Pengekangan melalui Satuan Kredit Semester

No Comment Yet

Mahasiswa Baru Fakultas Bahasa dan Seni UNJ

Kebebasan berkreatifitas dalam dibangku kuliah hanya menjadi isapan jempol belaka

Salah satu syarat untuk mengikuti proses perkuliahan yakni dengan mengisi Kartu Rencana Study (KRS). Di dalamnya terdapat mata kuliah yang harus diikuti oleh mahasiswa. Dalam mata kuliah tersebut terdapat sistem yang bernama Satuan Kredit Semester (SKS) yang menentukan lama waktu perkuliahan suatu mata kuliah.

SKS juga berfungsi sebagai tolok ukur mahasiswa untuk menyelesaikan masa studinya. Di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk menyelesaikan jenjang Strata satu mesti menyelesaikan 144sks. Tiap satu SKS diberi waktu selama 50 menit. Semisal untuk mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran yang termasuk dalam kelompok mata kuliah Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK) diberikan empat SKS yang berarti waktu tatap muka antara dosen dan mahasiswa berlangsung selama 200 menit.

Mengenai pengertian dari SKS sendiri, Eman Surachman mengatakan SKS merupakan jawaban atas permasalahan akan kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan program studinya di perguruan tinggi. “SKS merupakan peluang yang diberikan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan program studi sesuai kapasitasnya masing-masing,” ucap dosen Jurusan Sosiologi tersebut.

Pria bertubuh gempal tersebut menambahkan, bahwa penerapan jumlah SKS pada tiap-tiap mata kuliah disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswanya. “Penentuan jumlah SKS ditentukan melalui perundingan antara dosen dengan pihak jurusan, dan kebutuhan yang besar terhadap materi menjadi faktor jumlah SKS besar,” ujar Eman. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Pembantu Dekan (PD) I Fakultas Ilmu Sosial, Djunaedi, “Penetapan SKS mengacu pada kurikulum nasional yang diterapkan.”

Sistem SKS ini tidak langsung muncul begitu saja. Akan tetapi, sistem SKS ini muncul akibat keresahan pemerintah Orde Baru dengan kegiatan politik mahasiswa di dalam kampus. Untuk meredamnya melalui menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, Soeharto mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus-Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK-BKK) pada 1977. Dari NKK-BKK inilah yang kemudian memunculkan sistem yang sekarang dikenal sebagai SKS dan pembatasan masa studi.

Sistem SKS secara tidak langsung telah menggiring mahasiswa untuk berkonsentrasi kepada ruang kelas. Mekanisme Indeks Prestasi (IP) dan pembatasan masa studi di perguruan tinggi membuat mahasiswa harus lebih serius dalam masa studinya. Jika mahasiswa harus memilih aktif dalam kegiatan ekstra-kulikuler atau memilih studi, maka tentu saja sebagian besar mahasiswa memilih studi.

Ketatnya sistem SKS masih terjadi hingga saat ini. Hal tersebut dirasakan oleh Satria mahasiswa jurusan Tekhik Sipil angkatan 2012. Menurutnya sistem SKS ini menyusahkan terlebih selain harus aktif di kuliah, ia juga harus membagi waktu dengan organisasi yang dijalaninya. “SKS memberatkan bagi mahasiswa yang aktif di organisasi ataupun komunitas,” tutur Satria.

Kegiatannya di Organisasi ataupun komunitas biasanya melakukan Bakti Sosial (Baksos) ke desa-desa. Baksos yang dilakukannya berupa membangun atau memperbaiki masjid dan segala bentuk infrastrukturnya. “Untuk Baksos biasanya kita gabung dengan mahasiswa FT lainnya, dan untuk pendanaan biasanya mencari sponsor karena dana dari kampus minim,” papar Satria.

Kegiatan yang dilakukan oleh Satria dengan komunitas tentu mengganggu waktu perkuliahannya, dan tidak jarang kegiatan dari organisasi harus berbenturan dengan proses perkuliahan. Mahasiswa semester tiga itu pun menyesalkan proses perkuliahan dikelasnya, sehingga ia lebih nyaman berada di organisasi dibandingkan di ruang kelas. “Kesalnya jika ada jadwal kuliah pagi, tapi gak ada dosen. Untungnya ada komunitas jadi bisa nongkrong dari pada balik kerumah,” keluhnya. Produk yang dikeluarkan orde baru semacam SKS ini bukannya menguntungkan mahasiswa, malah lebih mengekang kebebasan mahasiswa dalam mengembangkan potensi yang terdapat dalam mahasiswa itu sendiri.

Aditya Chandra

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *