Memahami Kota (Jakarta)

2 Comments

 

   Kepentingan masyarakat (citizen) selalu kalah dengan kepentingan kota (cities)

 Itulah yang dikatakan oleh Edward Glasser, “cities win, citizen lose.” Saat kita mesti dipaksa untuk memahami Jakarta, dari potensi beserta masalahnya. Akibat banjir yang beberapa waktu lalu melanda ibukota. Syahdan, beberapa gagasan menyoal penyelasaian masalah tersebut pun tumbuh menjamur bak dagangan. Artinya, ada kecurigaan menyoal pengelolaan kota yang selama ini dan akan dilakukan untuk Jakarta.

Menjadi sebuah masalah memang, ketika urbanisasi sekadar dipandang sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Hal ini terkait dengan usaha masyarakat dunia yang ingin memadati daerah tengah (kota) di negaranya. Sejak 2012, enam puluh persen penghuni Bumi berdiam di kota.

Contohnya ialah Amerika Serikat, 245 juta penduduk berkedudukan di tiga persen perkotaan Amerika Serikat. Begitupun dengan Jepang, 36 juta tinggal di dan sekitar kota Tokyo. Dua belas juta penduduk India tinggal di Mumbai, kurang lebih angka yang sama juga terjadi di Jakarta.

Perkara urbanisasi, sebenarnya adalah usaha menjadi kota. Desa-desa yang bertumbuh dan mulai menjadi kota adalah wujud urbanisasi. Lihat saja pada apa yang terjadi dengan desa-desa di pinggiran Jakarta macam Bekasi dan Tanggerang. Yang sebagian besar masyarakatnya bekerja di tengah kota Jakarta.

Wilayah tersebut sudah sangat menyerupai kota. Jikalau yang disebut kota perkara besaran pendapatan perekonomian, kepadatan penduduk, dan jenis pekerjaannya. Desa didominiasi dengan jenis pekerjaan bercocok tanam, sedangkan kota didominasi dengan pekerjaan yang memiliki unsur surplus penghasilan.

Artinya, masalah di Jakarta terletak pada pertumbuhan fasilitas dan infrastruktur umum yang berjalan lamban. Derasnya sirkulasi perekonomian yang terjadi di Jakarta, memancing hasrat untuk menjadikan arus itu semakin deras. Syahdan, pertumbuhan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan dibanding dengan pertumbuhan taman kota dan lahan terbuka hijau, sarana transportasi umum yang murah lalai direalisasikan.

Jelas, pendekatan pembangunan macam ini berdampak pada keberlangsungan Jakarta. Jakarta makin jadi magnet, semakin besar perekonomiannya, tetapi kualitas hidup warganya menurun. Apabila perekonomiannya terus distimulus, tetapi tidak ada fasilitas umum yang memadai, aman dan nyaman. Akan semakin banyak orang yang berbondong-bondong datang ke Jakarta sekadar mencari uang.

Yang ada bukanlah kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di Jakarta sebagai akibat dari kepadatan tersebut. Kesejahteraan dan kebahagian tentu datang dari tata kota, infrastruktur, dan fasilitas umum yang memang didesain untuk mengatasi perkara kemacetan, kesenjangan, dan kriminalitas. Dan di Jakarta, tidak ada desain menyoal itu!

Hal ini bukan masalah kemampuan. Toh, Gubernur kemarin menjabat merupakan lulusan sekolah luar negeri.Bicara soal kemampuan kiranya tidak diragukan, tapi hal ini bicara soal kemauan.

Kiranya kemauan tersebut mesti dipertanyakan kepada pemerintah kota Jakarta hari ini. Artinya, maukah mereka lebih mengutamakan fasilitas umum ketimbang kepentingan segelintir orang yang ingin lebih kaya. Belakangan yang terjadi, alih-alih menolak merealisasikan proyek jalan tol. Dengan alasan karena proyek tersebut sekadar bicara kepentingan segelintir orang yang ingin lebih kaya.

Nyatanya ada proyek mengatasi banjir dan macet Jakarta dengan membuat saluran bawah tanah (deep tunnel). Yang tak ubahnya menghabiskan dana milyaran rupiah. Meski dicurigai sebagai wujud lain dari bentuk investasi bagi mereka orang yang ingin lebih kaya. Yang pada akhirnya melalaikan kepentingan umum.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *