Apresiasi Karya Sastra dari Komunitas

No Comment Yet

P1070928

Kamis, (1/10), bertempat di Aula gedung S, Kampus A Universitas Negeri Jakarta (UNJ), komunitas Stomata merayakan ulang tahun yang kedua dengan menggelar rangkaian acara. Rangkaian acara tersebut berupa Bedah Buku, Penampilan Seni, Semacam Pidato Kebudayaan, Peluncuran Stomata edisi IX dan bazar buku.

Terdapat tiga buku yang dibedah, yaitu buku Kumpulan Puisi Museum Hujan karya Nur Hawatip,  buku Kumpulan Puisi Skenario Penyusun Antena karya Galeh Pramudianto dan Buku Kritik Sastra Indonesia Abad XXI karya Saifur Rohman. Bedah buku tersebut dibagi menjadi tiga sesi. Bedah buku dilakukan karena Stomata sebagai komunitas sastra menyiapkan wadah untuk mengapresiasi karya sastra.

Bedah buku sesi pertama adalah buku Kumpulan Puisi Museum Hujan karya Nur Hawatip. Sementara dua mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI), Faisal Fathur dan Ilma De Sabrini, yang bertugas menjadi pembedahnya.

Menurut Faisal, puisi Hawatip menawarkan hal yang beragam. “Tidak hanya ngomongin cinta dari unsur kesedihannya atau patah hati,” ujarnya. Sementara itu menurut Faisal, dalam kefokusan penulisan, Hawatip memfokuskan pada dua fokus, yaitu subjektivitas dan objektivitas. “Subjektivitas hanya sampai pada pengenalan ide, setelah itu seorang penyair memasukkan pengalaman dengan objektivitas,” jelasnya.

Tanggapan lain dikatakan oleh Ilma. Menurutnya puisi Hawatif ini ada unsur Sapardi dari bahasanya. Namun hal itu membuat Hawatif terkejut. “Puisi saya ini puisinya berbicara tentang kalian. Puisi tentang pengalaman pribadi lalu saya olah menjadi imajinasi,” ucap pria yang telah menjadi alumni JBSI ini.

Seorang peserta, Febriyani, menanyakan perihal bagaimana penulis pemula dapat membuat puisi menjadi bagus. Menanggapi pertanyaan tersebut, Hawatif mengibaratkan menulis puisi seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Sebelum bisa berjalan, sang bayi mengamati dahulu.  Begitu pula dengan belajar menulis puisi. “Mengamati dengan membaca puisi-puisi terbaik dahulu,”ujar Watif. Hawatif menambahkan, cara belajar menulis itu ada tiga yaitu membaca, membaca dan membaca.

Adapun peserta lainnya, Devita, menanyakan bagaimana cara mengatur pengalaman dan perasaan. Untuk mengaturnya, menurut Ilma, dengan cara mencampurkan keduanya dengan mengamati kejadian sosial atau kejadian politik. Namun bagi Ilma yang terpenting adalah membaca puisi. “Jadi harus lebih banyak membaca,” ujarnya.

Setelah itu dilanjutkan bedah buku sesi kedua. Buku yang dibedah adalah buku Kumpulan Puisi Skenario Penyusun Antena karya Galeh Pramudianto. Kali ini pembedahnya terdiri dari Nicho Pratama, Doni Ahmadi dan Ridwan. Ketiganya adalah pegiat komunitas Tembok Sastra.

Menurut Nicko, puisi Galeh tidak ada struktur. “Akan membuat pembacanya pusing,” tuturnya. Hal itu juga dikarenakan puisi terseut bukanlah puisi kamar. “Jadi jangan harap ada makna seperti puisi Sapardi.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Doni. Menurutnya, puisi Galeh ini hanya akrobatik kata-kata. “Puisinya seperti lukisan mozaik tapi diacak-acak, agak sulit dan absurd,” tandasnya. Sementara itu, pembedah lainnya, Ridwan, berpendapat kalau puisi Galeh banyak yang bertemakan realitas pengalaman-pengalaman.

Setelah pembedah memaparkan pendapatnya terkait buku kumpulan puisi Galeh, dilanjutkan sesi tanya-jawab dengan peserta. Kiki Andriyani, mahasiswa JBSI, menanyakan latar belakang judul buku. Menurut Galeh, bahwa dirinya ingin ada kata “Skenario”.  Hal itu dikarenakan dia sering menulis skenario. “Dan antena adalah puisi berbagai tingkatan,” tambahnya.

Selanjutnya, bedah buku sesi ketiga, yaitu buku Kritik Sastra Indonesia Abad XXI karya Saifur Rohman. Yang berperan sebagai pembedah adalah mahasiswa pascasarjana UNJ Betta Anugrah Setiani, dan dosen JBSI Irsyad Ridho.

Betta menganggap buku ini merupakan deskripsi rinci dan umum tentang kritik sastra Indonesia awal abad XIX hingga awal abad XXI. Buku ini dengan tegas berniat memadupadankan kritik sastra dan teori sastra.”Buku ini merangkum perbedaan,” ucap alumni UPI Bandung ini.

Sedangkan menurut Irsyad, buku ini berhasil menjembatani beberapa karya sastra indonesia dengan teori sastra M.H. Abrams. “Karena ada beberapa karya sastra indonesia yang kurang cocok dengan teori Abrams. Buku ini mempertimbangkan relitas sastra Indonesia,” jelasnya.(Naswa)

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *