Memahami Cinta Melalui Surat

1 Comment

Judul Buku             : Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya

Penulis                   : Dewi Kharisma Michellia

Penerbit                : PT Gramedia Pustaka Utama- Jakarta, 2013

 

Surat panjang itu akhirnya terkirim. Seseorang berbaik hati untuk mengirimkannya kepada dia, si Tuan Alien. Sebanyak 37 buah surat yang ditulis oleh tokoh “aku” untuk seorang sahabat terkasihnya. Dengan dikirimnya surat itu, menjadi sebuah awal sebuah rangkaian cerita yang ditulis dalam novel berjudul “Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Juataan Tahun Cahaya,” karya Dewi Kharisma Michellia. Sebuah novel yang ditulis dalam bentuk surat- surat dan membentuk sebuah rangkain cerita. Uniknya, novel garapan seorang aktivis lembaga pers kampus ini tak pernah menyebutkan nama dari setiap tokoh dalam cerita. Ia sengaja membiarkan para tokohnya  tak bernama hingga dia akhir cerita.

Kisahnya berawal dari sebuah surat undangan pernikahan yang ditunjukan seorang sahabat kecil untuk nya. Tuan Alien. Sebuah sebutan yang ia sematkan kepadanya. Bukan tanpa sebab, sebutan itu sengaja dipilih karena menjadi representasi karakternya.  Sejak dibangku sekolah dasar mereka selalu menghabiskan waktu berdua saja dan beranggapan bahwa kehadirannya di muka bumi adalah sebuah kesalahan. Sejoli ini sependapat bahwa mereka adalah sosok alien yang tengah tersesat diantara jutaan manusia.

Ditengah keterasingannya pada dunia, mereka pun memutuskan untuk terus menjalani hidup bersama- sama. Namun kebersamaan itu segara sirna ketika waktu membawanya pergi dengan pilihan- pilihan yang berbeda. Tak lagi menjadi teman sebangku, mereka justru memutuskan untuk mengambil jurusan yang  berbeda. Kesibukan pada bidang masing- masing menjadi konsekuensi logisnya.  Hingga pada akhirnya tak pernah lagi terjadi pertemuan diantara keduanya.

Putusnya jalinan komunikasi itu kian berlanjut hingga si tokoh “aku”  menerima surat undangan pernikahan dari si Tuan Alien di umurnya yang ke 41. Maka keputusan pun diambil  untuk menuliskan surat pada sang sahabat yang telah lama tak pernah ditemui walau rasa rindu terus menggerogoti. Sebuah surat panjang akhirnya tercipta untuk menuangkan segala perasaan dan pikirannya yang tak pernah tersampaikan.

Surat itu bercerita tentang bagaimana selama ini ia menjalani hidup tanpa kehadirannya. Mulai dari caranya mengisi waktu senggang, rutinitasnya sebagai jurnalis di masa orde baru, hingga kisah masa kecilnya. Pun hubungan percintaan dan persahabatan yang mulai ia rajut kembali.

Dalam cerita- ceritanya yang terangkai melalui surat itu, tampak terjadi berbagai perubahan pada cara mereka memandang dunia. Bentuk- bentuk alienasi diri yang diawal kental terasa mulai memudar seiring berjalannya waktu.

Tak lagi menjadi liyan. Si Tuan Alien misalnya, ia tak lagi mengutuki dunia dan isinya. Ia justru menjelma jadi sosok manusia yang patuh dan mengikuti pola- pola umum yang telah tercipta di dalam masyarakat.

Sementara si tokoh “aku” ditinggal oleh pasangan duetnya selama ini. Ia pun mengarungi dunianya seorang diri degan tetap menjadikan sosok Tuan Alien sebagai fokus utama dalam kehidupannya. Meski harapan itu sempat runtuh ketika mengetahui sang sahabat yang juga ia cintai menikahi gadis lain yang nyaris sempurna. Namun hal itu mulai terobati dengan hadirnya orang- orang yang juga mengasihinya seperti sahabat dan kekasih barunya.

Bentuk alienasi diri yang dialaminya lambat laun mulai terlepskan. Cinta seakan menjadi obat mujarab yang membawanya pada jawaban akan pertanyaan- pertanyaan perihal eksistensinya sebagai seorang manusia. Namun ketika cintanya kandas, ia kembali ringsek. Ditambah dengan diagnosa dokter tentang tubuhnya yang tengah digerogoti kanker. Sekali lagi hidupnya seakan tak lagi punya harapan.

Namun, sebuah bentuk kesetiaan pada cinta terus ia tunjukan. Kegiatannya menulis surat tetap berlanjut walaupun jemarinya tak lagi mampu menuliskan kata. Bahkan hingga di detik terakhirnya, sosok Tuan Alien tak pernah alpa dihadirkan dalam pikirannya.

Novel yang masuk salah satu karya unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini juga memberi gambaran pada para pembacanya tentang cara memandang cinta dengan kaca mata seorang Plato. Sang filsuf Yunani itu mengungkapkan, bahwa cinta tidak harus terjadi dengan adanya proses timbal-balik. Maka,  perbedaan antara yang mencintai dan yang dicintai pun akan tetap bertahan seperti apa adanya.

 

Model cerita “cinta platonis” macam itu memang akan sulit berterima dengan manusia pada zaman mutakhir seperti sekarang ini. Menjadi sebuah pelajaran cinta yang enggan diterima pada masa yang lebih mementingkan kenikmatan yang didapat dari wujud materil semata. Pasalnya, kini bentuk afeksi hanya akan terwujud ketika sang target telah memenuhi seluruh kriteria yang telah dibentuk di dalam pasar.

Sebentuk kisah cinta itu serupa pada sebuah ungkapan terkemuka yang diambil dari sebuah novel berjudul Airman’s Odyssey hasil tulisan Antoine de Saint- Exupéry seorang penulis kenamaan yang mengawali karir sebagai seorang pilot. Berbunyi, “Love does not consist of gazing at each other, but in looking outward together in the same direction.” Bahwa cinta tidak melulu mengenai kehadiran fisik keduanya, melainkan bagaimana mereka memandang dunia pada sisi yang sama.

 

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *