Mimpi UNJ Nyaman

1 Comment

Upaya penertiban pedagang asongan  adalah cara yang dipilih kampus dalam mewujudkan UNJ tertib.

Pedestrian sepanjang jalan gedung O hingga gedung S tampak lengang. Kerumunan mahasiswa yang biasanya ditemui di pinggir jalan tengah asik menyantap jajanan tak lagi dijumpai. Biasanya kita dapat menumui aneka penjual jajanan mulai adari gorengan, minuman hingga nasi bungkus yang membuka lapak kecil di sisi jalan itu. Namun sejak  1 Maret 2014, kegiatan semacam itu tak lagi dapat dijumpai. Pasalnya, para pedagang asongan yang membuka lapak di lingkungan UNJ itu dianggap menyalahi aturan. Berdagang tanpa izin.

Kemudian Unit Pelayanan Teknis Keamanan, Ketertiban, Keindahan dan Parkir (UPT K3P) UNJ segera ambil sikap. Mereka mengedarkan surat pemberitahuan kepada para pedagang asongan di lingkungan UNJ. Surat itu berisi mengenai penertiban mereka yang dianggap liar. Pada 1 Maret 2014 UNJ harus bersih dari pedagang asongan di tiap sudutnya.

Beredarnya surat tersebut menjadi momok bagi para pedagang yang selama ini menghidupi keluarganya dengan berjualan di UNJ. Pun bagi para mahasiswa yang terbiasa membeli makanan murah atau sekadar menyeruput kopi di sela-sela perkuliahan. Membeli makanan dari para pedagang asongan dianggap lebih efisien dibanding harus bersesak-sesakan ke dalam kantin Blok M. Apalagi makanan yang dijajakan disana terbilang jauh lebih mahal.

Menurut keterangan salah seorang penjaja kopi di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) perihal penertiban ini bukanlah hal baru. Larangan serupa pernah ia dapatkan di 2008. Namun pelarangan itu tak pernah berpengaruh besar pada kegiatannya berjualan, buktinya hingga kini ia masih bisa terus berdagang. Ia menambahkan, penertiban tidak pernah dilakukan sungguh-sungguh. Alhasil pedagang hanya akan libur berjualan di hari pertama pelarangan. Setelahnya kegiatan berjualan dapat berlangsung kembali dan peraturan tidak banyak diindahkan.

Pola seperti itu nampaknya kembali terjadi.  1 Maret lalu tak dijumpai pedagang yang biasa ditemui di teras gedung  seluruh UNJ. Mereka punya strategi jitu untuk menangani hal tersebut. Mereka kini tak lagi berjualan dengan terang-terangan selama petugas pengontrol masih berkeliaran memburu. Apalagi usaha penertiban tak dibarengi dengan relokasi pedagang.

Kemudian, pengelolaan kantin yang belum dapat menampung seluruh kebutuhan mahasiswa nampaknya jadi satu faktor penyebab munculnya para pedagang liar. Selain tak dapat menampung mahasiswa pada jam makan siang, harga makanan yang ada di kantin terbilang dipatok lebih mahal karena untuk menutup harga sewa kantin yang terus naik.

Tidak menutup kemungkinan jika harga sewa kantin akan terus melonjak naik. Ditambah dengan rencana kampus untuk memindahkan pengeleolaan kantin kepada pihak swasta seperti halnya yang terjadi pada pengelolaan parkiran yang kini dikelola oleh PT Sumber Jangkar Mandiri.

Dengan begitu, mimpi membangun UNJ yang bersih dan teratur sepertinya hanya akan menjadi isapan jempol. Pengusiran para pedagang bukanlah menjadi tindakan tepat dalam upaya membentuk kampus yang tertib, indah dan nyaman. Sebab penertiban ini hanya menyelesaikan masalah yang tampak di permukaan tanpa mengindahkan masalah akar dari penyebab kemunculan pedagangan asongan yang juga lebih banyak dipilih oleh mahasiswa.

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *