Surat dari Desa

1 Comment

Kepada yang terhormat, penghuni kota. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan. Guna menjalani aktifitas sehari-hari yang kalian sendiri sulit untuk mengerti.

Kota, kami sudah membaca surat balasanmu sampai habis. Sehabis-habisnya, seperti pada paragraf pembuka surat, dimana kamu merasa risih. Kamu pulangkan penduduk kami kembali.  Apa alasanmu?

Membongkar lapak-lapak pedagang di setiap pinggir stasiun. Sepanjang stasiun Jakarta Kota sampai Bekasi, dari stasiun Tanah Abang hingga Tangerang, dan stasiun Manggarai menuju Bogor. Stasiun Gambir yang kami kenal bersahaja pun, penduduk kami kamu singkirkan!

Seleramu membesar, kau rubah lapak itu menjadi kios makan dengan gayamu.  Kota, tahukah kamu? Saat kami membaca tulisanmu. Penduduk kami yang juga kau pukuli melalui aparatus represif mu itu dendam denganmu.

Mohon maaf kota, tapi kami coba mewarta yang sesungguhnya. Hari pertama mereka kembali, meluap kesal. Televisimu terus-terusan menghasut amarahnya agar kembali kesana.

Kota, enam puluh persen di antara kami sudah memiliki televisi. Beberapa penduduk menaruhnya di warung-warung, tempat biasa kami berinteraksi. Sembari minum kopi, selepas kami bertani.

Melalui televisi, penduduk tidak hanya mengetahui perang di Suriah, pertandingan kualifikasi piala dunia Portugal melawan Swedia, dan tayangan kampanye bupati. Iklan alat komunikas HP pun menjadi-jadi. Aparat desa pun kini memilikinya, demikian juga para pedagang pemilik toko dan para remaja.

Televisimu tidak sedikit pengaruhnya terhadap kehidupan dan penghidupan penduduk kami. Kami ingat betul kala revolusi hijau bergeliat disini, televisi telah mempercepat perubahan pola konsumsi kami. Syahdan, kebutuhan akan uang tunai disini cepat sekali meningkat.

Kau selalu menebar kemapanan buatanmu: real estate, gadget, mobil sedan. Kau citrakan itu sebagai kekayaan. Asal kamu tahu kota, disini kekayaan tidak ditentukan dengan itu semua. Melainkan luas sawah yang dipunya. Berapa banyak sedanmu disini tidak bernilai kekayaan sama sekali. Kamu marah? Semoga tidak.

Mestinya kami yang marah. Susu peras dan beras, kamu kembalikan ke kami menjadi kemasan.  Hingga disini kami menyebutnya nestle.

***

Kota, penduduk yang kamu pulangkan seringkali terlibat arisan gabah.

Aturan main arisan gabah sama dengan arisan milikmu. Biasanya penentuan orang yang akan mendapatkan giliran pembagian dan penampungan gabah tersebut diadakan pada setiap musim panen padi. Peserta arisan gabah disini mengumpulkan gabah seberat satu kuintal pada saat dilakukan ngocok.

Pesertanya adalah bekas pendudukmu yang disini kami sebut mlarat. Sekalinya punya petak sawah, hanya masuk kelas tiga, jauh dari irigrasi. Sisanya jadi penggarap musiman sawah kelas satu.

Keberadaan arisan gabah di kalangan petani kecil-kecilan ini terkait banyak hal. Salah satu sebabnya, menghadapi kian tingginya nilai tanah garapan. Mereka tidak hanya berhadapan dengan sistem sewa tunai yang dibayar di muka. Tetapi mesti bersiasat dengan kian majunya tenggang pembayaran sewa. Beberapa tahun ke belakang, masih mungkin memasuki kontrak sewa seminggu sebelum musim tanam rendengan dimulai. Sekarang, sehabis panen musim tanam sadhon, mereka bekas pendudukmu mesti langsung membayar sewa.

Tentu hal ini punya pengaruh terhadap tingginya pasar tanah garapan disini. Sebelum musim tanam rendheng dimulai, pemilik tanah menagih uang sewa semusim. Akibatnya, para penyewa membutuhkan banyak uang tunai di akhir panen sadhon untuk membayar sewa tanahnya. Panen pun dijual, alhasil cadangan gabah untuk keperluan rumah tangga menurun. Guna menutupi defisit, arisan gabah menjadi solusi yang masuk akal.

Disini, arisan gabah adalah milik mereka petani kecil. Dimana lahan pun mereka dapat dengan menyewa. Beda dengan petani besar, cadangan gabahnya bisa untuk melalui musim-musim dalam setahun.

Kota, arisan gabah disini gunanya untuk bertahan hidup. Tidak sepertimu dengan kelas menengahmu!

***

Setelah usainya panen musim tanam sadhon, kami menanam sawah dengan tanaman yang kamu suka, Kota. Macam kacang kedelai, kacang panjang, timun, dan singkong. Hal ini kami lakukan tidak lebih untuk menambah penghasilan dari sawah. Kadang kami lakukan sendiri, kadang pula kami bagi hasil. Tapi yang jelas, bekas pendudukmu yaitu penggarap. Tetap mengerahkan semua tenaga untuk kerja-kerja pemeliharaannya. Hasilnya dibagi antara pemilik sawah dan penggarap.

Hasil ini biasanya tidak begitu besar, Kota. Makanya kamu sendiri sering angkuh melakukan impor kedelai. Kami disini dipaksa membeli dan memakannya. Meski dengan berhutang.

Hasil yang sedikit tersebut tidak lebih karena curah hujan.

Selain sebagai sumber tambahan penghasilan, penanaman palawija selama masa sela disini. Berguna untuk menghasilkan bahan pangan pengganti beras bila kami mengalami gagal panen atau harga beras melambung tinggi. Karena itu, bagi rumah tangga miskin disini, saat memasuki akhir panen musim sadhon, bahan pangan selain beras disimpan sebagai cadangan pangan.

Sedangkan simpanan beras, justru dijual untuk memenuhi kebutuhan uang tunai guna membayar sewa lahan dan keperluan tunai lainnya. Dengan begitu, meski kami disini berpegang paham pada semboyan, nek durung mangan sega, ya durung mangan. Karena beras sudah menjadi identitas kami. Namun rumah tangga miskin tetap saja hanya makan singkong.

Dan tahukah kamu, Kota. Melalui surat ini kami sampaikan, meski beras yang kamu makan disana kami yang tanam. Kami disini justru makan dengan membeli apa yang kami tanam.

Sepanjang kali Serayu, dari balik kuda besi Jakarta menuju Kutoarjo. Kami berucap: salam sayang, Desa.

Satriono Priyo Utomo

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *