Rektorat UNJ Diminta Tegas Soal Kasus Perkosaan

4 Comments

Rektorat UNJ membentuk tim investigasi sebagai upaya mengumpulkan bukti-bukti pelanggaran Andri Rivelino. Tapi ingkar janji saol menyediakan pembela hukum

Ketidaktegasan Rektorat UNJ dalam penyelesaian kasus pemerkosaan Mahasiswi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) membuat Mahasiswa UNJ pantang diam. Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahsiswa UNJ tersebut kembali menggelar demonstrasi pada Rabu (6/5), sekitar jam satu, persis dengan terik panas matahari di ubun-ubun kepala. Kali ini, sekitar 150 mahasiswa itu menggelar pawai yang diiringi orasi dan nyanyian perjuangan di masing-masing depan fakultas Kampus A UNJ.

“Kita malu dengan kejadian ini. Kita malu juga dengan kampus yang tidak tegas memberikan sanski terhadap dosen bejat ini,” teriak salah seorang mahasiswa ketika berorasi waktu itu. Tak mau kalah, mahasiswi pun hari itu  tak ketinggalan memegang mega phone dan bersuara lantang soal nasib yang diderita temannya. “Mana suara perempuan hari ini. Mana solidaritas perempuan. Kalian jangan diam,”ajak mahasiswi berkerdung bernama Rini tersebut, depan Kantin Blok M dengan emosional. Sekitar 15 menit orasi di depan kantin terbesar UNJ itu, massa aksi kemudian bergeser ke depan Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Pendidikan dan diakhiri di depan Gedung Rektorat UNJ.

Ketika aksi mahasiswa hari itu, sebenarnya Dosen PIPS UNJ Andri Rivelino sudah diberikan sanksi kode etik oleh Jajaran Pimpinan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada 23 April. Sehingga, dosen berusia 40 tahun itu dilarang untuk mengajar dan dijauhkan dari segala aktifitas yang bersentuhan dengan mahasiswa FIS. Hal ini berujung dosen berstatus duda itu melaporkan balik FN, yang notabene korbannya, kepada pihak kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik.

“pecat dosen cabul..pecat dosen amoral. Rektorat harus tegas, jangan biarkan korban perkosaan berjuang sendiri menghadapi hukum!!”, gemuruh kesal suara mahasiswa menggema di depan gedung bermotif hijau mirip yang Seven Eleven (Sevel), tempat berkantornya Pimpinan UNJ.  Beberapa mahasiswa pun kemudian menggabungkan diri  sebagai tanda dukungan dalam aksi solidaritas itu. Hal ini pun diikuti dengan kedatangan para pejabat kampus yang berkumpul di depan kerumunan mahasiswa.

Rerata pejabat kampus bidang kemahasiswaan itu seperti biasa, ‘mencomot’  beberapa mahasiswa yang dianggap pimpinan aksi untuk berdiskusi di dalam gedung rektorat.  Tak jauh-jauh pembicaraan pun  berkisar mahasiswa mesti sabar, ”SK (Surat Keputusan) sedang diproses oleh rektor. Kan tidak ujug-ujug jadi. Banyak yang harus dipertimbangkan dan dikaji soal aturan hukumnya,” dalih Saefullah, Kepala BAAK UNJ. Nada serupa pun  terlontar dari Uded Darusalam, “ini yang harus memutuskan ya kementerian. Gak bisa sembarangan,” cetus Kepala Bidang Kemahasiswaan yang mengaku pernah menjadi sekretaris Rektor Conny Semiawan di era 80-an.

Dengan terus didengungkannya orasi-orasi oleh mahasiswa, membuat jajaran Pembantu Rektor UNJ satu persatu keluar dari ruang kerjanya dan memberi tanggapan di depan mahasiswa. Sebelumnya, ada tanggapan yang memancing amarah Aliansi Mahasiswa UNJ. Itu keluar dari mulut Pembantu Dekan III FIS Andy Hadiyanto. Di depan kerumunan mahasiswa, ia menerangkan bahwa mahasiswa harus introspeksi diri, “kalian mahasiswa harus juga menyadari kesalahan kalian. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan termasuk Andri Rivelino (terduga dosen cabul),” cetus pejabat yang juga Dosen Mahasiswa Jurusan Agama Islam yang sontak disoraki mahasiswa itu. “Dia sejak awal memang pejabat yang paling ngotot membela Andri (Rivelino),” tukas Ilham Pamungkas, Ketua Himpunan Mahasiswa IPS).

Setelah ia diberikan kesempatan memberi tanggapan, giliran Pembantu Rektor II Komarudin menanggapi tuntutan mahasiswa. Ia mengak,u baru mendapatkan SK dari pihak FIS terkait Andri Rivelino,” saya baru tahu ini (SK), dan secara resmi Kami (Rektorat UNJ) menerima SK-nya,” alibi mantan Dekan FIS periode kemarin tersebut.  Menurut Andika Ramadhan, pengakuan Komarudin itu sangat mengada-ada dan bentuk cuci tangannya terkait kasus ini, “SK dari FIS sudah 3 minggu yang lalu (23/4), dan BEM FIS sudah menerima hari itu juga. Masa Rektorat UNJ selaku badan tertinggi kampus belum mendapat SK dari FIS,” heran Wakil Ketua BEM FIS itu, sesaat setelah Komarudin memberi tanggapan.

Namun, Komarudin berjanji akan memberi bantuan hukum dengan menyediakan pengacara untuk korban, “UNJ punya pengacara, kita akan bantu korban dengan didampingi pengacara dari UNJ,” tegas pejabat mantan pegiat organisasi kemahasiswaan itu. Ketika menjadi mahasiswa, ia sempat aktif di Racana UNJ.

Orasi-orasi dari Aliansi Mahasiswa UNJ pun berlanjut dengan bergantian. Mulai dari Ramdhoni,  Heri Kiswanto dari Solidaritas Pemuda Rawamangun (Spora), Andhika Ramadhan, Gosa dari BEM Fakultas Ilmu Sosial (FIS), hingga Syahril dan Roni Setiawan dari BEM UNJ. Semuanya senada, menuntut Pimpinan UNJ agar menindak tegas Andri Rivelino.

Aksi pun berujung ditanda-tanganinya oleh Rektorat UNJ  poin-poin tuntutan yang disodorkan mahasiswa. Pertama, Andri i Rivelino dinonaktifkan sebagai pengajar UNJ lewat SK yang harus dikeluarkan UNJ. Kedua, pimpinan kampus harus membantu secara hukum korban perkosaan.

Sayangnya, pejabat yang berjanji itu nyatanya ingkar. Seperti yang diungkapan Sd selaku ibu korban, “UNJ katanya tidak bisa menyediakan pengacara untuk anak saya,” akunya sehari setelah aksi mahasiswa. Pada malam harinya, ia mengaku hubungi via telpon untuk datang ke UNJ membicarakan kasus putrinya. Dalam hasil pertemuan itu menurutnya, Rektorat UNJ hanya membentuk tim investigasi  untuk mencari mahasiswi lain yang menjadi korban Andri, “banyak yang bilang, kan, korbannya itu banyak. Bahkan dosen ada yang dipacarin sama dia.”

Selain itu, ibu yang berprofesi guru sekolah dasar itu mengaku dianggap telah dianggap memprovokasi mahasiswa untuk demonstrasi, “ibu jangan dorong mahasiswa-mahasiswa untuk aksi lagi,” ujarnya menirukan pejabat kampus tersebut.  Ia pun menjawab, “wajarlah jika mahasiswa aksi, anak muda namanya juga yang menuntut keadilan,” bela ibu dua anak itu.

…………….

 

Oknum dosen sudutkan korban

Semenjak kasus pemerkosaan ini diproses oleh pihak  Dekanat FIS pertengahan April lalu, beberapa pejabat disinyalir membela mati-matian Andri Rivelino dari sanksi. Salah satunya Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Andy Hadiyanto. Menurut mahasiswa yang enggan disebutkan namanya ini, Andy ialah pejabat yang selalu membela Andri dalam setiap musyawarah kasus ini, “setiap kasus termasuk kasus Andri Rivelino terkait dengan mahasiswi-mahasiswi yang ‘dipacari’, ia (Andy) selalu membelanya,” ujar Mahasiswa FIS ini.

Bahkan, menurutnya, Andy Hadiyanto selalu menggiring opini di kelasnya yang terkesan memojokkan korban, “teman saya di JIAI (Jurusan Agama Islam) bilang pak Andy sering menganggap kasus ini suka sama suka. Jadi gak usah dipikirin,” ungkapnya sungguh-sungguh.

Namun begitu, Andy Hadiyanto membantah bahwa ia sering melakukan penggiringan opini seperti itu. Menurutnya, itu ia lakukan sebelum putusan 23 April dikeluarkan, “ waktu itu saya berusaha untuk bersikap objektif saja. Tapi kalo sekarang si Andri tidak pernah hubungi saya lagi. Saya yakin kalo sekarang dia bersalah,” kilah Andy.

Cerita sama dilakukan oleh Nusat Putra, Dosen PIPST yang sering mengeluarkan kata-kata yang menyudutkan korban. Menurtunya, omongan dosen itu tidak layak dikeluarkan oleh seorang pendidik, “masa pak Nusa Putra bilang ‘kalian akan saya ajari cara memerkosa agar perempuannya tidak berani melapor’, “ ceritanya. Perkataan tersebut dikeluarkan di hadapan teman-teman FN dan teman-temannya saat jam kuliah.

Hal tersebut jika benar adanya  tentunya sangat tidak pantas dilontarkan oleh pendidik seperti dosen.

 

 Indra Gunawan

 

 

 

 

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *