Kekerasan Seksual, Sahat Farida: Ini merupakan bentuk penindasan manusia atas manusia.

2 Comments

sahatRabu (03/07), kasus pemerkosaan yang mengorbankan mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mendapat perhatian lebih dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok, Sahat Farida berlian. Menurutnya, kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja, bisa menimpa siapa saja. Lebih sering, hal ini terjadi justru dilakukan oleh orang-orang dekat korban. “Dalam kasus ini, dosen dan mahasiswa adalah relasi yang cukup dekat dalam interaksi, mereka saling mengenal,” ungkapnya.

Alumni UNJ ini menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan hingga saat ini bisa diibaratkan seperti gunung es, dipermukaan, kecil saja tampaknya. Akan tetapi, persoalan dan ancaman kekerasan terhadap perempuan begitu kuat mencengkram dalam kehidupan masyarakat kita.  Kasus pemerkosaan sangat sulit untuk dibuktikan sebab korban lebih sering diam memendam derita yang ia rasakan.

Dalam sistem masyarakat Patriarki, meski perempuan menjadi korban, ia tetap disalahkan. “Dalam kasus pemerkosaan wanita selalu disalahkan, salah berpakaian, salah bersikap, salah dalam gaya bicara,” imbuhnya. Ia melanjutkan, pemerkosaan tidak dilihat lebih dalam sebagai persoalan pengendalian pikiran. Tak hanya itu, dampak pemerkosaan kepada korban sangat luar biasa. “Sering kita dengar, korban perkosaan trauma, mengurung diri dari pergaulan sosial, merasa hina, bahkan yang lebih ekstrem, melakukan tindakan bunuh diri,” tuturnya.

Bagi mantan Pemimpin Redaksi LPM Didaktika ini, pemerkosaan atau kekerasan terhadap perempuan bukan hanya masalah perempuan melainkan menjadi masalah masyarakat. Ia dapat terjadi di rumah, sekolah, kampus, atau pun tempat bekerja. Oleh sebab itu, lanjutnya, diperlukan pendidikan dan kesadaran masyarakat bahwa tindak pemerkosaan merupakan tindakan kriminal. “Ada payung hukum yang mengatur hal ini KUHP 285 – 291, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,” ucapnya.

Melalui kasus yang terjadi di UNJ,Sahat yang saat ini menginisiasi diterbitkannya peraturan daerah tentang perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan ini mendesak UNJ untuk menjadi pelopor dalam melawan kekerasan seksual sebagai wujud tri dharma. “Tidak ada perkosaan, tidak ada kekerasan seksual, tidak ada kekerasan sebab ini merupakan bentuk penindasan manusia atas manusia,” harapnya.

 

Virdika Rizky Utama

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *