Menelisik Kasus Penonaktifan Dosen

No Comment Yet

Seorang dosen sastra menulis opini di koran nasional perihal sistem pendidikan pascasarjana yang sarat nepotisme. Mungkin merasa tersindir, pihak pascasarjana UNJ memanggilnya. Ia pun dinonaktifkan sebagai dosen, tanpa kabar, tanpa legalitas tertulis.

Dalam Rubrik opini di harian Kompas (2/7), Saifur Rohman, Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menulis tentang sistem pembelajaran di pascasarjana salah satu Universitas Negeri di Indonesia. Dalam tulisan yang berjudul “Gelar Doktor Hermafrodit”, ia memaparkan bahwa ada sejumlah pejabat kampus yang mendapat perlakuan istimewa saat berkuliah di kampus tempatnya menjabat. Kebanyakan mereka, menyelesaikan studi dalam waktu singkat, cenderung tidak wajar. Saifur mencontohkan, seorang rektor dapat menyelesaikan studi doktoral hanya dalam 1 tahun 6 bulan.

Saifur menduga, sudah terjadi kecurangan dalam praktik pendidikan. Karena untuk menempuh gelar doktor harus melalui berbagai tahap. Sebuah pendidikan doktor yang wajar ditempuh dalam waktu tiga tahun. Bisa saja dipercepat melalui penyingkatan waktu penelitian dan keputusan senat dewan penguji, tetapi hal itu tidak bisa kurang dari dua semester penuh, kecuali masing-masing tahapan dilakukan tiap minggu. (Kompas, 2/7)

Opini tersebut mendapat reaksi dari Pascasarjana UNJ. Pada 9 Juli 2013, Saifur mengaku mendapat telepon dari atasan terkait tulisannya. Ia diminta segera menghadap ke Direktur Pascasarjana Djaali sehubungan dengan tulisan tersebut. Akan tetapi hal tersebut tidak ditanggapinya. Sebab, buat Saifur, Direktur atau siapapun boleh mengkritik opini tertulisnya dengan tulisan pula. “Saya bilang ke mereka (pejabat pascasarjana) jawablah tulisan saya di Kompas,” ujar Saifur.

Dua hari kemudian, Saifur dihubungi melalui telepon untuk yang kedua kalinya agar segera menghadap Djaali. Tulisannya malah dituduh tidak berdasarkan fakta dan ia diminta segera meralatnya. Tapi ia kembali menolak. Hingga lima hari berikutnya, opini Saifur yang termuat di Kompas sudah tertempel di majalah dinding di seluruh lingkungan UNJ.

Saifur mengatakan, sudah sejak 2011 ia menjadi dosen Pascasarjana UNJ. Untuk tahun ini, Program Pendidikan Bahasa Pascasarjana pun telah menetapkannya sebagai pengajar, tepatnya sejak 25 Agustus. Namun, pada 1 September, ia diberitahu oleh Sekretaris Program Bahasa Zuriyati bahwa namanya sudah dicoret, tak lagi ada di jajaran pengajar.

Ia pun tak tinggal diam, segera saja Saifur meminta penjelasan dari Program Bahasa. “Mereka mengatakan sudah mengusulkan pengajaran dan pembimbingan. Tapi begitu ada di meja Direktur, namaku hilang,” tuturnya. “Mereka langsung mengganti namaku dengan nama lainnya.”

Mengetahui hal tersebut, Saifur ambil langkah pasti. Ia menanyakan kebenaran kabar tersebut pada Direktur Pascasarjana Djaali. Namun, ia tak mendapat jawaban memuaskan. Menurutnya, Djaali seakan lepas tangan. “Saya (Djaali, Direktur Pascasarjana) tidak terlibat perihal itu,” ucap Saifur menirukan kata-kata Djaali.

Semua Angkat Tangan

Sebagai Ketua Program Bahasa, Emzir mengaku tidak tahu sama sekali mengenai persoalan hilangnya nama Saifur sebagai pengajar di Pascasarjana. Karena ihwal pengangkatan maupun pemberhentian dosen bukan ranah kerjanya. “Lebih baik tanyakan langsung ke Pak Djaali, karena dia yang menentukan langsung,” kata Emzir. “Setahu saya Saifur memang tidak ada jadwal mengajar disini semester ini.”

Begitupun dengan Zuriyati. Ia yang awalnya memberi tahu pada Saifur perihal penonaktifannya sebagai pengajar pun mengelak. “Saya tidak tahu banyak kasusnya. Saya ingin mencari tahu inti masalahnya,” ucap Zuriyati.

Ungkapan serupa juga datang dari Asisten Direktur I Pascasarjana Mulyono Abdurrahman. Saat ditemui Didaktika, ia mengaku tak tahu menahu soal tersebut. Bahkan opini yang ditulis Saifur pun ia tak pernah membaca. “Saya langganan Kompas tiap hari tapi kok tidak baca tulisan itu ya, mungkin terlewat,” katanya.

Persoalan yang mendera Saifur cenderung mudah dikaburkan. Menurut Saifur, secara formal ia memang tidak diberhentikan karena memang tak ada surat resmi mengenai itu. Tapi tidak pula diberi tugas mengajar dan membimbing mahasiswa Pascasarjana lagi. “Saya tidak diberi surat pemberhentian. Saya minta itu, tapi Direktur lepas tangan,” jelasnya.

Meski nampak buram, kasus yang mendera Saifur mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Sri Suhita Pembantu Dekan III Fakultas Bahasa dan Seni yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia menghimpun mahasiswa untuk melakukan aksi solidaritas mendukung Saifur.

Namun, saat ditanya perihal kasus yang menimpa Saifur ia sendiri mengaku tidak mengetahui kasus tersebut. “Saya tidak tahu kejadian jelasnya bagaimana, hal itu hanya bisa terjadi atas keputusan Direktur dengan Sekretaris Pascasarjana,” ujar Sri Suhita.

Segala pernyataan mengenai kasus yang menimpa Saifur memang mengarah kepada Djaali sebagai penanggung jawab dan satu-satunya orang yang mafhum atasnya. Sayangnya, hingga kini Djaali tak dapat ditemui. Padahal Didaktika sudah berulang kali menghubunginya.

Aditya Chandra

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *