Press Release, Tolak Premanisme dalam Dunia Pendidikan

3 Comments

Sekretariat LPM Didaktika pasca aksi perusakan sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Mahasiswa Garis Keras FIK

Selain melakukan pemukulan, oknum mahasiswa FIK mendatangi dan melakukan perusakan Sekretariat LPM Didaktika. Tidak ada korban yang jatuh, karena kami sudah mengungsikan diri. Namun, kami menuntut kepada Rektorat UNJ untuk menindak kasus kekerasan terorganisir yang terjadi di dalam kampus.

Telah terjadi pemukulan terhadap reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Didaktika Universitas Negeri Jakarta (UNJ) oleh oknum mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Kejadian ini berawal dari kedatangan lima orang mahasiswa yang beberapa diantaranya kami kenali sebagai mahasiswa FIK, ke Sekretariat Didaktika, Jumat (23/8). Mereka datang untuk menyampaikan keberatan atas pemberitaan Didaktika.

Sebagai lembaga pers, kami menawarkan penulisan Hak Jawab bagi pihak yang merasa dirugikan, dan segera menerbitkannya pada media LPM Didaktika. Namun, tawaran tersebut mereka tolak, dan dua  oknum malah melakukan tindak pemukulan terhadap salah satu anggota LPM Didaktika.

Pemukulan yang dilakukan berlanjut dengan tindak perusakan Sekretariat LPM Didaktika. Ruangan yang terletak di Gedung G ruang 304 Kampus A UNJ ini diserang oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan diri #MAHASISWA GARIS KERAS FIK, Sabtu (24/8) malam.

Hal ini terjadi setelah LPM Didaktika membatalkan janji pertemuan dengan Pembantu Dekan (PD) III di Kampus B (24/8) dengan alasan tidak ada jaminan keamanan bebas pemukulan lagi dari kampus bagi anggota LPM Didaktika. Menimbang kondisi di Kampus B yang kami anggap tidak kondusif. Pasalnya, mahasiswa FIK memasang beberapa spanduk anti Didaktika dan beredar kabar bahwa mereka akan melakukan tindak perusakan ruang sekretariat kami.

Atas kabar tersebut, dan salah satu anggota LPM Didaktika beberapa kali menerima telepon bernada ancaman yang menyatakan bahwa mahasiswa FIK akan mendatangi Sekretariat LPM Didaktika, kami memutuskan diri untuk mengungsi ke tempat yang dianggap aman. Hingga Sabtu (24/8) malam, kami menerima beberapa kiriman foto yang menampakkan kondisi Sekretariat LPM Didaktika. (Foto terlampir)

Informasi kronologis mengenai tindak perusakan Sekretariat LPM Didaktika tidak bisa kami dapatkan. Sebab, akses informasi ke tempat kejadian terputus. Banyak pihak yang tidak mau memberikan keterangan karena situasi penuh ancaman.

Kami mengecam keras kejadian pemukulan yang berlanjut pada perusakan Sekretariat LPM Didaktika. Sebagai keberatan, kami sudah melaporkan tindak pemukulan anggota LPM Didaktika oleh oknum mahasiswa FIK ke POLRI DAERAH METRO JAYA RESORT JAKARTA TIMUR SEKTOR PULOGADUNG dengan Surat Laporan Tanda Laporan/Pengaduan Nomor 608/K/VIII/2013/Spg.

Kejadian seperti ini merupakan bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan Perguruan Tinggi yang perlu dikecam. Sebab telah menerabas Hak Asasi Manusia. Selain itu, kekerasan ini telah melanggar “Deklarasi Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri/Pemerintah dan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta Seluruh Indonesia: Anti Kekerasan di lingkungan Perguruan Tinggi”, yang ditandatangani pada 15 Oktober 2012.

Deklarasi tersebut  secara tegas menyatakan bahwa Perguruan Tinggi mesti membangun budaya akademik sebagai totalitas nilai dan perilaku kehidupan sivitas akademika. Serta mengecam perilaku kekerasan di lingkungan Perguruan Tinggi sebagai bentuk tindakan tidak bermartabat yang harus dicegah dan ditanggulangi.

Terlebih, UNJ sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) punya tugas mencetak guru-guru di masa depan. Yang akan mendidik anak-anak penerus bangsa. Ditambah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru saja menerapkan Kurikulum 2013 yang mesti jadi pegangan para guru dalam menjalankan tugasnya. Kurikulum yang diklaim banyak menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan kemungkinan tidak bisa dijalankan oleh guru-guru yang justru perilakunya melanggar kemanusiaan itu sendiri. Salah satunya dengan melakukan tindak kekerasan di lingkungan pendidikan.

Dalam kasus perusakan tersebut, pengerahan massa mahasiswa FIK yang notabene merupakan mahasiswa yang berbeda tempat/kampus dengan Sekretariat LPM Didaktika, tampak tidak terlihat upaya pencegahan dari pihak kampus. Rektor UNJ Bedjo Sudjanto juga mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut. Padahal dari lapangan kami diberitahukan bahwa salah seorang pejabat Rektorat bagian kemahasiswaan yang juga berstatus Dosen FIK berada di lapangan pada malam perusakan Sekretariat LPM Didaktika.

Dengan pertimbangan, bahwa pihak Rektorat sendiri tidak mampu menjaga kediaman LPM Didaktika dari aksi perusakan dan pembiaran aksi pemukulan, kami sampai saat ini tidak menginginkan mediasi tanpa persyaratan terhadap jaminan keamanan dan  jaminan posisi Rektorat sebagai penengah. Tidak hanya itu, sejak terjadinya aksi perusakan Sekretariat LPM Didaktika, kampus seperti diselimuti ketakutan akan aksi penyapuan oleh oknum FIK, khususnya kepada mereka yang dicurigai membantu menginformasikan aksi perusakan dan mendukung upaya-upaya LPM Didaktika dalam menuntut pihak Rektorat menindak tegas aksi kekerasan.

Untuk menindaklanjuti kasus ini, kami sudah mengadakan pengaduan kepada Dewan Pers, Rabu 28 Agustus 2013. Pertemuan dengan Dewan Pers dihadiri oleh tujuh anggota Didaktika dan tiga perwakilan dari Forum Pers Mahasiswa Jakarta (FPMJ).

Hasil pertemuan dengan Dewan Pers antara lain:

Dewan Pers menyatakan bahwa LPM Didaktika terlibat konflik hukum dengan adanya pemukulan, perusakan Sekretariat dan intimidasi dengan pelemparan makanan kepada salah satu anggotanya. Dewan Pers akan membuat upaya agar Rektor UNJ angkat suara. Kemudian, LPM Didaktika juga didera konflik Kebebasan Berekspresi. Maka Dewan Pers akan membela LPM Didaktika, sebab:

1. Keberadaan Pers Mahasiswa dilindungi sesuai dengan UU Pers pasal satu.
2. Pemberitaan LPM Didaktika yang dipermasalahkan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) tidak melanggar kode etik pers.

Konklusinya, Dewan Pers akan mengundang Rektorat untuk melakukan mediasi pada Senin, 2 September 2013, jam 11.00, di Gedung Dewan Pers.

Maka, melalui press release ini, kami menyatakan kecaman atas tindak kekerasan yang terjadi di dalam kampus. Dan menuntut kepada Rektor UNJ Bedjo Sujanto untuk segera:

  1. Menolak kekerasan yang ada di Universitas Negeri Jakarta dan dunia pendidikan.
  2. Menjamin keamanan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berorganisasi bagi seluruh sivitas akademika umumnya dan LPM Didaktika khususnya.
  3. Mengusut motif serta pelaku pemukulan terhadap mahasiswa anggota LPM Didaktika dan pelaku perusakan Sekretariat LPM Didaktika.
  4. Rektor UNJ membuat Deklarasi Anti Kekerasan yang diumumkan ke publik.

Demikian press release ini dibuat sebagaimana mestinya dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Jakarta, 28 Agustus 2013

Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ

LAMPIRAN

Foto-foto Sekretariat LPM Didaktika yang dikirim oleh informan, pasca tindak perusakan oleh Mahasiswa Garis Keras FIK (24/8)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bukti-bukti Kronologi Perusakan Sekretariat LPM Didaktika yang dikirim oleh informan melalui Pesan Singkat kepada salah satu anggota LPM Didaktika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu Foto Spanduk Anti Didaktika yang Dipasang di Kampus B

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *