Bukan Hanya Rutinitas

4 Comments

 

Tahun ajaran baru identik dengan Masa Pengenalan Akademik (MPA) yang menjadi ajang penyambutan bagi mahasiswa baru (maba) di seluruh universitas di Indonesia. Di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), MPA diadakan selama 8 hari. 2 hari masa briefing dan 6 hari masa pelaksanaan sebagai penyambutan untuk 5.400 mahasiswa barunya.

Kegiatan ini didasarkan pada surat keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor: 38/DIKTI/Kep/2000 tentang pedoman penyelenggaraan penerimaan mahasiswa baru pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) di lingkungan departemen pendidikan nasional. Kemudian, diperkuat dengan surat keputusan Rektor UNJ nomor 347/SP/2000 tentang pedoman pelaksanaan MPA.

Tahun ini tema yang diangkat yaitu “Membangun Jiwa Muda Berprestasi dan Berwawasan Global”. Menurut Ketua Pelaksana MPA Nadi Firas Huda tema tersebut merupakan gabungan dari ide panitia dan pihak rektorat. Sebelumnya, panitia mengusulkan tema “Membangun Jiwa Muda yang Merdeka dan Berprestasi”. Firas mengatakan usul menghilangkan kata “merdeka” berangkat dari anggapan bahwa kita telah lama merdeka. Penggantinya, “wawasan global” dirasa cocok dengan keadaan zaman saat ini.

Abdul Kholik selaku staf kemahasiswaan memiliki pendapat terkait tema ini. “Kita harapkan dari calon-calon mahasiswa baru ini yang masih memiliki idealisme dan jiwa muda mempunyai prestasi sesuai bidangnya masing-masing, baik itu sosial, seni, olahraga dan berwawasan global. Maksudnya, mereka sadar akan kondisi zamannya saat ini,” ucapnya panjang.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diadakan MPA yang berlangsung selama enam hari. Pelaksanaannya dibagi beberapa tahap, yaitu pembukaan pada Senin (24/08). Selasa (25/08) dilanjutkan dengan gelombang pertama untuk Fakultas Ekonomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Pendidikan. Kemudian, gelombang kedua untuk Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Fakultas Bahasa dan Seni dilanjutkan pada dua hari berikutnya. Terakhir, Sabtu (29/08) merupakan acara penutup.

Rencananya MPA akan dilaksanakan di kampus UNJ. Namun, karena keterbatasan tempat, pihak kampus terpaksa menyewa GOR Rawamangun untuk FT. Selain itu, permasalahan seperti komunikasi antar pihak kampus dengan panitia kampus, maupun panitia kampus dengan panitia fakultas dan jurusan masih sering terjadi. Contohnya, perbedaan tema yang diangkat kampus dengan fakultas dan jurusan, karena harus disesuaikan dengan latar budaya masing-masing fakultas dan jurusan. Meski begitu, menurut Firas hal ini tidak terlalu signifikan dan sedapat mungkin dihindari.

Terkait dengan isu perpeloncoan, Kholik merujuk pada keputusan yang dikeluarkan oleh dikti dan pihak rektorat. “Kita sangat menghindari kekerasan, apalagi sampai jatuh korban nyawa,” ungkapnya.Bila aturan ini dilanggar maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang terjadi seperti yang tertera dalam buku panduan untuk maba 2015/2016, halaman 30 pasal 17.

Kemudian, Pembantu Rektor Bidang Akademik Mukhlis R.Luddin berpendapat  bahwa MPA  seharusnya diarahkan untuk memperkenalkan mahasiswa baru dengan semua komponen universitas, baik itu lingkungan kampus, dosen, administrasi, maupun budaya akademiknya seperti tulis menulis. Agar nantinya dapat menghasilkan karya yang diakui secara nasional maupun internasional.

Hal ini berawal dari keinginan untuk meningkatkan kualitas UNJ yang minim produktivitas karya ilmiahnya. Bahkan, “budaya”copy-paste(plagiarisme) masih terdapat dalam diri sebagian civitas akademika. Tidak hanya di UNJ, melainkan seluruh kampus di Indonesia.Berdasarkan penelitian dari The Chronicle of Higher Education menunjukkan 55 persen mahasiswa melakukan plagiat skripsi (kompasiana.com, 1/07/2013).

Untuk mencapai hal tersebut, Mukhlis yakin hal ini bisa dicapai melalui pengenalan etika kehidupan kampus, pembentukan karakter, ditambah dengan Masa Pembinaan Mahasiswa Baru. Kegiatan yang disebut belakangan berlangsung pasca MPA.

Tentunya, MPA diharapkan tidak hanya sebagai rutinitas tahunan dalam menyambut maba. Apalagi, menurut Firas pihak panitia universitas membutuhkan dana sekitar 50 juta rupiah untuk acara ini. Makanya, Firas berharap melalui acara ini bisa menghasilkan mahasiswa yang mengenal UNJ, cinta UNJ, dan membanggakan UNJ.

Muhammad Fahri

 

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *