Rayakanlah Rasa!

2 Comments

 

Judul     : Perjalanan Rasa (Kurniaesa Publishing 2012)

Penulis : Fahd Djibran

Eternal youth is a landscape of a lie –masa muda yang abadi hanyalah lanskap kebohongan.” –hal. 160

Manusia dikatakan hidup tak hanya dari keberadaan organ-organ tubuh baik yang secara kasat mata dapat dilihat, maupun tidak. Tanpa hadirnya rasa, hewan sekalipun tak kan bisa hidup. Maka rasa memiliki bagian penting pada manusia.

Perasaan tercipta dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Itulah mengapa perasaan setiap manusia berbeda-beda. Sama seperti hukum di muka bumi ini, ada sebab dan akibat.

Keterkaitan manusia –kita, dengan lingkungan, seharusnya menyadarkan kita bahwa apa yang terjadi pada diri kita merupakan hasil perbuatan kita sendiri. Fahd Djibran bilang, langkah pertama menyelesaikan masalah yaitu dengan berdamai pada diri sendiri. Jika sudah begitu, kita akan dengan mudah mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah tersebut.

Rasa memiliki kuasanya sendiri. Apalagi rasa muncul di dalam diri tanpa dapat dikendalikan pihak luar. Tak salah jika rasa dapat menjelma jebakan dramatis yang mengambil bagian besar dalam hidup kita.

Merasa muda misalnya. Rasa ini membawa kita amat menggadang-gadangkan masa depan yang panjang. Padahal kita sadar, bahwa tak ada satupun yang bisa menjanjikan kebenarannya.

Mumpung masih muda. Kita terlanjur percaya diri. Merasa bebas untuk bisa mencoba melakukan apapun. Tak peduli buruk atau bahkan membahayakan. Mengatasnamakan puber untuk menjajal seks bebas. Atau iseng-iseng sehirup dua hirup serbuk-serbuk narkoba. Mumpung masih muda. Hajar saja!

Kadang rasa lupa mengingatkan kita akan kenyataannya. Bahwa bekas luka tak bisa dihapus dan dikembalikan seperti semula, kehormatan tidak bisa disembuhkan dengan pil KB, dan kita hanya punya satu nyawa untuk kita jaga –bukan untuk disia-siakan.

Fahd mengutip nasihat Green Day dalam Viva La Gloria, “Eternal youth is a landscape of a lie –masa muda yang abadi hanyalah lanskap kebohongan.” Nampaknya kita akan sepakat dengan lirik ini. Mereka yang terlanjur tua, akan terjebak pada rasa penyesalan.

Begitulah Fahd dalam menulis. Tertera genre novel/fiksi pada sampul belakang buku ini. Namun ketika membacanya, kita akan menemukan kumpulan cerita dengan 51 sub-judul. Satu sama lain nampak tak ada hubungannya. Lebih mudah menyebutnya sebagai buku kotemplasi diri.

Sudah menjadi gaya Fahd yang mengajak pembaca untuk berfilsafat. Ayah dua anak ini kerap melibatkan peran Tuhan di dalam ceritanya. Melalui pemilihan bahasanya, agama apapun akan setuju dengannya.

 

Latifah

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *