Sitor Situmorang Kembali Pulang

7 Comments

unduhan (1)Senin 29 Desember 2014, malam itu ruang serba guna Galeri Nasional  di jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, dipenuhi pengunjung yang sebagian besar berbusana serba hitam sebagai tanda duka cita. Sebab, sebuah upacara persemayaman jenazah sastrawan besar Indonesia tengah berlangsung ditempat tersebut.

Sitor Situmorang, penyair yang terkenal dengan karyanya yang berjudul “Malam Lebaran” wafat diumurnya yang ke 91 tahun pada 21 Desember 2014 lalu di Belanda. Kemudian tubuhnya diterbangkan dari negeri kincir angin kembali ke negeri asalanya Indonesia. Pukul 18.00 Jasad Sitok Situmorang sampai di Bandara Soekarno-Hatta dan langsung dibawa ke Galeri Nasional untuk disemayamkan dengan pembacaan puisi- puisi karyanya sebagai tanda penghormatan terakhir bagi satrawan Indonesia angkatan 45 terakhir itu.

Jenazah tiba di galeri Nasional pada pukul 20.57. Kedatanganya langsung disambut oleh keluarga, pegiat sastra dan seni, serta para penikmat karya- karya sastranya, dengan iringan alunan lagu batak. Dua buah peti mati yang dibalut kain ulos membaringkan jasad sang penyair beserta istri diletakan bersanding ditengah altar bertabur bunga, di dinding telah terpampang sketsa besar wajah Sitor Situmorang diatas kain berwarna merah karya R.W. Mulyadi.

Berbagai nama besar turut hadir, seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayan Indonesia sebagai perwakilan pemerintahan Indonesia yang mengucap bela sungkawa atas kepergian tokoh besar Indonesia itu. Dalam Sambutannya, Anies menyebut Sitor sebagai sastrawan yang tak hanya mahsyur pada zamannya tapi juga hingga detik ini, dan karya- karyanya perlu diketahui oleh anak-anak di negeri ini. “Kami Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ingin mendokumentasikan karya- karya Sitor Situmorang dan mendidika anak- anak Indonesia untuk mengenali banyak sastrawan,” terang Anies.

Sastrawan yang juga hadir malam itu ialah Taufik Ismail. Sosok yang disebut- disebut bersebrangan ideologi dengan Sitor. Mengingat pada akhir 1950-an, Sitor Situmorang menjadi ketua  Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN)  yang berada dibawah bendera politik Partai Nasional Indonesia (PNI). Menurut Taufik Ismail, walaupun mereka berbeda pandangan secara politik tapi tidak pernah sekalipun menyurutkan kecintaanya dalam membaca puisi- puisi karyanya. “Saya bersebrangan politik tapi saya baca semua puisinya, sayang sekali pandangan politik mempengaruhi karya- karyanya tapi itu adalah hak setiap penyair,” ungkap Taufik Ismail, penyair yang turut menandatangani Manifesto Kebudayaan itu.

Eksistensinya di LKN tak hanya mebuatnya bepolemik dengan sastrawan lain, tapi hal itu pula yang kemudian membawanya kebalik jeruji penjara selama delapan tahun dimasa orde baru. Dari 1967 hingga 1974 pria asal Tapanuli Utara itu  dipenjara sebagai tahanan politik tanpa kejelasan proses pengadilan. Setelah keluar dari penjara, Sitor lekas memboyong keluarganya hijrah ke Eropa, kemudian menghabiskan hidupnya di Belanda hingga di akhir hayatnya.

Perjalanan hidup Sitor Situmorang yang panjang itu akan berakhir kembali ditanah kelahirannya. Sebab, jasad Sitor Situmorang akan dimakamkan ke tempat kelahirannya di pemakaman keluarga di Kecamatan Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 1 januari 2015.

Martin Alaeda salah seorang sahabat penyair yang pernah menerbitkan sebuah kumpulan sajak berjudul “Dalam Sajak” itu ingin mengenangnya dengan gembira. “Tak ada bir ditangan Sitok tapi puisinya masih berbusa,” katanya sambil mengenang sang sahabat.

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *