Ketika Pedagang Kaki Lima Bersanding dengan Pusat Belanja Modern

297 Comments

PKL mencoba terus bertahan ditengah menjamurnya PBM di Blok M.

Sabtu sore (7/6), beberapa Pedagang Kaki Lima (PKL) di seberang Kompleks Blok M Plaza, Jakarta Selatan tampak murung. Beberapa terlihat memanggil-manggil pelanggan yang sedang lewat. “Mampir dulu ada bakso, soto ayam,” ucap seorang pedagang tergesa seraya menghampiri setiap orang yang lewat.

Lapak berbentuk memanjang seperti foodcourt itu hanya terisi segelintir pengunjung. Berdasar pantauan DIDAKTIKA, jejeran kursi kayu yang disediakan untuk pengunjung tampak melompong. Yono, salah satu pedagang menuturkan bahwa sore itu memang sepi pengunjung. “Ramai hanya saat jam makan saja,” tuturnya.

Lelaki yang sudah tiga tahun berdagang di area Blok M itu mengatakan ingin pindah dari tempatnya sekarang berdagang. Selain sepi pengunjung, PKL juga sering menjadi sasaran empuk Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang sedang melakukan razia. “Tapi yang buat pindah (uang-Red) tidak ada,” ujar pria asal Brebes, Jawa Tengah ini.

Berbeda dengan yang terjadi di tempat Yono dan rekan-rekan sesama PKL-nya menjajakan dagangan, Blok M Plaza yang jaraknya tak lebih dari 20 meter dari tempat PKL mangkal terlihat ramai oleh pengunjung.

Dini, salah satu pengunjung menuturkan bahwa belanja di Pusat Belanja Modern (PBM) lebih nyaman. “Lebih enak disini sih,” ucap gadis berjilbab ini. Hal yang sama dituturkan oleh Faruq yang sengaja mengunjungi PBM bersama pacarnya. “Disini (PBM-Red) fasilitasnya lebih bagus. Biasanya perempuan memburu diskon juga, kan,” kata lelaki asal Pancoran ini seraya menatap pacarnya.

Memang, PBM sering menawarkan aneka potongan harga untuk barang-barang tertentu kepada pelanggannya. Seperti yang terlihat di Blok M Plaza, Sabtu (7/6), banyak potongan harga mencapai setengah harga untuk berbagai item seperti pakaian, fashion, bahkan makanan.

Namun, Ade berpandangan lain. Menurutnya, membeli di PKL juga menyenangkan karena lebih ekonomis. “Lebih murah di PKL,” terangnya ketika ditemui DIDAKTIKA di Blok M Square, Jakarta Selatan.

Mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta ini menuturkan adanya PKL yang berdekatan dengan PBM merupakan hal biasa. “Masyarakat kan punya selera masing-masing. Saya rasa tidak mengganggu,” katanya.

Menjamurnya PKL di area yang berdekatan dengan PBM merupakan gambaran kontras kehidupan perkotaan. Fasilitas dan gedung mewah, serta pelayanan yang baik di PBM berbanding terbalik dengan yang ditemui di lapak PKL.

Seperti yang terlihat di Blok M Square, di depan PBM yang berdiri megah tersebut, pedagang nasi kucing terlihat berjejer menjajakan dagangannya. Mereka hanya bermodal fasilitas seadanya seperti kursi dan meja kecil yang terbuat dari plastik. “Biasanya buka pukul delapan malam. Tak ada masalah, sih. Dari dulu memang tempat mereka (PKL-Red),” terang salah satu petugas kebersihan PBM.

Nasib PKL hanya bergantung pada loyalitas pelanggan. Seiring berkembangnya PBM di Jakarta, PKL kalah telak dari segi fasilitas. Meski harga produk di PBM relatif lebih mahal daripada yang ditetapkan oleh PKL, namun nyatanya masyarakat banyak yang memilih PBM dengan alasan kenyamanan dan keamanan. “Saya tidak terlalu memikirkan harga sih. Yang lebih penting kenyamanannya,” kata Faruq, salah satu pengunjung PBM.

Tak hanya di Blok M Plaza dan Blok M Square, di depan resto dan lounge di daerah Blok M juga terlihat banyak PKL yang mencoba tetap bertahan ditengah berkembangnya pembangunan PBM. Bahkan, PKL yang berjejer di sisi luar PBM itu seakan tak terusik dengan adanya “istana belanja” di dekatnya. Jumlah PKL di sekitar PBM masih saja banyak.

Pemandangan serupa bukan hanya terdapat di Blok M saja, namun hampir di seluruh wilayah di Jakarta. Predikat Jakarta sebagai kota megapolitan tergambar dengan banyaknya PBM bertebaran di setiap wilayah di Jakarta. Bersama dengan itu, PKL pun tak pernah surut menjajakan produk sederhananya.

Ahmad Zulfiyan

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *