Curanmor Merajalela di Kampus

362 Comments

Dalam waktu kurang dari sebulan, lima unit motor hilang di area parkir. Kinerja pengelola parkir dipertanyakan.

Akhir-akhir ini tempat parkir motor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sedang dilanda berbagai kasus kehilangan, baik helm maupun motor. Tepat pada Kamis (26/9), telah terjadi pencurian helm di Gedung Parkir, yang pelakunya berhasil tertangkap  oleh petugas keamanan kampus dan para petugas parkir. “Di sini (Gedung Parkir-Red) memang sudah diintai karena terlihat mencurigakan. Ketika masuk tas mereka kosong, namun ketika keluar sudah penuh. Anehnya lagi mereka ambil helem disini tapi parkir motornya di parkiran belakang,” jelas Herun, penjaga Gedung Parkir.

Kasus pencurian helm memang tengah marak terjadi di UNJ. “Kalau kehilangan helm di sini sudah sering sekali, modus pelakunya juga pintar-pintar. Meraka suami isteri, jadi suaminya yang beroperasi, isterinya yang memantau keadaan.  Ada juga yang menaruh motornya di lantai 4, ambil helmnya di lantai 2,banyak deh strategi mereka.” paparnya.

Tidak berhenti sampai di sana, hanya dalam hitungan hari kasus pencurian kembali terjadi di  UNJ. Seperti yang diungkapkan Wahyudin Ketua Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam Eka Citra yang juga telah kehilangan motor Yamaha Mionya (30/9). “Akhir-akhir ini sudah ada 5 motor yang hilang, anak Eka Citra dua, anak Seni Rupadan satu anak Sigma TV,”  ungkapnya saat ditemui Didaktika Selasa (8/10).

Menurut keterangan Wahyudin, motornya memasuki kampus sekitar Jam 5 sore.  Saat malam hari, ia menggunakan motornya untuk membeli makanan di luar kampus, dan kembali memasuki kampus pukul 23.00. Namun keesokan paginya, Mio berwarna hitam itu telah tiada. “Saya sudah lihat di CCTV, motornya itu hilang pukul 04.56.  Di sana terlihat tidak ada petugas keamanan yang menjaga dan kondisi pintu gerbang pun tidak terkunci,” ujar Wahyudin.

Serangkaian kehilangan motor nyatanya kurang ditanggapi serius oleh petugas keamanan kampus. Mufti, anggota UKM sigma TV yang kehilangan motornya di UNJ pada Sabtu (7/9), justru mendapat perlakuan yang kurang adil. Ia yang mengambil inisiatif untuk melapor ke polisi, malah mendapat gugatan kembali.

“Ya aneh saja, saya yang kehilangan tapi saya juga yang dilaporin. Akhirnya saya tanggapi saja,” papar Mufti. Salah satu petugas keamanan UNJ menggugatnya dengan tuduhan pencemaran nama baik. Mufti tak gentar untuk melaporkan kehilangannya ke Polres Pulo Gadung sebab ia masih memegang karcis parkir UNJ dan STNK motornya. Buat Mufti, mestinya beberapa barang tersebut cukup untuk dijadikan bukti dalam menuntut tanggung jawab kampus.

Menanggapi kejadian pencurian yang terus terjadi, Bambang Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Keamanan UNJ menyayangkan jumlah petugas keamanan yang minim di UNJ.  “Idealnya 160, namun UNJ hanya memiliki 56 petugas,” ujarnya. Sedangkan di kampus A sendiri hanya memiliki sekitar 20 petugas keamanan. Terlebih jika malam hari petugas keamanan di kampus A hanya berjumlah 8 petugas.

Tidak lengkapanya fasilitas Pos Keamanan turut dijadikan alasan. “Itu  kejadiannya rata-rata jam lima pagi, jadi mungkin saja petugasnya sedang sholat, atau ke kamar mandi. Kan di pos tidak tersedia fasilitas untuk itu,” jelasnya.

Hal itu mendapat kritikan oleh Mufti “Kalau kinerja petugas keamanannya memang bagus, ya tidak akan terjadi seperti ini. Saya pernah lihat, jam 1 malam petugas yang di gerbang depan bukannya jaga malah main kartu.”ungkapnya.

Tsalis Sakinah

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *