Sarjana Kilat

1 Comment

Seperti biasa, ketika Masa Pengenalan Akademik (MPA) setiap rektor di seluruh universitas pasti menginginkan mahasiswa agar cepat lulus. Pun itu yang dikatakan oleh Rektor UNJ Djaali, ia berharap 5475 mahasiswa baru pada 2015 ini cepat lulus. Hal ini bukan tanpa sebab, lamanya mahasiswa menempuh masa studi dianggap akan mengganggu penerimaan mahasiswa baru pada tahun selanjutnya. Oleh sebab itu, mahasiswa diharuskan untuk cepat lulus. Tanpa memikirkan tradisi akademik yang terjadi di kampus.

Lulus secepat mungkin, kalau bisa jenjang Strata satu ditempuh hanya dengan tujuh semester. Imbauan tersebut tampaknya sangat menggiurkan. Bukan hanya untuk semua mahasiswa baru melainkan sebagian besar mahasiswa lainnya. Jika mahasiswa dapat menyelesaikan itu, maka tak pelak, gelar mahasiswa berprestasi dapat diraih dengan mudah. Alhasil, mahasiswa hanya terpaku pada ruang kelas.

Tak cukup hanya pesan rektorat yang ingin mahasiswa cepat lulus. Pada pelaksanaan MPA pula, mahasiswa mulai dikenal dengan mitos bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Wakil masyarakat dan motor penggerak perubahan, yang intinya malah membuat perbedaan posisi antara masyarakat dengan mahasiswa. Seolah-olah mahasiswa memiliki posisi tersendiri di dalam struktur masyarakat.

Tulisan ini coba memaparkan secara singkat, mengapa rektor ingin mahasiswa cepat lulus dan bagaimana posisi mahasiswa dalam masyarakat.

***

Hari ini, pendidikan menjadi sebuah barang dagangan yang sangat laku. Berbagai macam jenis kampus dengan beragam biaya pun tumbuh subur di Indonesia. Mempunyai pendidikan tinggi, seolah-olah akan memberikan jaminan hidup yang layak. Oleh sebab itu, UNJ pun tak ingin lepas begitu saja melihat peluang ini, banyaknya mahasiswa akan menambah juga pemasukan bagi kampus.

UNJ menjual label universitas negeri dan iming-iming fasilitas yang bagus bagi mahasiswa. Oleh sebab itu, jika mahasiswa ingin merasakan itu, ia diharuskan membeli, tak peduli berapa pun harganya. Seperti yang penulis ungkapkan di atas, dengan menempuh pendidikan tinggi, masyarakat akan dapat memiliki hidup yang layak.

Setelah mahasiswa masuk, ia akan diproses dengan beragam aturan dan mata kuliah. Pembelajaran yang kaku, koleksi buku di perpustakaan pun masih jauh dari kata lengkap serta adanya pembatasan masa studi bagi mahasiswa, semakin membuat mahasiswa berjuang untuk cepat lulus. Tak peduli hanya dengan datang, duduk, diam atau menjadi mahasiswa yang memeiliki tiga ruangan yakni kelas, kantin, dan kosan. Baginya yang penting lulus. Parahnya, setelah lulus tak ada jaminan kerja. Semuanya dilepas mengikuti kebutuhan pasar global. Tidak ada distribusi setelah memproduksi.

Jika demikian, UNJ tak ubahnya pabrik. Menerima bahan produksi, mengolah, dan menghasilkan produk yang disebut mahasiswa. Mahasiswa dituntut bertindak pragmatis untuk cepat lulus, mungkin ini terjadi di seluruh universitas di Indonesia. Alhasil, data harian kompas pada awal bulan Agustus menyebutkan bahwa jumlah pengangguran terdidik di Indonesia mencapai 1,5 juta.

Logika ekonomi yang berkembang di ranah pendidikan, membuat kampus hanya berorientasi pada income. Kemudian memperparah kondisi pendidikan Indonesia, yang hanya menghasilkan buruh atau pekerja, tak ubahnya era kolonoialisme Belanda saat memberlakukan politik etis.

***

Bangga, ini mungkin merupakan salah satu perasaan mahasiswa baru. Bisa menggunakan alamamater, melepas semua atribut sekolah. Kemudian, yang tak kalah penting, saat MPA, mahasiswa baru diajarkan untuk berteriak “Hidup Mahasiswa”! Setelah itu, mahasiswa baru diajarkan bahwa ia adalah agen perubahan. Sebagai makhluk penumbang rezim dan pembangun rezim lainnya. Demi menambahkan perasaan tersebut, tak lupa diputarkan film dokumenter penggulingan rezim Soeharto pada 1998.

Dengan begitu, mahasiswa merasa jumawa bahwa dirinya adalah sebuah entitas tersenidri yang beda dengan masyarakat. Mahasiswa membuat sekat dengan masyarakat, padahal mahasiswa berasal dari masyarakat. Mungkin, yang berteriak heroik “hidup mahahasiswa” belum tentu mengetahui, apa itu mahasiswa? Sejak kapan kata “mahasiswa” itu dipakai? Bukankah Soekarno, Syahrir dkk menggunakan kata pemuda?

Saya tidak akan membahas itu, sebab sebenarnya itu sudah terjawab jika kita secara cermat membaca sejarah. Artinya, pengetahuan “tentang mahasiswa” didapat dengan mengedepankan tradisi akademik yakni baca,tulis, dan diskusi. Bukan hanya melalui celotehan senior, yang bersifat dogmatis.

Kembali pada posisi mahasiswa dalam masyarakat, secara historis mahasiswa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Soekarno hadir dari kalangan priyayi rendahan. Sebagai seorang insinyur, ia tentu saja punya kesempatan untuk menjadi seorang arsitek. Tapi, itu ditingggalkannya. Ia lebih memilih hidup bersama masyarakat.

Berbaur dan mengenali setiap karakteristik kehidupan masyarakat menjadi pekerjaannya. Bukan hanya Soekarno, melainkan seluruh pendiri bangsa. Semua bidang keilmuan yang mereka miliki, diabdikan seluruhnya untuk masyarakat. Melihat kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan. Mereka kritis melihat situasi yang ada dan merumuskan cara untuk berjuang. Meski kondisi dan semangat zaman berbeda, setidaknya kaum intelektual saat itu tidak mempunyai sekat atau bahkan membuat sekat dengan masyarakat.

Kini, untuk coba hidup susah pun enggan. Melihat kemiskinan hanya sebatas di ruang kuliah dan  perpustakaan. Kritis pun hanya digunakan untuk meraih nilai A atau sekadar perlombaan debat. Mahasiswa yang sering disebut kaum intelektual mestinya membuka mata, otak, dan telinga. Untuk memerhatikan keadaan dan sedapat mungkin mencari pelajaran dari hal-hal ini semuanya untuk membangun Indonesia.

 

Virdika Rizky Utama

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *