Press Release, Sanggahan terhadap Hak Jawab UNJ

851 Comments

Kami Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Didaktika Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sangat menyayangkan upaya-upaya Rektorat UNJ memungkiri adanya tindak kekerasan yang terjadi dalam kampus. Upaya memungkiri itu, paling tidak kami tangkap dalam Hak Jawab yang dibuat oleh kampus dan dikirim ke berbagai media nasional dan LPM Didaktika sendiri.

Untuk itu, melalui press release kami bermaksud untuk memberikan sanggahan terhadap Hak Jawab yang disampaikan oleh UPT Humas UNJ kepada LPM Didaktika dan media-media nasional melalui Surat No. 258/20/VIII/2013 tertanggal 29 Agustus 2013, perihal Tanggapan atas Pemberitaan yang Tidak Berimbang.

  1. Pihak kampus menganggap pemukulan yang terjadi kepada salah satu anggota LPM Didaktika oleh oknum mahasiswa FIK didasari atas komplain yang disampaikan mahasiswa FIK terhadap berita yang tidak berimbang dan terkesan memojokkan pihak FIK UNJ, yang dimuat pada laman www.didaktikaunj.com dengan judul artikel Pemukulan Anggota Didaktika oleh Oknum Mahasiswa FIK yang diterbitkan LPM Didaktika. Perlu diketahui bahwa laman tersebut tidak memuat berita melainkan kronologi pemukulan yang sudah terjadi terhadap anggota LPM Didaktika. Dan, mahasiswa FIK tidak melayangkan keberatan atas artikel tersebut sebelumnya melainkan pada artikel MPA, Riwayatmu Kini yang dimuat pada Buletin Warta MPA 2013 Edisi IV yang terbit pada Kamis, 22 Agustus 2013. Selain itu, identitas laman yang dipermasalahkan oleh kampus juga tidak jelas, sebab tidak dilengkapi tanggal dan waktu akses.
  2. Laman www.didaktikaunj.com dengan artikel Pemukulan Anggota Didaktika oleh Oknum Mahasiswa FIK yang terbit pada Sabtu, 24 Agustus 2013 tidak memuat salah paham antara mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) dengan mahasiswa FIK yang berujung adanya tindak kekerasan. Juga tidak terdapat pernyataan yang dikutip dalam poin kedua  Hak Jawab yang dibuat oleh UPT Humas UNJ yaitu, “seorang mahasiswa dari salah satu fakultas dipukul oleh mahasiswa fakultas lain. Pemukulan karena mahasiswa itu menertawakan soal perploncoan yang dilakukan.”
  3. Beberapa mahasiswa FIK mendatangi Sekretariat LPM Didaktika untuk melayangkan keberatan atas pemberitaan artikel MPA, Riwayatmu Kini yang dimuat pada Buletin Warta MPA 2013 Edisi IV yang terbit pada Kamis, 22 Agustus 2013, bukan terkait pemukulan yang terjadi antara mahasiswa FE dengan mahasiswa FIK.
  4. Artikel MPA, Riwayatmu Kini yang dimuat pada Buletin Warta MPA 2013 Edisi IV yang terbit pada Kamis, 22 Januari 2013, sama sekali tidak memuat adanya pemukulan antara mahasiswa FE dengan mahasiswa FIK.
  5. Pada poin lima Hak Jawab yang dibuat oleh UPT Humas UNJ, dikatakan pada musyawarah awal yang melibatkan Kepala Bagian Kemahasiswaan UNJ dan salah satu Staf Pembantu Rektor Bidang kemahasiswaan LPM Didaktika sama sekali tidak menyinggung adanya pengeroyokan terhadap reporternya sehingga Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Staf Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan tidak tahu menahu mengenai adanya tindak kekerasan atau pengeroyokan. Hal tersebut benar adanya, sebab, dalam dialog tersebut, suasana penuh intimidasi kepada LPM Didaktika tercipta. Sehingga kami tidak sempat menyampaikan perihal kekerasan. Namun, pascadialog tersebut, di perjalanan menuju pintu keluar Gedung Rektorat, kami telah menyampaikan tindak kekerasan tersebut kepada Kepala Bagian Kemahasiswaan. Ia menyatakan bahwa bila terjadi kekerasan lagi terhadap anggota LPM Didaktika, kami tidak perlu melawan, cukup lakukan visum atas pemukulan dan menyerahkannya kepada Kepala Bagian Kemahasiswaan. Ia akan menyelesaikannya secara pribadi. Hal ini tentu menunjukkan bahwa tidak ada upaya penyelesaian masalah secara struktural dari kampus. Dan tindak pemukulan yang sudah terjadi, dibiarkan menguap begitu saja.
  6. Pada poin enam Hak Jawab yang dibuat oleh UPT Humas UNJ, disebutkan ketidakhadiran LPM Didaktika pada pertemuan Sabtu 24 Agustus 2013 di Kampus B UNJ telah menyebabkan keributan di Sekretariat LPM Didaktika malam harinya. Benar bahwa tidak satupun anggota LPM Didaktika yang berada di Sekretariat malam itu, maka dapat dikatakan yang terjadi bukanlah keributan, karena merujuk pada keberadaan dua belah pihak melainkan yang terjadi adalah penyerangan dan perusakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang meninggalkan identitas Mahasiswa Garis Keras FIK. Ketidakhadiran LPM Didaktika pada pertemuan Sabtu 24 Agustus 2013 di Kampus B UNJ didasari atas tidak adanya jaminan keamanan bagi anggota LPM Didaktika mengingat menurut beberapa informasi yang kami terima, yang tidak dapat disampaikan identitasnya, situasi di Kampus B tidak kondusif terpasang beberapa spanduk anti DIdaktika dan beredar kabar ancaman bagi anggota LPM Didaktika. Selain itu, lokasi pertemuan di Kampus B dianggap tidak netral. Sebab secara struktural, kantor Rektorat berada di Kampus A UNJ. Dengan ini muncul indikasi bahwa kampus tidak mengambil posisi sebagai penengah.
  7. Pada poin tujuh Hak Jawab yang dibuat UPT Humas UNJ, disebutkan keberatan atas pernyataan Pemimpin Umum LPM Didaktika Satriono Priyo Utomo, “penulis kami dipukul. Beberapa teman Didaktika lain mengalami penguncian.” Tetapi, di dalam keberatan tersebut tidak disebutkan media yang memuatnya. Bila pernyataan tersebut didapat dari media lain, maka hal tersebut bukan merupakan tanggung jawab kami. Akan tepat bila keberatan dilayangkan pada media yang memuat berita dengan pernyataan tersebut.
  8. Dalam poin ke tujuh  Hak Jawab yang dibuat UPT Humas UNJ pula, kampus melakukan penilaian terhadap peristiwa pemukulan yang terjadi pada anggota LPM Didaktika. Disana tertulis, “Sama sekali tidak terjadi pemukulan dan penguncian terhadap mahasiswa Didaktika.” Hal ini menunjukkan adanya kontradiksi dengan pernyataan Rektor UNJ Bedjo Sujanto pada laman www.republika.co.id artikel berjudul Aktivis Pers UNJ Jadi Korban Kekerasan di Kampus yang dimuat pada Minggu, 25 Agustus 2013 pukul 20:12 WIB. “Saya baru menegur teman-teman Didaktika kenapa tidak lapor ke rektor, saya akan ingatkan Pembina Didaktika, kenapa ada masalah seperti ini saya tidak diberitahu. Besok akan saya panggil Dekan FIK dan Pembina Didaktika,” kata Bedjo dilansir dari www.republika.co.id dalam artikel Aktivis Pers UNJ Jadi Korban Kekerasan di Kampus.

Dari beberapa poin yang disampaikan di atas nampak kecendrungan bahwa Rektorat tidak menanggapi persoalan kekerasan yang terjadi pada institusi yang dimpimpinnya. Dalam hal ini, yang terjadi pada anggota LPM Didaktika. Seperti nampak pada kasus pemukulan yang dibiarkan serta penyerangan dan perusakan Sekretariat LPM Didaktika Sabtu, 24 Agustus 2013 malam hari dimana di tempat kejadian salah seorang Staf Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan yang juga berstatus Dosen FIK berada disana dan mengetahui kejadian tersebut.

Demikian sanggahan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan mengajak pada seluruh masyarakat Indonesia untuk menolak kekerasan di dunia pendidikan.

Jakarta, 5 September 2013

Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *