Dua Kata

1 Comment

 

“Afa, kemari,”panggil ibu.

“Ya, bu kenapa?”tanya Afa sambil menghampiri ibunya.

“Kamu antarkan ini ke rumah Bu Dina,” ucap ibunya sambil menyerahkan bungkusan yang berisi kue-kue yang memang dijual oleh ibunya.

“Ya, bu.”

Afa segera mengantarkan bungkusan yang ada ditangannya dengan berjalan kaki, jarak rumahnya yang dekat dengan rumah bu Dina memang cukup dekat.  Didepan rumah Bu Dina, Afa mengetuk pintunya.

“Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam,” jawab bu Dina lalu keluar dari rumahnya.

“Permisi bu, saya kemari mau mengantar kue yang Ibu pesan.”Afa menyodorkan bungkusannya.

Bu Dina menerima bungkusan itu sambil terus menatap Afa.

Afa yang jengah dengan tatapan yang diberikan oleh bu Dina. ”Saya pamit pulang ya bu.”

Bu Dina hanya diam, tatapannya semakin menusuk kearah Afa.

Afa yang semakin gugup memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari situ.”Tunggu.”

Afa menengok. ”Terima kasih,”ucap bu Dina.

“Sa..ma-sama.”Afa berbalik pergi meninggalkan rumah itu.

Sungguh, Afa sebenarnya sudah terbiasa atau lebih tepatnya mencoba untuk terbiasa. Tatapan yang sering diberikan oleh tetangganya, penuh selidik dan cemooh. Kalau dilihat dari segi fisik Afa bukan seorang yang memiliki kekurangan, dia sangat lengkap. Biarpun dari segi finansial dia dan ibunya yang sangat pas-pasan sebenarnya bukan itu alasan dari sikap tetangganya itu.

*****

“Jadi?”

Afa menatap sahabat didepannya penuh tanda tanya”Maksudnya?”

“Sampai kapan sih, mereka akan seperti itu kepadamu?”jawab Ratna bertanya balik.

Afa mengerti apa maksud dari Ratna. ”Aku tak tahu, mungkin sampai aku bisa mengucapkannya.”

Ratna menatap Afa prihatin.

“Sudahlah, ayo kita pergi ke pasar malam,”ucap Afa dengan ceria. Ya, hari sabtu adalah jadwal mereka untuk pergi ke pasar malam.

Ratna mengikuti Afa yang sudah terlebih dahulu berjalan didepannya. Meski sekarang Afa terlihat ceria namun dia tahu jika sahabatnya itu sedang menutupi kesedihannya itu. Mereka yang sama -sama duduk di kelas VII disebuah SMP negeri di daerah itu. Pertama kali bertemu karena Ratna pindah, tepat di depan rumahnya, tepatnya 3 tahun lalu. Hari itu Afa dan ibunya berkunjung untuk sekedar menyapa tetangga baru. Afa yang hanya sekedar mengikuti ibunya  memilih untuk diam sementara  ibunya dan kedua orang tua Ratna mengobrol. Afa yang bosan memilih keluar dari rumah itu, ternyata di depan rumah dia bertemu dengan Ratna. Ratna yang mengajaknya berkenalan pertama kali, mungkin sikap easy-going Ratna yang membuat Afa nyaman yang membuat mereka bersahabat sampai sekarang.

Pasar malam yang selalu buka setiap malam itu, memang sangat ramai dikunjungi oleh penduduk di sekitar perkampungan itu. Pasar itu terdapat berbagai area permainan seperti pontang-panting, roler coster, bianglala, bahkan pertunjukan motor yang bisa memutar dinding. Tentu dengan tidak secanggih Dufan, tetapi cukup untuk mereka. Selain berbagai permainan, ada juga banyak para pedagang yang menjajakan dagangannya.

Afa dan Ratna yang sedang memakan harum manis ditangan mereka dengan lahap sambil terus menyusuri tempat pada pedagang. Afa berhenti di depan sebuah boneka beruang yang cukup besar berwarna merah muda. Sejenak Afa menatap boneka itu dengan penuh minat tapi sedetik kemudian dia menggeleng. Ratna melihat gerak-gerik Afa, ikut terpaku dengan boneka itu.

“Ratna, kita pulang ya. Ibuku menyuruhku jangan pulang terlalu malam.” Afa  menarik tangan Ratna.

*****

Afa yang disuruh ibunya pergi membeli sayur di warung terdiam ketika gerombolan ibu-ibu yang sedang memilih-milih sayuran membicarakan dirinya.

“Si Afa, tuh anak emang ga sopan. Waktu saya mau DP kue ibunya, dia cuma diam sambil ngeliatin saya.  Saya kan sengaja tungguin dia ngomong terima kasih,”dumel seorang ibu yang kemarin datang kerumahnya.”

“Yah, ibu. Afa emang kaya gitu, dari dulu dia ga pernah ngomong terima kasih. Saya pernah nanya sama ibunya, tahu ga ibunya ngomong apa?” tanyanya memancing ibu-ibu yang lain.

“Apa?”tanya mereka serentak.

“Afa pasti bakalan jadi kaya patung kalau mau ngomong itu.” Mereka tertawa hingga salah satu dari mereka melihatnya memberikan kode untuk ibu-ibu yang lain.

Afa menunduk lalu pergi meninggalkan mereka. Terima kasih: dua kata yang tidak pernah bisa diucapkan olehnya. Ketika dia ingin mengucapkannya seakan lidahnya kelu dan otaknya seolah kosong. Afa berusaha berlatih untuk bisa mengucapkan dua kata sakral itu tapi ketika berhadapan dengan orang lain semua latihannya seolah sia-sia.

Afa mendatangi rumah Ratna, melihat wajah sahabatnya yang sedih, Ratna langsung membawa Afa ke kamarnya.”Ada apa?”

“Mereka bilang aku tidak sopan.”

Ratna membiarkan Afa menangis, akhirnya Afa mengeluarkan semua emosinya.”Kau kan tau, aku ga maksud bikin mereka tersinggung aku cuma ga bisa ngucapinnya aja.”

Ratna mengerti ketidakmampuan sahabatnya jika harus mengucapnya dua kata itu.”Kamu tunggu sini ya.”

Ratna turun dari temat tidurnya lalu membawa sebuah bingkisan besar lalu memberikannya pada Ratna.

“Kado ulang tahunmu,” jawab Ratna mengerti tatapan matanya.

Afa terdiam.

“Ayo terima, sekarang buka kadonya.” Afa masih terdiam akhirnya menuruti perintah Ratna.

Afa menatap hadiah Ratna, sebuah boneka beruang yang mirip seperti boneka di pasar malam.

“Kau membelinya?”

“Ya, aku tahu kau menyukainya.”

Mata Afa berkaca-kaca menatap Ratna sahabatnya.”Terima kasih.”

 

Naswa

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *