Memikat Minat Berorganisasi Melalui Kampung G

3 Comments

Pentingnya manfaat berorganisasi menginisiasi panitia MPA universitas untuk membuat Kampung G.

Meski siang terik, tidak mematahkan semangat mahasiswa baru (maba) dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) untuk berkunjung ke gedung G, Kamis (27/8). Ratusan maba ini nampak antusias mengikuti salah satu rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Akademik (MPA), yaitu pengenalan organisasi kemahasiswaan yang ada di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UNJ dipusatkan pada gedung G. Letaknya tepat di samping parkir motor pintu belakang. Bangunan 3 lantai ini menampung 19 organisasi yang berada di bawah Pembantu Rektor III. UKM dibedakan dari masing-masing minat dan bakatnya. Meliputi pemerintahan, kerohanian, tulis menulis, diskusi, olah raga, kesenian, pendidikan, dan media publik.

Sayangnya, baru FIK yang menyediakan waktu khusus untuk mengenalkan gedung G atau dikenal dengan Kampung G. Bahkan MPA gelombang pertama yang diikuti oleh maba Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ekonomi (FE), tak ada pengondisian. Mereka hanya sekadar lewat. Begitupun Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) dan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) menjadwalkan kunjungan sesaat sebelum pulang.

Waktu ini dinilai tidak efektif lagi untuk Kampung G. “Udah capek, Kak. Seharusnya siang atau jam sembilan gitu,” tutur Dwinda, maba Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, FIS. Aris Setiawan, ketua Forum Komunikasi gedung G juga membenarkan sebagian maba yang tidak fokus mengikuti Kampung G.

Hal ini disebabkan padatnya jadwal MPA di masing-masing fakultas dan jurusan. “Sampai pada waktu seharusnya, mereka masih ada agenda di kelas. Padahal kami sudah koordinasi,” jelas mahasiswa jurusan sejarah yang juga menjabat sebagai ketua KSR-PMI itu.

Sebenarnya, pengondisian maba di depan gedung G merupakan hal baru. “Tahun sebelumnya cuma buka stand,” lanjutnya. Kampung G bertujuan untuk mengakomodasi serta memberi sosialisasi kepada maba. Sehingga maba tidak lagi asing dengan gedung G. Untuk keberlangsungan organisasi, regenerasi memiliki andil penting. Sepinya peminat dapat membuat kinerja organisasi menjadi kurang. “Kondisinya jadi tidak berimbang,” ujar Aris.

Pengondisian ini dinilai Aris memberi pengaruh signifikan. Sepengalamannya dari tahun lalu, 40% maba yang mendaftar sebagai anggota mengetahui organisasi melalui kegiatan ini. Sebagian besar tertarik melalui agenda parade yang dilakukan oleh masing-masing UKM pada penutupan MPA. Menurut Mohammad Ramadhan, ketua Sigma TV, berorganisasi memiliki manfaat tersendiri. “Berorganisasi dapat menumbuhkan karakter sesuai dengan lingkungan kita,” ujar mahasiswa Pendidikan Geografi FIS tersebut.

Pentingnya mengikuti organisasi juga disampaikan oleh Dedi Purwana, Dekan FE. “Organisasi dapat melatih kemandirian,” ujarnya. Dosen Pendidikan Ekonomi ini menyadari bahwa pada dunia kerja softskill menjadi pertimbangan utama. Hal tersebut tidak didapatkan di ruang kelas.

“Pemerintah juga akan mengeluarkan peraturan adanya surat keterangan pendamping ijazah guna mengetahui kemampuan lulusan di luar akademiknya,” lanjutnya. Walau begitu, ia tetap mewanti-wanti mahasiswa agar tidak terlena oleh urusan organisasi sehingga melupakan kuliahnya.

Dedi menyebutkan, tidak sampai setengah dari mahasiswanya di FE mengikuti organisasi yang ada di kampus. Menurutnya, organisasi yang ada belum bisa mencakup seluruh minat dari mahasiswa. Turunnya keinginan mahasiswa untuk berorganisasi pun diakui Ahmad Sofyan, Pembantu Rektor III, disebabkan kuliah yang kejar tayang. Mantan Dekan FIK ini mengharapkan setidaknya 20% maba dapat mengikuti kegiatan organisasi, “kalau bisa penerima bidikmisi diwajibkan untuk ikut organisasi.”

 

Latifah

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *