Membaca dan Menulis Jembatan untuk Menjadi Intelektual Organik

4 Comments

Menjadi mahasiswa tentu tidak bisa lepas dari lingkungan ilmiah.  Hal Itu disebabkan, mereka memang berada dalam ruang lingkup keilmuan. Pada  posisi tersebut, mahasiswa dituntut untuk lebih sering membaca mau pun menghasilkan sebuah karya tulis seperti menulis laporan praktikum, penelitian, karya ilmiah dan  skripsi. Sayangnya,  hingga saat ini kemampuan menulis ilmiah oleh mahasiswa masih tergolong rendah. Hal itu Berdasarkan data Indonesian Scientific Journal Databaseyakni terdata sekitar 13.047 jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah, sangat tertinggal jauh dari  Malaysia 55.211 dan Thailand 58.931.

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan menulis mahasiswa terutama dalam menulis karya ilmiah. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya minat membaca mahasiswa Indonesia. Membaca dan menulis tentu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mustahil seseorang bisa menulis kalau yang bersangkutan tidak suka membaca karena kedua kegiatan tersebut saling beriringan. Dimaksudkan dengan membaca,  mahasiswa dapat menambah wawasan pengetahuan dan juga untuk menambah referensi untuk menulis karya ilmiah yang dikerjakannya.

Padahal membaca buku atau literatur adalah sumber referensi yang sangat penting bagi mahasiswa. Sayangnya, minat baca mahasiswa saat ini terlihat sangat minim. Perkembangan teknologi informasi membuat mahasiswa lebih sering mencari informasi dari internet dibanding buku.

Rendahnya minat baca mahasiswa dapat dilihat dari jumlah kunjungan yang ada di setiap perpustakaan kampus. Perpustakaan biasanya akan terlihat sangat ramai menjelang ujian karena banyak mahasiswa yang mencari buku untuk sumber referensi tugas mereka. Sebaliknya, pada hari-hari biasa perpustakaan akan cenderung sepi pengunjung. Biasanya yang banyak terlihat hanya mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.

Jika kita kembali melihat sejarah. Tentu kita tahu,  Soekarno, Hatta, Syahrir dkk, terlahir sebagai mahasiswa yang tidak puas jika hanya berdiam diri. Mereka lalu Keluar dari zona nyaman dengan menciptakan gerakan perlawanan. Tanah airnya tak memberikan imbalan apa-apa selain buku dan pena.

Mereka hanya bermodal buku. Dari setiap aksara yang ada di dalam bukunya lalu memunculkan ide. Idealisme seorang mahasiswa tumbuh dari gagasan dan kemudian dituliskannya kembali sebagai tradisi intelektual. Keintelektualan itu tak hanya singgah gagah di dalam otaknya. Mereka meneruskannya dengan tanggung jawab. Sebab, seorang intelektual adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas disegala arus-arus masyarakat yag kacau (Soe Hok Gie, 1983 : 78)

Status intelektual pada hakikatnya tidak mudah diemban. Ada syarat-syarat tertentu yang mengekslusi kaum intelektual. Syarat itu adalah setia pada buku. Intelektual merupakan sosok yang tak pernah selesai dengan sekali tahu. Ia akan terus merasa haus selagi status intelektualnya berlaku. Buku hanyalah oase di tengah kehausan. Barangkali kita tak perlu berlebih-lebih, kobaran api revolusi selalu tersulut dari gesekan-gesekan sejumlah ide yang memanas di otak kepala. Ide itu tumpah rak buku.

Saya jadi teringat Banda Neira. Di pulau itu, ada cerita keintelektualan Hatta. Pagi itu, 1 Februari 1942, Hatta mengemasi buku-bukunya ada 16 kotak. Ia berniat membawa “istri setianya” itu dari tempat pengasingan. Sayangnya, ini yang sangat disesalkan Hatta, pesawat MLD-Catalina tidak muat. Hatta kesal. Terpaksa ia mengembalikan 16 kotak buku ke tempat semula. Ia tak membawa buku (Sutan Syahrir, 1990: 189).

Namun, syarat keintelektualan sudah tumbuh dalam dirinya. Ruh buku telah menyatu dalam kepalanya. Pada suatu hari, ia mempersembahkan buku karyanya sendiri (Alam Pikiran Yunani) sebagai mas kawin pernikahan dengan istrinya. Tugas keintelektualan Hatta berhasil. Ia sanggup menyumbang gagasan untuk anak bangsa melalui buku.

Hari ini, jauh setelah generasi Soekarno, Hatta dan Syarir tiada, narasi kebukuan mencipta tanda-tanda menuju kebekuan. Buku terpajang, sesekali dipandang—agar tugas-tugas harian dari dosen segera terjelang. Tak pernah timbul semangat untuk membaca buku. Apalagi berlama-lama sampai mata lelah. Jika pun ada, tak lebih dari sekedar terpaksa. Inilah kenyataan pahit yang tengah menjangkit.

Betapa pun pahitnya, harus diakui, mahasiswa sekarang kelihatan “PD” unjuk gigi meski sebenarnya otaknya miskin isi. Mereka berdiskusi hanya dalam urusan memuluskan transaksi. Sindrom “K3” (kelas,kantin,kosan) tampaknya menjadi tren dewasa ini. Buku hanya menjadi pajangan untuk dipandang, bukan untuk dibaca apalagi dicerna. Mereka sibuk mengerjakan tugas hanya demi mendapat nilai A. Setelah itu, selesai urusan. Ada juga mahasiswa yang bertahan menjaga tradisi ilmiah dengan gagah, tetapi jumlahnya tak seberapa. Kalau dihitung, akan jauh lebih banyak mahasiswa yang suka beli gadget dibanding buku.

Cerita para pendiri bangsa, salah satunya Hatta, selalu mengingatkan kita pada ruang intelektual yang luas. Intelektual sejati, memang, tidak selesai dengan buku. Ia butuh menumpahkan beban pikirannya. Namun, perlu terus diingat tumpahan pikiran akan segera layu tanpa diabadikan dalam buku. Buku yang ditulis harus senantiasa diberi kesempatan untuk berdialog dengan manusia-manusia di zaman yang berbeda.

Sebab dalam mata kuliah psikologi perkembangan dijelaskan bahwa seorang psikolog bernama Carl Gustav Jung berkata, buku menjadi semacam horizon arketipe (Bayang-bayang primordial dan mitologis) yang merangkum sejarah ide-ide purba hingga paling purna. Dari hal tersebut, manusia bisa belajar bagaimana arketipe-arketipe bertaut dan menciptakan garis yang menghubungkan manusia satu dengan yang lainnya. Buku hanyalah tamsil bagi tempat arketipe yang tak terengkuh. Berkat arketipe itu, manusia bisa belajar tanpa diajari. Tiba-tiba mereka suka keindahan, kedamaian dan seterusnya. Padahal satu sama lain tidak pernah mengadakan kongres untuk memutuskan rumus tentang itu semua.

Namun benar juga kata Takashi Shiraishi bahwa, setiap zaman punya semangatnya sendiri. Jika generasi terdahulu gila buku, kini gila baju dan HP baru. Tak mudah memang untuk menghakimi zaman. Tetapi kalau kita mau, sedikit saja membuka mata hati, di sana akan terdengar bisikan-bisikan kecemasan dan kesementaraan yang mencoba menarik-narik kita berdiri di tengah-tengah bundaran budaya instan. Lalu, kita diajak lupa pada makna keabadian.

Benar saja. Di saat orang sudah tak kenal arti kesementaraan, buku-buku akan menjadi pajangan. Ia dibeli tapi tak dibaca atau dibaca tapi tak tau apa maksudnya atau, dan ini yang lebih mengerikan, orang-orang hanya sibuk beli gadget  dan baju daripada buku.

Apa yang telah dikerjakan oleh Soekarno, Hatta, Syahrir dkk telah membuatnya menjadi seorang intelektual organik dari kegiatan membaca dan menulis. Intelektual organik merupakan gagasan Antonio Gramsci untuk menjadikan pengetahuan sebagai alat penggerak perubahan di masyarakat. Gramsci membedakan intelektual organik dengan intelektual tradisional, yang baginya hanya duduk di tempat (Nezar Patria, 1999 : 115).

Intelektual organik tidak bisa menjadi alat penggerak perubahan. Intelektual ini lebih menekankan pada profesionalitasnya, misal sebagai dosen, insinyur atau pun profesor. Mahasiswa hari ini, dalam pandangan Gramsci, masih sebagai intelektual tradisional. Mahasiswa tidak lagi menjadi intelektual yang bisa mewujudkan perubahan di masyarakat. Kesibukan-kesibukan di dalam kampus. Bahkan, hedonisme yang memenjarakan mahasiswa sudah tidak asing lagi di sekitar kampus.

Justru kampus menjadi kosong, tidak ada kegiatan-kegiatan yang berorientasi kepentingan perubahan di dalam diri mahasiswa. Mahasiswa duduk di tempat sebagai mahasiswa, bukan bagian dari masyarakat. Ironisnya, sangat jarang mahasiswa menyadari akan hal demikian. Jangankan untuk membangun negeri, membangun dirinya sendiri mahasiswa belum bebas dan emansipatoris. Mahasiswa sudah terperangkap ke dalam jangkar kemunafikan sistem, sehingga pergolakan pemikiran menjadi stagnan dan tidak berkembang.

Ada banyak cara mahasiswa membangun kesadaran kritis dan memiliki intelektual organik di dalam dirinya, misal dengan membaca. Hasil riset menyebutkan bahwa tingkat kesadaran membaca di Indonesia berkisar 21%. Budaya membaca di elemen mahasiswa saat ini sudah mengalami degradasi. Kemauan mahasiswa membaca lebih berorientasi pada nilai. Bukan untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan. Membaca tidak akan berdampak kolektif jika tidak ditumpangi dengan menulis. Mahasiswa dituntut menulis untuk merealisasikan keilmuannya di dalam masyarakat.

Menulis juga menjadi lokomotif sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintah. Sehingga, keberadaan mahasiswa secara substansial akan dirasakan oleh masyarakat. Dalam hal ini, mahasiswa tentunya mempunyai tanggung jawab yang besar membangun negeri yang bermartabat. Di tengah karut-marutnya kehidupan bangsa dan negara yang lebih disebabkan oleh birokrat yang serakah dan tamak, mahasiswa harus bangkit dan keluar dari koridornya sebagai mahasiswa (intelektual tradisional) yang duduk di tempat.

@virdikaa

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *