensi yang beranjak dalam diri agus, “ada peningkatan dari seorang penyair yang idealis, kemudaan, ke domain religius,”

Hal ini dimungkinkan, menurut Saradewi, atas dinamika Agus sendiri, yang sebelumnya seorang aktivis, dan terus merfleksikannya, hingga menuju aras transenden.

Agus sendiri menanggapi bahwa sebenarnya usaha menuju kebebasan, apalagi banyak konteks tulisanya dicipta Agus dalam masa Orde Baru, “apakah dalam usaha itu kita harus mendirikan koloni-koloni? ini cenderung anarkistik,” kata Agus. “perlu ada upaya fundamental yang memyeluruh.”

Mewujudkannya butuh kekhusyuukan.

Anggar Septiadi

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *