Dibalik Frekuensi: Hak Publik, Hak Buruh, Independensi

No Comment Yet

 

Tak bisa dibayangkan jika jaman Orba jurnalis memberitakan sisi buruk pemerintah dan para pejabatnya. Pembredelan hingga penangkapan menjadi sebuah keniscayaan bagi mereka yang berani berbuat demikian. Kini, jaman “kebebasan” atau diakrabi dengan istilah reformasi, lain lagi ceritanya. Pemilik medialah yang menggantikan peran orba tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh jurnalis Metro TV Roy Michael dalam acara nonton bareng Film “Dibalik Frekuensi” Jum’at (31/1), bertempat di Komnas Perempuan, Jakarta Pusat.  Dalam acara nonton yang dilanjutkan diskusi itu turut dihadiri oleh Ula selaku produser, Ucu Agustina selaku sutradara, dan tak ketinggalan Luviana, pemeran yang kasusnya menjadi tema utama dalam film dokumenter yang kurang lebih berdurasi dua setengah jam tersebut.

Luviana, seorang mantan jurnalis Metro TV yang dipecat secara semena-mena oleh pihak manejemen Metro TV. Gara-gara ia beserta teman-temannya berinisiatif membuat serikat pekerja. Pengorganisiran dalam wadah serikat pekerja ini didasari atas buruknya manejemen terhadap pekerjanya. Diantaranya ketiadaan penilaian kinerja secara objektif. Sehingga, hal tersebut berakibat terhambatnya jenjang karir dan kenaikan upah para karyawan Metro TV.

Selain itu, Luviana beserta sebagian rekan kerjanya pun resah atas pemberitaan-pemberitaan Metro TV yang tidak melalui prosedur jelas. Luvi, panggilan akrab Luviana melihat acara-acara seperti perhelatan Surya Paloh dengan Partai Nasional Demokrat (NasDem) salah satu diantaranya. “ Dalam run down sudah kita (redaksi) susun, tapi kok pas pelaksanaannya beda. Bohong jika Suryoparonoto (Direktur pemberitaan Metro TV) bilang kepada harian Kompas jika tayangan Nasdem sudah lewat perdebatan di redaksi,” cerita Luvi. Tayangan-tayangan pribadi Surya paloh inilah yang dianggap merampas frekuensi milik masyarakat.

Bukannya mendapat tanggapan yang bijak dari politkus pengusung “Restorasi” tersebut. Luviana beserta kedua temannya Matheus Dwi Hartanto dan Edi Wahyudi malah di PHK sepihak oleh manejemen Metro TV. Syahdan, berangkat atas kasus inilah Ucu Agustina pun tergerak hatinya untuk mengangkat kasus Luviana yang kebetulan sudah ia kenali sebelum kasusnya mencuat. “Ini film bukan by design tapi memang murni karena kasus Luviana,” terangnya.

Dalam  film dokumenternya sendiri Ucu memuat rangkaian perjalanan perjuangan Luviana dalam menuntut keadilan terhadap apa yang menimpa diri dan kawan-kawannya. Segala cara sudah ia tempuh. Bersama dengan kawan-kawannya tersebut yang membentuk Aliansi Sovi dan Aliansi Metro melaporkan Metro TV ke Komisi IX DPR RI, Komnas HAM, Komnas Perempuan, International of Jurnalistists (IFJ). Metro TV pun oleh beberapa lembaga tersebut dinyatakan telah melakukan pelanggaran HAM berat.

Sebelumnya, Luviana berhasil memaksa Surya Paloh untuk berunding. Dalam pertemuan itu Surya Paloh berjanji untuk mempertimbangkan Luviana diterima kembali bekerja di Metro TV, dengan diadakan pertemuan lanjutan. Namun, janji tersebut hanyalah bualan mantan politisi partai Golkar tersebut. Surya selalu menghindar ketika Luviana menagih janji untuk pertemuan lanjutan.

Selain mengangkat sisi perjuangan Luviana, film ini pun memuat sederet fenomena konglomerasi media di Indonesia. Terhitung hanya dua belas pihak yang memiliki ribuan media baik cetak maupun elektronik di Indonesia. Diantarnya adalah Aburizal Bakrie dengan PT Visi Media Asia Tbk tempat TV ONE dan ANTV bernaung. Serta Media Group yang menaungi Metro TV dan Media Indonesia yang dimiliki oleh Surya Paloh. Hal ini menurut Roy sama saja bahwa arus pengetahuan masyarakat Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir pihak, “ fenomena ini sangat berbahaya,” tuturnya.

Akibat adanya konglomerasi ini, yang paling jelas adalah saling serang antara Metro TV dengan TVONE lewat pemberitaannya, terutama menyoal kasus Lumpur Lapindo. Yang sudah sama-sama kita tahu kedua pemilik media tersebut terlibat dalam persaingan politik. Ucu pun melengkapi filmnya dengan kisah Hari Suwandi, seorang korban lumpur Lapindo yang setelah sebelumnya melakukan aksi jalan kaki dari Sidoarjo menuju Jakarta dalam rangka menuntut keadilan. Seolah anti klimaks, ia balik bersikap meminta maaf kepada Aburizal Bakrie.

Meskipun diwarnai sederet kisah yang terjadi dalam panggung media, terutama antara TVONE dan Metro TV. Ucu tetap menampilkan kasus Luviana sebaga sisi utama film dokumenternya. Luviana pun sangat terharu kisahnya diangkat oleh Ucu. Ia pun berharap jika film ini bisa menjadi penyemangat terhadap kawan-kawan jurnalis lain dalam menuntut keadilan. Selain pula menjadi penawar bagi masyarakat yang kadung menganggap media sebagai ruang sakral.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *