Setengah Abad UNJ

1 Comment

Para pimpinan kampus yang menghandiri Dies Natalis UNJ ke-50 di Halaman IKIP.

Universitas Negeri Jakarta sudah menapaki usia ke-50 tahun. Perhelatan Dies Natalis pun dipandang sebagai refleksi kedewasaan universitas eks IKIP ini dalam mengabdi pada negeri.

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) genap berusia 50 tahun, Jumat (16/5). Kampus Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ini memiliki sejarah panjang di dunia pendidikan Indonesia.

Kampus yang dahulu merupakan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Indonesia ini sejak 1964 berubah menjadi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, sebelum diberi perluasan mandat oleh pemerintah untuk menjadi universitas pada 1999.

Jumat (16/5), UNJ merayakan Dies Natalis ke-50 secara meriah sekaligus membuka rangkaian acara Dies Natalis UNJ dari tanggal 16 Mei sampai 16 Juni 2014. Gelaran yang diselenggarakan di halaman Perpustakaan UNJ itu menghadirkan beberapa pertunjukan seperti tari dramatikal dan musik tradisional persembahan mahasiswa UNJ.

Acara yang membawa tema “Bersinergi Mewujudkan Pendidikan Unggul dan Berkeadilan dalam Kebhinnekaan” itu dimeriahkan oleh Jurusan Pendidikan Seni Tari dan Jurusan Pendidikan Seni Musik sebagai pengeisi acara. Tak hanya itu, Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) yang bermarkas di Gedung G UNJ juga turut serta memeriahkan jalannya acara.

Dalam pembukaan Dies Natalis UNJ ini juga dihadiri oleh beberapa undangan seperti perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), perwakilan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta seluruh sivitas akademika UNJ.

Rektor UNJ, Djaali, dalam pidatonya mengungkapkan usia ke-50 menunjukkan perjalanan panjang UNJ dalam memberikan dharma baktinya dalam mendidik bangsa. “Usia ke-50 tahun juga sebagai refleksi diri dan tahapan untuk membangun sinergi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” lanjutnya.

Ia juga mengatakan sebagai satu-satunya universitas negeri di Ibukota negara, UNJ memiliki tanggung jawab yang lebih berat dari universitas lain. “Selain harus menjadi yang terdepan dalam peningkatan kualitas penyelenggaraan Tri Dharma perguruan tinggi, juga harus menjadi yang terdepan dalam mengembangkan dan menerapkan semua kebijakan pemerintah melalui Kemendikbud,” kata mantan direktur Pascasarjana UNJ itu.

Rektor yang menggantikan Bedjo Sujanto itu berharap lima puluh tahun UNJ menjadi titik tolak untuk membangun almamater dengan semangat dan energi baru. “Masalahnya kan kita di implementasi, makanya kita perlu belajar dari rektor lama dan teman-teman agar program yang sudah berjalan bisa dilanjutkan,” urainya mantap.

Djaali menjelaskan, pada masa kepemimpinannya, Ia akan memprioritaskan program penyelenggaraan akademik. Selain itu, rektor yang baru saja dilantik ini juga berbicara tentang program otonom UNJ seperti memperbanyak guru besar, peningkatan publikasi ilmiah, dan pengembangan sistem penjaminan mutu. “Semua harus disinergikan untuk keunggulan kompetitif,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebuut, UNJ juga meluncurkan jurnal internasional terbitan pertama berjudul Indonesian Journal of Educational Review dan sebuah buku Bunga Rampai yang ditulis oleh 25 penulis. “Sebenarnya dari Pascasarjana UNJ sudah menyiapkan dua jurnal internasional selama empat tahun yaitu jurnal evaluasi pendidikan dan teknik pendidikan.,” kata Djaali ketika ditemui DIDAKTIKA usai membuka kegiatan Dies Natalis ke-50.

Djaali menjelaskan, yang terpenting dari peluncuran jurnal internasional ini adalah hasil riset UNJ dan Indonesia bisa terpublikasikan secara internasional. “Kita berharap setiap enam bulan bisa menerbitkan jurnal internasional,” harapnya.

Akhmad Zulfian

 

 

 

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *