Mengisi Kekosongan Sejarah Melalui Novel

No Comment Yet

Judul Bukbukuu: The Missing History
Penulis: Peer Holm Jorgensen
Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: Cetakan I, Juni 2015
Tebal : iv + 476 halaman, ISBN 978-602-0989-87-7

 

Ada sebuah adagium menyatakan bahwa sejarah hanya untuk orang-orang yang menang. Artinya, penulisan sebuah kebenaran peristiwa sejarah didasari oleh sudut pandang pemenang dalam bidang politik, ekomoni, sosial dan budaya. Oleh sebab itu, narasi sejarah Indonesia lebih banyak  diisi oleh tokoh-tokoh besar atau tema-tama besar.

Pun demikian dalam penulisan sejarah di Indonesia. Terutama tentang penulisan sejarah Indonesia pasca kudeta pada 1965. Rezim Orde Baru (Orba) yang dipimpin oleh Soeharto, mengubah penulisan sejararah. Sosok Soekarno dianggap bertanggung jawab atas meninggalnya para jendral. Akan tetapi, ada satu hal yang menarik saat peralihan kekuasan dari Soekarno ke Soeharto.

Hal itu ialah kondisi kehidupan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang dikirim oleh Soekarno sebagai bentuk usaha untuk mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara-negara yang sudah lama merdeka. Mahasiswa yang dipilih adalah orang yang sejalan dengan pemikiran Soekarno.  Soekarno berharap mereka yang dibiayai negara untuk kuliah di luar negeri dapat kembali membangun Indonesia dengan konsep trisakti. Berdaulat di bidang politik dan ekonomi, serta berkepribadian dalam budaya.

Lalu bagaimana kondisi kehidupan mahasiswa yang dikirim ke luar negeri setelah terjadi pergantian rezim? seperti diektahui, Soeharto mendeskreditkan peran Soekarno dan pendukungya. Kehidupan mahasiswa itu tidak banyak atau bahkan hampir tidak pernah dibahas dalam buku sejarah. Hal ini yang coba dijelaskan oleh penulis, bukan melalui buku sejarah yang kaku melainkan dengan sebuah novel.

Melalui tokoh utama, Dewa Soeradjana—biasa dipanggil Djani-. Mahasiswa yang dikirim oleh Soekarno ke Slovenia pada Maret 1961 (hal.22). Ia memilih studi kimia. Awalnya, ia bangga bisa berkuliah di luar negeri dan terlibat dalam perumusan konferensi  gerakan nonblok 1961. Tak hanya itu, ia juga menasbihkan diri sebagai seorang Soekarnois. Tak jarang dalam beberapa percakapan dengan tokoh lain, ia sangat mengangungkan Seokarno dan ajaran-ajarannya (hal.70-71).

Sampai ketika kudeta 1965, ia merasa kehidupannya mulai terancam. Bukan hanya Djani, melainkan seluruh mahasiswa yang dikirim Soekarno ke negara-negara kiri sedang terombang-ambing. Gerak-gerik mereka diawasi oleh mata-mata pemerintah Orba melalui atase militer di negara masing-masing (Hal.70).

Ia tak berani pulang ke Indonesia sebab banyak teman dan sanak saudaranya dibunuh karena pro Soekarno (hal.90). Hingga suatu ketika, ia mendapat undangan misterius. Dia ragu untuk datang. Namun, rasa penasaran dan kerinduannya akan kabar terbaru dari tanah air mengalahkan ketakutan dan kecurigaannya. Undangan tersebut berupa sebuah konferensi.

Ketika tiba tempat konferensi di Wina 1972, dia pun merasa dijebak. Konferensi lima hari itu bersifat rahasia, dipimpin oleh Jenderal Soemitro dan sejumlah petinggi Orba (hal.114). Konferensi tersebut ternyata merencanakan kudeta terhadap Soeharto yang dianggap sangat diktator dan hanya menjual Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia ke luar negeri. Soemitro bahkan merencanakan untuk membawa kabur Soeharto ke Eropa sebagai bagian rencana kudeta (hal.185). Akan tetapi, rencana itu gagal sebab Ali Murtopo membelot mendukung Soeharto.

Persitiwa kup gagal itu dikenal dengan persitiwa malapetaka lima belas januari (Malari) 1974. Setelah mengetahui itu, semua anggota konferensi Wina menjadi buruan utama Orba. Djani merasa dijebak, sebab ia bukan hanya mempertaruhkan nyawanya sendiri. Ia mempertaruhkan nyawa seluruh anggota keluarganya. Ia baru berani kembali Indonesia pada 1978, setelah 17 tahun meninggalkan Indonesia, dengan pemeriksaan yang sangat ketat. Padahal, ia pulang ke tanah airnya sendiri.

Buku yang berdasarkan kisah hidup Djani ini, sangat menarik untuk dibaca. Ia menceritakan bagaimana kehidupan mahasiswa Indonesia di negara-negara Eropa Timur yang tak seberuntung Djani. Sehingga kewarganegaraan mereka dicabut oleh pemerintah dan hidup menjadi eksil. Hanya karena sebuah konstelasi politik, mereka menjadi korban.

Tak hanya itu, penulis lebih memilih menceritakan sebuah kesaksian sejarah tidak dengan buku teks sejarah yang mesti melewati tahapan heuristik, verifikasi, dan interpretasi yang sangat kaku. Penulis lebih memilih menceritakannya melalui sebuah novel. Sebab, novel lahir dari ketidaksempurnaan sejarah. Ia melengkapi yang luput atau tak tercatat oleh sejarah.

Sejarah sebuah bangsa semestinya didasarkan pada kebenaran yang ada dalam beberapa peristiwa. Akan tetapi, ada sejarah sebagian bangsa yang didasarkan pada beberapa kebenaran saja dari peristiwa yang sama. Tak hanya itu, sejarah mestinya dikisahkan harus dengan kejujuran sehingga dapat menjadi penerang bagi generasi mendatang, bukan mewariskan awan gelap masa lalu.

 

 

Virdika Rizky Utama

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *