PELECEHAN SEKSUAL “BICARA KEMANUSIAAN”

337 Comments

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai kampus yang mencetak tenaga terdidik kini ternodai oleh oknum dosen yang tidak bertanggung jawab. Kasus pelecehan seksual memang marak terjadi di sekolah, di kampus dan di ruang publik pun bisa terjadi, termasuk di kampus yang saya cintai, yang terkenal dengan kampus “pergerakan intelektualnya”,  akhirnya tercoreng dengan kasus pelecehan seksual.

Semenjak kasus ini mencuat, suasana UNJ yang tadinya kering, hening, terlihat aman dan tidak memiliki keresahan bagi mahasiswa, akhirnya dihebohkan dengan kasus pelecehan seksual ini. Mungkin bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) sudah tidak kaget lagi, karena kasus ini sudah terasa tidak asing dimata mereka. Sebab oknum dosennya pun masih sama, ya sebut saja “AR” dosen Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (P.IPS) dengan perawakan yang super profesional dan wajah yang sangat tampan ini pandai mengelabui mahasiswinya sehingga menjadi terpikat oleh bujuk rayunya.

Sudah berlarut lama kasus ini masih dalam proses dan belum menemukan titik cerah bagi korban. Bagaimana tidak? Mereka, katakanlah yang menjadi korban perbuatan bejatnya, seharusnya menuntut keadilan dari kampus. Tetapi dosen tersebut justru melaporkannya ke pihak kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik. Apa yang ada di isi kepala dosen tersebut sehingga enggan sekali mengakui kesalahannya, secara ia melakukan perbuatan asusila seperti ini kepada mahasiswi lainnya sudah kesekian kalinya.

Dengan melihat kasus ini saya akhirnya tergerak untuk membantu hingga selesai. Usai keputusan sidang dekanat FIS lewat Surat Keputusan (SK) yang berisi penonaktifkan “dosen cabul” ini secara sementara, AR melaporkan dekanat FIS ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas tuduhan fitnah lewat surat SK tersebut dan menuntut pencabutan SK.

Dalam pikiran ku dosen ini sangat konyol. Ia tidak sehat, cenderung sakit. Setelah melaporkan Dekanat FIS ke PTUN, ia melaporkan kawan saya yang bernama Indra Gunawan atas tulisannya di Didaktika, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sudah mencabuli tetapi tidak tahu malu. Malah semakin memperkeruh masalah atas pelaporan-pelaporannya.

Sampai hari ini rektorat belum mengambil sikap tegas atas kasus ini. Mahasiswa dimaki, karena dengan berdemo mahasiswa akan mencoreng nama baik UNJ, yang ada dipikirannya hanya sebatas “nama baik” tetapi tidak memikirkan bahwa tanpa adanya mahasiswa, tanpa adanya masyarakat kampus, UNJ tidak pernah ada dan berdiri dengan kokoh di Rawamangun ini. Mereka tidak memikirkan bahwa banyak mahasiswinya yang terancam oleh oknum dosen cabul. Mereka yang berkuliah untuk mencari ilmu, sampai dikampus malah dilecehkan. Orang tua mana yang sudi anak perempuannya dicabuli?

 

Lalu, apakah sikap mahasiswa ketika melihat kasus ini, bungkam atau diam saja? Bagi ku bukan persoalan kenal atau tidaknya dengan si korban. Bukan satu jurusan atau tidak dengan korban, tetapi ini sudah menyangkut persoalan kemanusiaan, bukan lagi individu. Mari kawan-kawan kita rapatkan barisan! Kita satukan kekuatan bahwa kita masih menyakini bahwa setiap penindasan yang terjadi haruslah kita bela. Mari kita sama-sama mengusut tuntas kasus ini sampai selesai. Jika rektorat tidak berperan dalam mengusut tuntas kasus ini, mari kita sebagai mahasiswa yang menuntaskan kasus ini bersama-sama.

 

 

Andika Baehaqi

Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2013

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *