Aksi Tolak Kekerasan Seksual

3 Comments

Selasa (6/10) – Puluhan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang tergabung dalam gerakan Aliansi Mahasiswa Adili Andri Rivelino melakukan aksi solidaritas di depan Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN), Jakarta Timur pukul 14.00 WIB. Mereka berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (BEM FIS), Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (HIMA PIPS), Solidaritas Pemuda Rawamangun (SPORA) dan lainnya.

Aksi digelar dalam rangka menghimpun dukungan untuk menolak gugatan Andri Rivelino terhadap Surat Keputusan (SK) Dekan FIS  No. 257/5.FIS/SSK/2015 yang berisi pemberhentian tugas Andri mengajar di Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Menurut Andri SK Dekan tersebut cacat hukum. (didaktikaunj.com, Andri Rivelino Menantang UNJ, 14/6/15).

Aksi ini sendiri merupakan rangkaian aksi-aksi solidaritas sebelumnya. Mahasiswa sebelumnya pernah melakukan aksi di PTUN (8/9), dua kali di Kapolres, dan tiga kali di UNJ.

Dalam orasinya, Andika Ramadhan dari perwakilan BEM FIS UNJ menghimbau agar semua pihak seperti, mahasiswa, dosen, kampus serta hakim harus ikut melawan kasus kekerasan seksual, terutama perempuan yang sering menjadi objek kekerasan seksual. “Semua pihak harus membantu melawan kekerasan seksual,” ujarnya.

Menurut Andika, hakim harus menolak gugatan Andri. Karena dengan menolak surat gugatan berarti hakim sudah mendukung dihapuskannya ancaman terhadap anak bangsa dari kekerasan seksual dalam dunia pendidikan.

Senada dengan itu Andika Baehaqi selaku kordinator aksi menyatakan mahasiswa membutuhkan kenyamanan di kampus, tanpa kekerasan seksual. “Kami membutuhkan kampus yang bersih, bersih dari dosen cabul,” kata pria yang akrab disapa Abay ini.

Kemudian, Indra Gunawan dari SPORA dalam orasinya menyuarakan kekecewaan terhadap pihak kampus (rektorat) yang ingkar janji akan memberikan dukungan berupa kuasa hukum terhadap korban kekerasan seksual (FN) dan psikolog yang didatangkan pun terlambat (setelah empat bulan).

Masa aksi juga menolak dosen yang tidak bermoral untuk mengajar di UNJ. Karena, masuknya dosen seperti Andri tidak terlepas dari peran kampus (UNJ) yang melakukan seleksi penerimaan karyawan.

Selanjutnya, mahasiswa akan menggelar aksi lanjutan pada 27 Oktober yang bertepatan dengan pembacaan putusan oleh hakim. Abay mengingatkan mahasiswa untuk siap mengawal kasus ini hingga akhir. “Targetan utama kami Andri bisa dipidanakan dan dicabut status kepegawaiannya, serta terwujudnya kampus tanpa kekerasan seksual,” ujarnya.

Menanggapi aksi ini, Kuasa Hukum UNJ Hilmar Hasibuan mengungkapkan kesetujuannya. Tetapi Hilmar mengingatkan bahwa mahasiswa jangan memaksakan kehendak dan menghargai proses peradilan yang sedang berlangsung.(MF)

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *