Atribut MPA Mubazir

2 Comments

“Atribut-atribut tersebut tidak produktif, hanya akan menjadi sampah juga pada akhirnya,” ucap Vegi Januarika, mahasiswa baru Jurusan Bahasa dan Sastra Jepang.

Masa Pengenalan Akademik (MPA) merupakan sebuah ritual tahunan yang wajib diselenggarakan oleh universitas untuk menyambut mahasiswa baru (maba). Seperti dilakukan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pembukaan MPA diselenggarakan pada Senin (19/8), di Gedung Serba Guna kampus B UNJ. Tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peserta MPA, yaitu maba masih mengenakan berbagai atribut yang diwajibkan oleh panitia MPA fakutas.

Tas berwarna ungu serta selempang atau ikat kepala bertuliskan “Pejuang Peradaban” diwajibkan bagi maba Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA). Toga serta selempang berwarna merah muda bagi maba Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), serta papan nama bermacam bentuk mewarnai jalannya pembukaan MPA.

Menurut Sofyan, panitia MPA FBS penggunaan toga merupakan tradisi yang telah berlangsung lama. “Tiap tahun FBS kalau MPA, mabanya diwajibkan menggunakan toga,” ucap mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut. Selain menggunakan toga, mahasiswi baru FBS yang muslim diwajibkan menggunakan kerudung.

Ketika ditanya perihal pemaknaan terhadap atribut MPA, rekan sejawat Sofyan yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa maba FBS harus tampil beda dari maba fakultas lain. “Sudah jadi tradisi tahunan, dan tiap tahunnya sih memang kaya gini. Ingin tampil beda gitu,” tutur pria berkulit agak gelap tersebut. Ia pun juga mengatakan bahwa atribut-atribut yang digunakan merupakan hasil dari rembukan panitia MPA fakultas dan jurusan.

Perihal penggunaan atribut, Pembantu Rektor I Zaenal Rafli juga angkat bicara. Ketika ditemui DIDAKTIKA setelah selesai pembukaan MPA, Zaenal Rafli mengatakan bahwa atribut yang digunakan maba sebagai pemeriah suasana pada MPA. “Biar terlihat beda sih dari yang lain (mahasiswa lama-red). Lagian meriah juga kalau memakai atribut,” ujarnya. Zaenal juga menambahkan bahwa penggunaan atribut dalam MPA juga dapat menambah kreatifitas mahasiswa.

Pernyataan itu senada dengan argumen Fakhrudin Arbah selaku PR III. “Tidak jadi masalah atribut-atribut itu, asalkan itu tidak memalukan dan tidak akan membuat kegaduhan,” papar Fakhrudin.

Pemaknaan akan sebuah atribut MPA bagi kedua petinggi UNJ itu tak lebih dari sekadar pemeriah suasana. Padahal jika dilihat dari namanya, masa pengenalan akademik merupakan masa dimana pihak universitas baik jurusan maupun fakultas menanamkan kultur-kultur akademik. Seperti baca, tulis dan diskusi ke dalam diri maba.

Beragam atribut yang digunakan saat pembukaan MPA seperti toga, tentu berbedadengan atribut yang digunakan saat MPA Fakultas maupun Jurusan. Semisal jurusan Bahasa Jepang yang mewajibkan peserta MPA mengenakan HAKAMA (pakaian luar rumah orang Jepang), ikat Kepala Putih, dll.

Banyaknya atribut yang harus dibawa saat MPA dirasakan oleh Vegi Januarika, maba Jurusan Bahasa Jepang. Menurutnya atribut-atribut tersebut hanya membuat boros keuangannya, terlebih perempuan bermata sipit tersebut merupakan mahasiswa rantau yang berasal dari Belitung.

“Untuk membeli atribut MPA, saya sudah menghabiskan uang kurang lebih 90 ribu, ditambah atribut-atribut tersebut tidak produktif, hanya akan menjadi sampah juga pada akhirnya,”ucap Vegi. Kehidupan yang jauh dari keluarga membuat ia harus memutar otak untuk menghemat uangnya. Perempuan 19 tahun tersebut juga mengatakan bahwa tidak pernah disebutkan oleh panitia MPA maksud atribut-atribut itu.
Selain banyaknya atribut yang harus dibawa, waktu pemberitahuannya pun terkesan mendadak. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu maba FMIPA yang tidak bisa disebutkan namanya karena dilarang pihak panitia fakultasnya. “Pemberitahuannya mendadak waktu H-1, jadi repotlah ngurusinnya,” ungkapnya.

Sangat disayangkan bila pemahaman akan atribut MPA hanya dimaknai sebagai ajang bersuka-ria. Berkaca dari pengalaman Vegi yang telah menghabiskan dana tidak sedikit untuk MPA, sangat riskan jika hanya menganggap atribut MPA hanya dijadikan sebagai pemeriah acara MPA.

Aditya Chandra

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *