Sang Pembawa Antikekerasan

4 Comments

Melalui perjuangan nirkekerasannya, ia mampu berkontribusi kepada India.

Jika berbincang tentang antikekerasan, tentu pembahasan akan mengarah kepada perdamaian. Salah satu sosok yang tersohor atas perannya mengampanyekan antikekerasan adalah Mahatma Gandhi. Tokoh perdamaian India itu sebenarnya terlahir sebagai manusia biasa. Namun, berkat perjuangan kemanusiaannya, ia dijuluki “Mahatma”, jiwa yang agung.

Mohandash Karamchand Gandhi dulunya adalah anak yang sangat pemalu. Sejak lulus sekolah menengah atas di India, akhirnya ia melanjutkan pendidikan hukum di Inggris, negara penjajah India kala itu. Gandhi memang berasal dari strata atas di India, yang lebih mudah mendapat akses pendidikan dibanding kalangan bawah yang hanya menjadi budak penjajah.

Seiring perjalanan hidupnya yang membawa ia menuju Afrika Selatan, disana ia mendapat pengalaman hidup yang tak akan pernah ia lupakan. Represi sosial yang masif terjadi pada tahun 1900an disana membuatnya berpikir tentang metode perlawanan yang cocok di keadaan di masa itu.

Perjuangan Gandhi berangkat dari keresahannya terhadap represi sosial dan diskriminasi yang dialami orang India di Afrika Selatan. Rasa nasionalisme-nya yang tinggi juga turut prihatin dengan yang dialami oleh negaranya, India, yang masih dalam kungkungan penjajah. Lebih dari itu, referensi mengenai satyagraha Gandhi dapatkan dari kitab Baghavad Gita yang menjadi pedoman spiritualnya.

Dalam salah satu buku tentang Gandhi berjudul Gandhi The Man yang ditulis oleh Eknath Easwaran, satyagraha lahir di Afrika Selatan tahun 1906. Ketika undang-undang yang mewajibkan pencatatan kependudukan atas orang India di Afrika Selatan didengungkan, Gandhi dan para pengikutnya menolak untuk mendaftar karena sudah menjadi hak orang India untuk berdiam disana. Saat itu satyagraha lahir untuk mendefinisikan perlawanan antikekerasan.

Gandhi, pada bulan Juli 1906 berjanji untuk melakukan gerakan non-kepemilikan dan mengabdikan hidupnya untuk melayani banyak orang. Ikrar itu dilatarbelakangi oleh penderitaan masyarakat atas pemberontakan Zulu yang begitu tragis. Suasana Afrika Selatan yang mencekam memberikan inspirasi bagi Gandhi untuk melakukan perlawanan yang berlandaskan cinta. Apalagi, masih adanya diskriminasi ras membuat orang kulit hitam tertindas.

Pada saat itu, terjadi pergolakan antara warga kulit putih dan kulit hitam di Afrika Selatan. Orang kulit hitam mengalami diskriminasi dengan selalu mendapatkan pelayanan kelas dua. Sebaliknya, masyarakat kulit putih (Eropa) mendapat pelayanan tingkat atas. Bahkan, Gandhi pernah diusir dari gerbong kelas satu karena orang kulit hitam dilarang berkereta disana dan hanya disediakan gerbong kelas dua.

Satyagraha secara harfiah bermakna berpegang pada kebenaran. Satyagraha identik dengan ahimsa yang bermakna nirkekerasan. Beberapa pengertian tentang satyagraha adalah nonkooperasi. Esensi satyagraha adalah sebuah perjuangan melawan ketidakadilan melalui metode nirkekerasan. Tak ayal, perjuangan Gandhi hanya berkutat pada gerakan kampanye, pemogokan, dan puasa.

Satyagraha adalah cara untuk mendekatkan diri pada konflik dan menyelesaikannya tanpa metode kekerasan. Gandhi mengembangkan metode ini secara sederhana sehingga dapat diikuti oleh orang yang tak berpendidikan sekalipun. Cinta yang mendasari satyagraha.

Salah satu gerakan satyagraha di India adalah Salt March Campaign 1930. Kampanye ini melawan kesewenangan pihak Inggris yang memonopoli penjualan garam India. Masyarakat India dilarang membuat garam sendiri. Gerakan ini dilakukan oleh Gandhi dan sekitar 80 pengikutnya untuk menjumput garam di lautan India, yang kemudian mereka jual ke orang kaya di kota.

Ketika Gandhi mengenalkan metode perjuangan antikekerasan ini, berarti juga mendeklarasikan sebagai satyagrahi yang taat. Perjuangan dengan berlandaskan nasionalisme dijunjung tinggi oleh Gandhi. Apalagi dengan status India yang masih dalam belenggu kekuasaan Inggris.

Metode nirkekerasan Gandhi identik dengan perlawanan dengan diplomasi yang lebih efektif daripada dengan cara kekerasan. Menurut Gandhi, melawan kekerasan dengan kekerasan hanya akan menimbulkan masalah baru. “Kekerasan ada karena kita mendukungnya,” tulisnya di salah satu media cetak di India.

Cara nirkekerasan Gandhi berseberangan dengan cara-cara yang biasa dilakukan oleh bangsa di dunia untuk unjuk diri bahwa “Kami masih ada”. Indonesia, yang lama dijajah oleh Belanda sering melakukan perlawanan fisik melalui perang untuk melawan penjajah, meski tak luput dengan perjuangan diplomasi.

Namun, yag dilakukan Gandhi merupakan perjuangan yang murni tanpa kekerasan. Bahkan, metode Gandhi juga didukung oleh Jawaharlah Nehru, perdana menteri pertama India. Dalam setiap perjuangannya, Gandhi sangat antikekerasan. Setiap menghadapi permasalahan, ia selalu melakukan kampanye antikekerasan, yang sering juga dilakukan dengan berpuasa, mogok, pembangkangan sipil dan semedi.

Gerakan Gandhi yang lain seperti Swadesi (mandiri) dan Bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual) merupakan ekuivalensi dari Satyagraha dan Ahimsa. Inti dari semua gerakan Gandhi adalah nirkekerasan yang berpegang pada kebenaran yang ia dijunjung.

Namun, metode yang Gandhi usung juga mungkin akan menimbulkan arogansi. Satyagraha tak mudah digoyahkan oleh siapapun. Hal ini akan memunculkan kecenderungan antikritik karena menganggap satyagraha adalah kebenaran mutlak.

Satyagraha Gandhi telah menginspirasi oleh banyak negara di dunia. Di zaman sekarang, banyak bermunculan gerakan antikekerasan seperti demonstrasi, kampanye, dan gerakan sosial yang beresensi untuk tak bersentuhan dengan kekerasan. Meski gerakan antikekerasan di era sekarang sama sekali tak identik dengan gerakan Gandhi kala itu, namun hal itu menjelaskan bahwa gerakan antikekerasan masih ada di dunia.

Namun, nyatanya gerakan (yang awalnya) berniat untuk menghancurkan kekerasan, tetap saja diwarnai oleh kegiatan bernuansa kekerasan. demonstrasi massa sering memakan korban jiwa karena berbagai pergesekan pendapat. Hal tersebut juga terjadi pada masa Gandhi. Meski Gandhi menyuarakan perdamaian, namun gerakannya sering meminta tumbal dengan terbunuhnya beberapa pengikut akibat kampanye Salt March, serta penyerangan fisik lainnya.

Meski begitu, dengan satyagraha, perjuangan tanpa kekerasan yang ia bawa, ia dapat berkontribusi kepada masyarakat India dan bahkan ia adalah salah satu sosok yang berpengaruh terhadap kemerdekaan India. Konsistensi Gandhi dalam menyebarkan kristal-kristal perdamaian melalui perjuangan anti kekerasan membawanya dalam julukan Sang Bapak Perdamaian India, sampai saat ini.

Ahmad Zulfiyan 

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *