Press Release, Tolak Kekerasan dalam Dunia Pendidikan!

3 Comments

Kami atas nama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Didaktika Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyatakan telah terjadi pemukulan terhadap salah satu anggota LPM Didaktika oleh oknum mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Kejadian tersebut berlangsung pada Jumat, 23 Agustus 2013 sekitar pukul 12.00 di halaman Sekretariat LPM Didaktika, Gedung G Lantai 3 Ruang 304 Kompleks UNJ. Pemukulan terjadi setelah lima orang mahasiswa, yang beberapa diantaranya kami kenali sebagai mahasiswa FIK , datang ke Sekretariat LPM Didaktika untuk menyampaikan keberatan atas pemberitaan dalam buletin Warta MPA 2013 Edisi IV artikel MPA, Riwayatmu Kini, yang terbit pada Kamis, 22 Agustus 2013.

Sebagai lembaga pers, kami menginformasikan kepada mereka bahwa keberatan pada sebuah produk jurnalistik dapat disampaikan melalui Hak Jawab yang dibuat secara tertulis. Melalui Hak Jawab, seseorang, sekelompok orang, organisasi atau badan hukum berhak menanggapi dan menyanggah pemberitaan atau karya jurnalistik yang melanggar Kode Etik Jurnalistik, terutama kekeliruan dan ketidakakuratan fakta, yang merugikan nama baiknya kepada pers yang memublikasikan. Untuk selanjutnya kami berkewajiban untuk menerbitkannya. Namun, tawaran tersebut ditolak kemudian salah satu dari kelima mahasiswa tersebut malah memukuli salah seorang anggota LPM Didaktika di tempat yang sama.

Pemukulan yang dilakukan berlanjut dengan tindak perusakan Sekretariat LPM Didaktika. Ruangan yang terletak di Gedung G Lantai 3 ruang 304 Kampus A UNJ ini diserang oleh sekelompok orang yang meninggalkan identitas #MAHASISWA GARIS KERAS FIK, pada sebuah spanduk yang dipasang di depan pintu Sekretariat LPM Didaktika, Sabtu (24/8) malam.

Hal ini terjadi setelah LPM Didaktika membatalkan janji pertemuan dengan Pembantu Dekan (PD) III FIK di Kampus B (24/8) pukul 09.00 dengan alasan tidak ada jaminan keamanan bebas pemukulan lagi dari kampus bagi anggota LPM Didaktika. Menimbang kondisi di Kampus B yang kami anggap tidak kondusif. Pasalnya, mahasiswa FIK memasang beberapa spanduk anti Didaktika dan beredar kabar bahwa mereka akan melakukan tindak perusakan ruang sekretariat kami.

Atas kabar tersebut, dan salah satu anggota LPM Didaktika menerima pesan singkat bernada ancaman yang menyatakan bahwa mahasiswa FIK akan mendatangi Sekretariat LPM Didaktika, kami memutuskan diri untuk mengungsi ke tempat yang dianggap aman. Hingga Sabtu (24/8) malam, kami menerima beberapa kiriman foto dari informan yang tidak bisa kami sebutkan identitasnya. Foto-foto tersebut menampakkan kondisi Sekretariat LPM Didaktika.

Informasi kronologis mengenai tindak perusakan Sekretariat LPM Didaktika tidak bisa kami dapatkan. Sebab, akses informasi ke tempat kejadian terputus. Banyak pihak yang tidak mau memberikan keterangan karena situasi penuh ancaman.

Kami mengecam kejadian pemukulan yang berlanjut pada perusakan Sekretariat LPM Didaktika. Sebagai keberatan, kami sudah melaporkan tindak pemukulan seorang reporter LPM Didaktika oleh oknum mahasiswa FIK ke POLRI DAERAH METRO JAYA RESORT JAKARTA TIMUR SEKTOR PULOGADUNG dengan Surat Laporan Tanda Laporan/Pengaduan Nomor 608/K/VIII/2013/Spg.

Kejadian seperti ini merupakan bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan Perguruan Tinggi yang perlu dikecam. Sebab telah menerabas Hak Asasi Manusia. Selain itu, kekerasan ini telah melanggar “Deklarasi Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri/Pemerintah dan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta Seluruh Indonesia: Anti Kekerasan di lingkungan Perguruan Tinggi”, yang ditandatangani pada 15 Oktober 2012, dan diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam kasus perusakan tersebut, pengerahan massa mahasiswa FIK yang notabene merupakan mahasiswa yang berbeda tempat/kampus dengan Sekretariat LPM Didaktika, tampak tidak terlihat upaya pencegahan dari pihak kampus. Rektor UNJ Bedjo Sudjanto dalam laman www.republika.co.id artikel berjudul Aktivis Pers UNJ Jadi Korban Kekerasan di Kampus yang dimuat pada Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 20:12 WIB. juga mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut. Padahal dari lapangan kami diberitahukan oleh informan yang tidak bisa disebutkan identitasnya, bahwa salah seorang staf Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan yang juga berstatus Dosen FIK berada di lapangan pada malam perusakan Sekretariat LPM Didaktika.

Dengan pertimbangan, bahwa pihak Rektorat sendiri tidak mampu menjaga kediaman LPM Didaktika dari aksi perusakan dan pembiaran aksi pemukulan, kami sampai saat ini tidak menginginkan mediasi tanpa persyaratan terhadap jaminan keamanan dan  jaminan posisi Rektorat sebagai penengah. Tidak hanya itu, sejak terjadinya aksi perusakan Sekretariat LPM Didaktika, kampus seperti diselimuti ketakutan akan aksi penyapuan oleh oknum FIK, khususnya kepada mereka yang dicurigai membantu menginformasikan aksi perusakan dan mendukung upaya-upaya LPM Didaktika dalam menuntut pihak Rektorat menindak tegas aksi kekerasan.

Untuk menindaklanjuti beberapa tindak kekerasan yang terjadi pada LPM Didaktika, kami mengadukan hal tersebut kepada Dewan Pers melalui pertemuan langsung pada Rabu 28 Agustus 2013. Saat itu, Dewan Pers menyatakan bahwa LPM Didaktika terlibat konflik hukum dengan adanya pemukulan dan perusakan Sekretariat. Kemudian, LPM Didaktika juga didera konflik Kebebasan Berekspresi. Maka, sebagai pembela kemerdekaan pers, Dewan Pers menyatakan pembelaan terhadap kekerasan yang terjadi pada LPM Didaktika sebab:

  1. Keberadaan LPM Didaktika sebagai Pers Mahasiswa dilindungi sesuai dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers pasal satu.
  2. Pemberitaan LPM Didaktika yang dipermasalahkan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) tidak melanggar Kode Etik Jurnalistik.

Maka, melalui press release ini, kami menyatakan kecaman atas tindak kekerasan yang terjadi di dalam kampus. Dan menuntut kepada Rektor UNJ Bedjo Sujanto untuk segera:

  1. Menolak kekerasan yang ada di Universitas Negeri Jakarta dan dunia pendidikan.
  2. Menjamin keamanan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berorganisasi bagi seluruh sivitas akademika umumnya dan anggota LPM Didaktika khususnya.
  3. Mengusut tuntas motif serta pelaku pemukulan terhadap mahasiswa anggota LPM Didaktika dan pelaku perusakan Sekretariat LPM Didaktika.
  4. Rektor UNJ membuat Deklarasi Anti Kekerasan yang diumumkan ke publik.

Melalui  press release ini kami juga ingin menyampaikan beberapa tanggapan atas Hak Jawab yang disampaikan oleh UPT Humas UNJ kepada LPM Didaktika melalui Surat No. 258/20/VIII/2013 tertanggal 29 Agustus 2013, perihal Tanggapan atas Pemberitaan yang Tidak Berimbang.

  1. Pihak kampus menganggap pemukulan yang terjadi kepada salah satu anggota LPM Didaktika oleh oknum mahasiswa FIK didasari atas komplain yang disampaikan mahasiswa FIK terhadap berita yang tidak berimbang dan terkesan memojokkan pihak FIK UNJ, yang dimuat pada laman www.didaktikaunj.com dengan judul artikel Pemukulan Anggota Didaktika oleh Oknum Mahasiswa FIK yang diterbitkan LPM Didaktika. Perlu diketahui bahwa laman tersebut tidak memuat berita melainkan kronologi pemukulan yang sudah terjadi terhadap anggota LPM Didaktika. Dan, mahasiswa FIK tidak melayangkan keberatan atas artikel tersebut sebelumnya melainkan pada artikel MPA, Riwayatmu Kini yang dimuat pada Buletin Warta MPA 2013 Edisi IV yang terbit pada Kamis, 22 Agustus 2013. Selain itu, identitas laman yang dipermasalahkan oleh kampus juga tidak jelas, sebab tidak dilengkapi tanggal dan waktu akses.
  2. Laman www.didaktikaunj.com dengan artikel Pemukulan Anggota Didaktika oleh Oknum Mahasiswa FIK yang terbit pada Sabtu, 24 Agustus 2013 tidak memuat salah paham antara mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) dengan mahasiswa FIK yang berujung adanya tindak kekerasan. Juga tidak terdapat pernyataan yang dikutip dalam poin kedua  Hak Jawab yang dibuat oleh UPT Humas UNJ yaitu, “seorang mahasiswa dari salah satu fakultas dipukul oleh mahasiswa fakultas lain. Pemukulan karena mahasiswa itu menertawakan soal perploncoan yang dilakukan.”
  3. Beberapa mahasiswa FIK mendatangi Sekretariat LPM Didaktika untuk melayangkan keberatan atas pemberitaan artikel MPA, Riwayatmu Kini yang dimuat pada Buletin Warta MPA 2013 Edisi IV yang terbit pada Kamis, 22 Agustus 2013, bukan terkait pemukulan yang terjadi antara mahasiswa FE dengan mahasiswa FIK.
  4. Artikel MPA, Riwayatmu Kini yang dimuat pada Buletin Warta MPA 2013 Edisi IV yang terbit pada Kamis, 22 Januari 2013, sama sekali tidak memuat adanya pemukulan antara mahasiswa FE dengan mahasiswa FIK.
  5. Pada poin lima Hak Jawab yang dibuat oleh UPT Humas UNJ, dikatakan pada musyawarah awal yang melibatkan Kepala Bagian Kemahasiswaan UNJ dan salah satu Staf Pembantu Rektor Bidang kemahasiswaan LPM Didaktika sama sekali tidak menyinggung adanya pengeroyokan terhadap reporternya sehingga Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Staf Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan tidak tahu menahu mengenai adanya tindak kekerasan atau pengeroyokan. Hal tersebut benar adanya, sebab, dalam dialog tersebut, suasana penuh intimidasi kepada LPM Didaktika tercipta. Sehingga kami tidak sempat menyampaikan perihal kekerasan. Namun, pascadialog tersebut, di perjalanan menuju pintu keluar Gedung Rektorat, kami telah menyampaikan tindak kekerasan tersebut kepada Kepala Bagian Kemahasiswaan. Ia menyatakan bahwa bila terjadi kekerasan lagi terhadap anggota LPM Didaktika, kami tidak perlu melawan, cukup lakukan visum atas pemukulan dan menyerahkannya kepada Kepala Bagian Kemahasiswaan. Ia akan menyelesaikannya secara pribadi. Hal ini tentu menunjukkan bahwa tidak ada upaya penyelesaian masalah secara struktural dari kampus. Dan tindak pemukulan yang sudah terjadi, dibiarkan menguap begitu saja.
  6. Pada poin enam Hak Jawab yang dibuat oleh UPT Humas UNJ, disebutkan ketidakhadiran LPM Didaktika pada pertemuan Sabtu 24 Agustus 2013 di Kampus B UNJ telah menyebabkan keributan di Sekretariat LPM Didaktika malam harinya. Benar bahwa tidak satupun anggota LPM Didaktika yang berada di Sekretariat malam itu, maka dapat dikatakan yang terjadi bukanlah keributan, karena merujuk pada keberadaan dua belah pihak melainkan yang terjadi adalah penyerangan dan perusakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meninggalkan identitas Mahasiswa Garis Keras FIK. Ketidakhadiran LPM Didaktika pada pertemuan Sabtu 24 Agustus 2013 di Kampus B UNJ didasari atas tidak adanya jaminan keamanan bagi anggota LPM Didaktika mengingat menurut beberapa informasi yang kami terima, yang tidak dapat disampaikan identitasnya, situasi di Kampus B tidak kondusif terpasang beberapa spanduk anti DIdaktika dan beredar kabar ancaman bagi anggota LPM Didaktika. Selain itu, lokasi pertemuan di Kampus B dianggap tidak netral. Sebab secara struktural, kantor Rektorat berada di Kampus A UNJ. Dengan ini muncul indikasi bahwa kampus tidak mengambil posisi sebagai penengah.
  7. Pada poin tujuh Hak Jawab yang dibuat UPT Humas UNJ, disebutkan keberatan atas pernyataan Pemimpin Umum LPM Didaktika Satriono Priyo Utomo, “penulis kami dipukul. Beberapa teman Didaktika lain mengalami penguncian.” Tetapi, di dalam keberatan tersebut tidak disebutkan media yang memuatnya. Bila pernyataan tersebut didapat dari media lain, maka hal tersebut bukan merupakan tanggung jawab kami. Akan tepat bila keberatan dilayangkan pada media yang memuat berita dengan pernyataan tersebut.
  8. Dalam poin ke tujuh  Hak Jawab yang dibuat UPT Humas UNJ pula, kampus melakukan penilaian terhadap peristiwa pemukulan yang terjadi pada anggota LPM Didaktika. Disana tertulis, “Sama sekali tidak terjadi pemukulan dan penguncian terhadap mahasiswa Didaktika.” Hal ini menunjukkan adanya kontradiksi dengan pernyataan Rektor UNJ Bedjo Sujanto pada laman www.republika.co.id artikel berjudul Aktivis Pers UNJ Jadi Korban Kekerasan di Kampus yang dimuat pada Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 20:12 WIB. “Saya baru menegur teman-teman Didaktika kenapa tidak lapor ke rektor, saya akan ingatkan Pembina Didaktika, kenapa ada masalah seperti ini saya tidak diberitahu. Besok akan saya panggil Dekan FIK dan Pembina Didaktika,” kata Bedjo dilansir dari www.republika.co.id dalam artikel Aktivis Pers UNJ Jadi Korban Kekerasan di Kampus.

Dari beberapa poin yang disampaikan di atas nampak kecendrungan bahwa Rektorat tidak menanggapi persoalan kekerasan yang terjadi pada institusi yang dimpimpinnya. Dalam hal ini, yang terjadi pada anggota LPM Didaktika. Seperti nampak pada kasus pemukulan yang dibiarkan serta penyerangan dan perusakan Sekretariat LPM Didaktika Sabtu, 24 Agustus 2013 malam hari dimana di tempat kejadian salah seorang Staf Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan yang juga berstatus Dosen FIK berada disana dan mengetahui kejadian tersebut.

Hal ini juga menunjukkan bahwa terdapat kekerasan yang disistematisasikan oleh kampus dengan menggunakan salah satu pihak mahasiswa untuk menindak mahasiswa lain. Kami, sesama mahasiswa cenderung menjadi korban dari arogansi kampus.

Khususnya terhadap FIK, kampus telah melakukan pengkerdilan terhadap mahasiswanya sendiri. Melalui pernyataan beberapa pihak rektorat, mereka dicitrakan sebagai mahasiswa yang hanya bisa menggunakan otot ketimbang otak. Hingga hal ini merasuk dalam benak mahasiswa FIK dan cenderung menjadi budaya. Padahal, hal ini tidak benar adanya, rekam jejak mahasiswa FIK menunjukkan bahwa mereka andal dalam olah fisik secara intelektual.

Demikian Press Release ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan mengajak pada segenap sivitas akademika untuk menolak kekerasan dalam dunia pendidikan.

Jakarta, 2 September 2013

Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *