Romantisme Alam dalam Karya Sastra

3 Comments

logoalfAsean Literary Festival (ALF) 2015 kembali digelar selama seminggu (15-22 Maret) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat. Kali ini mengusung tema Questions of Conscience. Pada pelaksanaan yang kedua kalinya ini, ALF ALF bertujuan untuk menjadi media pengenalan sastra antarnegara yang menjadi partisipan dalam acara ini. Meski mengangkat nama Asean, namun banyak Negara non Asean yang turut berpartisipasi seperti Amerika, Norwegia, Australia, Jerman, dan masih banyak lagi.

Rupa kegiatan yang diadakan sangat begaram mulai dari  workshop, diskusi, penampilan hingga sesi pengenalan komunitas sastra. Beberapa komunitas sastra yang bisa ditemui sepanjang ALF 2015 yaitu Kampus Fiksi, Stomata, Logika Rasa, Sobat Budaya, Fakta Bahasa, Buku Jalanan dan lainnya. Lokasinya terbagi menjadi empat yakni panggung utama, selasar TIM, teater kecil TIM dan galeri cipta. Sesi dimulai dari pukul 10 pagi hingga 10 malam.

Salah satu agenda yang diselenggarakan pada panggung utama pada Jum’at (20/03) yaitu diskusi bertajuk Voices Of Nature in Literary Works bersama tiga sastrawan terkemuka, Ahmad Tohari dan Esha Tegar dari Indonesia, serta Xu Weifeng dari China. Ketiganya saling berbagi dengan peserta mengenai karya sastra mereka yang kerap menggambarkan alam secara detil.

“Keterlibatan alam pada narasi bukanlah suatu hal yang merepotkan, tapi memiliki andil besar dalam memberi nilai estetika terhadap karya sastra tersebut,” kata Ahmad Tohari. Bahkan menurut Esha Tegar, penulis asal Sumatera Barat, dalam adat Minangkabau alam diakui sebagai guru.

Xu Weifeng atau yang terkenal dengan nama pena Bei Ta, sempat menjelaskan macam-macam ekspektasi seseorang ketika melihat alam. Ia mencontohkan ketika seseorang melihat batu, yang kemudian ia kerucutkan menjadi tiga pandangan. Pandangan pertama yaitu orang akan melihat dengan pendekatan alamiah, bahwa batu tersebut merupakan proses alam. Kedua menganggap bahwa batu adalah produk kultural yang memiliki nilai magis bagi mereka yang mempercayainya. Terakhir, menjadikan batu sebagai objektivasi dari pikiran orang yang melihatnya.

Esha yang terbilang sebagai bibit muda sastrawan Indonesia berharap acara ALF bisa berlangsung terus setiap tahunnya. “ALF merupakan fasilitas untuk para penulis bisa menjalin hubungan dengan dunia luar,” ujar penyair yang datang langsung dari kota Padang tersebut.

Sedangkan Ahmad Tohari berpesan kepada sastrawan Indonesia agar tidak berhenti berkarya. “Para sastrawan muda harus terus menunjukan taringnya dan menunjukan pada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang berliterasi,” tutup penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut.

Latifah

guest83

Author

guest83

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *