Berbeda, tetapi Satu Tujuan

No Comment Yet

Judul       : Keselarasan dan Kejanggalan

Penulis   : Savitri Scherer

Penerbit : Komunitas Bambu

Cetakan  : II, November 2012

Tebal       : xxxii + 259

Pergulatan antargolongan, haruslah dalam hal perjuangan melayani masyarakat

Indonesia telah mengumumkan kemerdekaannya sejak 70 tahun yang lalu. Kemerdekaan ini sendiri tidaklah didapat dengan mudah, melainkan dengan penuh pengorbanan. Para Founding Father sadar bahwa rakyat telah lama menderita dibawah kekuasaan kolonial.

Sebelum munculnya para Founding Father seperti Sukarno dan Hatta, perjalanan diawali oleh mereka yang menerima pendidikan awal dari sekolah Belanda. Mereka lahir saat rasa nasionalisme mulai tumbuh di kalangan masyarakat. Melalui buku Keselarasan dan Kejangganlan, Savitri menggambarkan bagaimana keadaan zaman tersebut. Dalam hal ini Savitri mengambil  3 tokoh besar, yaitu Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Sutomo.

Diawali dengan Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryadiningrat). Ia merupakan seseorang yang berasal dari keluarga kerajaan Paku Alam. Meskipun berasal dari keturunan ningrat, Ia menghabiskan hidupnya untuk kemajuan masyarakat. Awalnya dia berkecimpung di dunia perpolitikan (di Indische Partij), kemudian berpindah ke dunia pendidikan dan budaya (mendirikan taman siswa).

Melali tulisannya “Sekiranya Saya Orang Belanda”, ia mengecam perayaan hari kemerdekaan Belanda yang menggunakan uang rakyat Indonesia. Padahal, kondisi masayarakat Indonesia sangat memprihatinkan dan kesadaran yang mulai tumbuh dalam diri masyarakat untuk berani tidak mematuhi Belanda (hal 51).

Akibatnya, Suwardi dibuang ke Belanda bersama Cipto dan Dowwes Dekker. Namun, hal ini tidak membuatnya berhenti dalam menyuarakan keluhan-keluhan masyarakat Indonesia yang tertindas.

Menariknya, setelah kemabli ke Indonesia, Suwardi mengubah pandangannya dari politik radikal kearah pendidikan dan kebudayaan. Disini, Suwardi berusaha agar masyarakat terus melestarikan kebudayaannya yang mulai luntur oleh kebudayaan barat.

Berbeda dengan Suwardi. Cipto mangunkusumo lebih memilih jalan politik radikal untuk memperjuangkan hak-hak masyarakatnya. Walaupun berasal dari kalangan priyayi (bangsawan), Cipto lebih suka memakai pakaian jawa kromo (orang biasa), karena saat itu pakaian menjadi pemisah antara masyarakat biasa dan penguasa (hal 90).

Melalui tulisan dan aktivitas politiknya, Cipto selalu mengecam kebijakan penguasa yang selalu menindas rakyat. Ini dibuktikan ketika dia menyampaikan pidato di dewan rakyat tahun 1926, yakni penghisapan yang dilakukan kerajaan dan pemerintah Hindia Belanda terhadap masyarakat yang semakin menderita.

Karena tulisan dan aktivitas politinya yang radikal, Cipto sering kali dijatuhi hukuman oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia dua kali mengalami masa pembuangan, di Belanda (tahun 1913) dan ke pulau Banda (tahun 1927).

Selanjutnya, Sutomo. Bersama dengan Suwardi dan Cipto, mereka mendirikan organisasi Budi Utomo (hari kelahirannya diperingati sebagai hari kebangkitan nasional). Sutomo berjuang agar terwujudnya kesejahteraan sosial dan kemakmuran pada masyarakat.

Berbeda dengan Cipto yang radikal, Sutomo menempatkan diri sebagai “Juru Damai” bagi masyarakatnya. Sutomo melihat masyarakat sebagai suatu keserasian, di mana setiap orang harus mengetahui tugas yang akan dilaksanakan sesuai dengan keahliannya (hal 143).

Sutomo menyadari bahwasanya terdapat ketidakadilan yang menimpa masyarakat dan perlunya perbaikan. Menurutnya, hal ini dapat dicapai melalui persatuan di kalangan priyayi, karena mayoritas masayrakat cenderung mengikuti pemimpinnya tanpa ada paksaan dari pihak luar (dilakukan secara berangsur-angsur).

Oleh karena itu, dalam aktivitas politiknya, Sutomo mengusahakan perbaikan masyarakat melalui pendirian sekolah untuk bumi putra, pendirian rumah sakit, dan bantuan beasiswa bagi bumi putra.

Walaupun berbeda secara pemikiran, Suwardi yang mencintai budaya Jawa, Cipto yang radikal, dan Sutomo yang moderat. Tetapi, semuanya menginginkan supaya terwujudnya suatu perbaikan dalam kehidupan masyarakat.

Ketiganya telah mengawali perjuangan bangsa ini dengan ciri khasnya masing-masing. Hal ini dilanjutkan oleh generasi Sukarno dan Hatta yang mengantarkan bangsa ini menuju pintu kemerdekaan.

Dalam empat bab buku ini, Savitri memberikan bagaimana cara-cara yang ditempuh ketiganya untuk menghadapi tantangan zaman saat itu. Dan saat ini, giliran kita untuk secara jujur membela bangsa ini agar terhindar dari kemiskinan dan ketidakadilan, sesuai dengan cara dan kemampuan masing-masing.

 

Muhammad Fahri

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *