Tertawa Bersama Penjahat

No Comment Yet

 

Batman sebagai tokoh utama mendadak kalah pamor dalam The Dark Kight (2008). Orang-orang justru lebih menggemari karakter antagonis dalam film tersebut, yaitu Joker. Apa sebabnya?

Sosok Joker digambarkan sebagai badut licik yang sama sekali tidak lucu. Mulutnya lebar karena bekas luka sobekan. Sebagian luka itu dibuat ayahnya sewaktu Joker kecil. Saat itu, Joker menangis ketakutan melihat sang ayah yang dalam keadaan mabuk berat memukuli ibunya. Tapi tangisan itu justru membuat ayahnya semakin kesal dan merobek mulut Joker dengan sebilah pisau sambil berkata, “why so serious” (kenapa mesti serius).

Kalimat itu kemudian diulang terus ketika Joker melakukan aksi kejahatan. Melengkapi kalimat tersebut, Joker tertawa puas seakan menikmati aksi tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Bahkan, ketika dia berencana mengebom sebuah kapal yang ditumpangi ratusan orang. Melihat sikap Joker, saya jadi ingat pendapat teoritikus terkemuka, Sigmund Freud.

Pengagas psikoanalises ini yakin bahwa manusia dalam bentuknya yang paling primitif memiliki hasrat tinggi pada tindak kekerasan. Namun, hal itu sangat tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup manusia. Makanya, manusia kemudian membuat seperangkat aturan untuk mengekang pelampiasan hasrat tersebut. Kita menyebutnya peradaban. Dengan pengertian ini, kita bisa mengatakan bahwa setiap kebudayaan yang membiarkan terjadinya tindak kekerasan mencerminkan suatu bentuk masyarakat yang belum beradab.

Tetapi, upaya pengekangan ini memiliki efek samping. Menekan sifat primitif ini terus-menerus bisa menimbulkan depresi atau bahkan gangguan kejiwaan. Karena itu, manusia mencari alternatif lain untuk melampiaskan hasrat tersebut. Salah satunya lewat kekerasan verbal. Bentuk yang satu ini jarang terdeteksi dan sangat menghibur. Buktinya, sering kali seseorang membuat lelucon tentang kecacatan fisik orang lain. Meski dari sudut moral ini bukan hal yang etis, toh orang-orang malah tertawa puas.

Alternatif lainnya, yaitu dengan mengonsumsi kisah-kisah fiktif tentang kekerasan. Cara yang belakangan ini, semakin populer berkat adanya teknik perfilman. Perhatikan saja betapa lakunya film—film minim dialog namun begitu padat dengan aksi-aksi kekerasan. Lalu, apakah gagasan Freud ini bisa menjawab alasan peran antagonis seperti Joker disukai banyak orang? Bisa, iya. Bisa juga, tidak.

Iya, jika kita mengamini gagasan Freud sebagai suatu kebenaran bahwa hasrat manusia terhadap kekerasan itu merupakan sifat bawaan sejak lahir. Apalagi, karakter fiktif ini memang diciptakan sesuai gambaran Freud tentang sifat alami manusia.

Tapi, saya masih ragu dengan gagasan Freud. Sebab pada kenyataannya, perang tidak terjadi karena manusia sekadar ingin mendapatkan pertarungan. Lebih dari itu, para pemenang perang ingin mendapatkan keuntungan ekonomi, sosial, politik dan lain sebagainya. Bisa dikatakan, kekerasan bukan merupakan tujuan. Melainkan upaya manusia menundukkan manusia lainnya. Sehingga pihak yang kalah bisa dipaksa untuk melayani kepentingan pihak pemenang.

Di samping itu, Joker hanya tokoh fiksi. Ada banyak hal yang membuat karakter ini begitu populer. Faktor-faktor itu berkaitan dengan kondisi riil masyarakat. Misalnya, sikap Batman yang terlalu kaku dan suka main hakim sendiri. Hal ini sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti aksi sweeping yang sering dilakukan sejumlah organisasi masyarakat.

Atau, tentang hubungan keluarga Joker yang sangat pahit. Ini juga merupakan pengalaman yang dialami banyak orang. Meski pun, tidak sepahit yang dialami Joker. Namun, kesamaan nasib itu cukup untuk membuat orang-orang menempatkan solidaritasnya pada karakter tersebut.

Saya punya teman seorang polisi. Jika mengingat latar pekerjaan, harusnya dia punya ketertarikan lebih pada Batman, si penyelamat itu. Tapi ternyata teman saya lebih simpatik pada Joker. Dua paragraf barusan sudah menjelaskan alasannya. Rasa simpati ini, merupakan modal yang cukup untuk menjadikan teman saya konsumen yang setia bagi pasar perfilman. Dia bahkan mengungkapkan ketidak sabarannya menunggu film yang menghadirkan kembali tokoh Joker. “Sial, baru dirilis tahun depan (2016),” keluhnya.

 

Daniel Fajar

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *