Caesar dari Washington

1 Comment

 

Amerika Serikat (AS) telah menjadi imperium dunia. Anti-Flag dalam lagunya (The Modern Rome Burning, The Bright Lights Of America, 2008) bahkan menyebut kota-kota besar di AS sebagai Roma versi modern. Kota-kota seperti New York, Boston, Washington, Pittsburg dan Birmingham menguasai AS dan juga dunia ketiga. Sebab, di kota-kota itu lah raksasa ekonomi bersarang.

Anti-Flag bukan yang pertama dan satu-satunya orang Amerika yang menyadari kenyataan tersebut. Sebelumnya ada Avram Noam Chomsky. Dia merupakan intelektual yang sudah bersuara lantang menentang kebijakan AS sejak ekspansi terhadap Vietnam dilakukan (1956). Melalui pemikirannya, pria kelahiran Philadelphia, 7 Desember 1928 ini telah membuka cakrawala orang Amerika yang sempit dan dogmatis. Hal ini bisa dilihat misalnya, dalam lagu NoFX berjudul Franco Un-American (The War On Errorism, 2003). Berikut penggalan liriknya;

And now I can’t sleep from years of aphaty

All because I read a little Noam Chomsky

Dari NoFX saya kemudian mengenal nama Chomsky. Dan baru sekarang sempat membaca karyanya. Judulnya agak jumawa, How The World Works, gabungan dari empat karya sejak 1992-1998. Karya ini merupakan pemikiran Chomsky yang ditulis dari pidato dan wawancaranya. Penyunting karya tersebut, Arthur Naiman mengatakan bahwa lebih mudah memahami pikiran Chomsky ketika dia mengutarakannya secara verbal.

Lalu, apa yang hendak diutarakan Chomsky? Apakah hal itu begitu penting hingga membuat Bentang menerbitkan buku yang sudah dibuat sejak dua puluh tahun lalu?

Seperti yang saya katakan di paragraf awal, AS telah membangun imperium skala global. Proses ini dimulai setidaknya sejak Perang Dunia II. Chomsky mengatakan bahwa ketika perang masih berlangsung, banyak kelompok studi dari lembaga pemerintahan dikerahkan untuk membuat rancangan dunia pasca perang yang disebut “Grand Area”, yaitu wilayah yang harus tunduk pada kepentingan ekonomi AS (hal 8). Wilayah itu terdiri dari Eropa Barat, Timur Jauh dan negara-negara bekas jajahan Inggris, Perancis dan Belanda. Terhadap negara-negara tersebut AS telah menyiapkan sebuah struktur perekonomian yang baru. Sebagian besar negara akan dijadikan pusat produksi sekaligus pasar, sementara keuntungannya dipusatkan pada negara-negara yang diproyeksikan akan menjadi sekutu AS.

AS melakukan berbagai cara untuk melaksanakan niatnya tersebut. Misalnya, mengirimkan sejumlah bantuan dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Cara ini mungkin berhasil terhadap negara-negara di Eropa Barat yang porak-poranda akibat perang. Tapi tidak bagi negara-negara yang baru memerdekakan diri dari penjajahan. Untuk kasus tadi AS punya cara lain, yaitu melakukan impor “demokrasi”.

AS bukan hendak berkomitmen sungguh-sungguh terhadap proyek demokrasi. Demokrasi hanya alat bagi para pengusaha besar untuk mengintervensi kebijakan negara. Seperti yang dikatakan Chomsky, ketika hak-hak investor terancam, demokrasi harus dienyahkan; sebaliknya, jika hak-hak ini dilindungi, bahkan para pembunuh tetap aman sentosa (hal 17).

Demokrasi hanya kedok untuk menyamarkan keingninan yang sebenarnya, yaitu menguasai negara dunia ketiga. Hal ini menjelaskan sikap AS yang bersikukuh ingin menerapkan demokrasi. Negara yang menolak keinginan tersebut akan dituduh diktator, fasis atau komunis.

AS juga banyak menjalin hubungan dengan kekuatan militer di negara yang hendak dikuasainya. Jika jalan politik gagal ditempuh, maka AS akan menggunakan sekutu militer tadi untuk melakukan kudeta, seperti yang terjadi di Nikaragua, El Savador dan banyak dunia ketiga lainnya.

Jika sekutu militer masih tidak mampu, AS tidak segan-segan menurunkan langsung kekuatan militer negaranya untuk melakukan ekspansi. Vietnam salah satu negara yang telah merasakan kekejaman tentara AS. Sayangnya, usaha AS di Vietnam gagal. Padahal, intervensi politik juga telah dilakukan. Yaitu dengan memaksa Vietnam mengadakan pemilu. Namun, calon yang disiapkan kalah dalam perolehan suara. Ho Chi Minh yang disebut-sebut sebagai diktator malah memenangi pemilu. Agar tidak kehilangan muka AS menerapkan embargo ekonomi terhadap Vietnam.

Jika Ho Chi Minh dimusuhi, lain hal dengan Soeharto. Diktator Indonesia yang berkuasa sejak kudeta 1965 itu disanjung di AS. Media barat menyebut pembantai itu sebagai orang yang ramah dan moderat. Tentu saja, dua sebutan itu disematkan karena Soeharto berpihak pada korporat besar.

Dunia ketiga dan rekayasa musuh

Dunia ketiga sebetulnya sebutan yang muncul sejak Perang Dingin. Sebutan itu ditujukan bagi negara yang tidak bergabung dalam dua blok yang berselisih. Dunia pertama blok kapitalis, dipimpin oleh AS, dunia kedua blok komunis yang dipimpin Uni Soviet. Keduanya berebut pengaruh di dunia ketiga. Namun, menurut Chomsky konflik ideologi sebenarnya hanya alasan untuk menguasai dunia ketiga. Seperti alasan ekspansi AS di Vietnam.

Ketika Uni Soviet runtuh, dan AS hendak mengekspansi Timur Tengah, maka kampanye terorisme menjadi alasan selanjutnya. Hal itu dirancang untuk menggalang dukungan rakyat, seperti yang terjadi saat invasi ke Irak. Komunis dan teroris, keduanya seperti hantu yang membayangi AS.

Tidak kalah berbahaya adalah narkoba. Yang satu ini digunakan sebagai pengalih perhatian masyarakat bahwa kemiskinan, kriminalitas dan sebagainya, disebabkan barang haram tersebut. Masyarakat menjadi lupa bahwa pemusatan keuntungan di tangan kaum kaya menghasilkan ketimpangan. Dan kriminalitas merupakan konsekuensi berikutnya.

AS melancarkan isu narkoba karena persoalan ketimpangan makin terasa di negerinya. Sebab, pabrik-pabrik besar sudah dipindahkan ke dunia ketiga. Semakin sulit mencari pekerjaan. Jumlah pengangguran dan jembel, terus bertambah. Pemerintah bersama korporat besar AS telah menciptakan dunia ketiga di negaranya sendiri, bukan hanya di negara lain.

Media mainstream memiliki peran penting untuk mengenalkan musuh seperti komunis, teroris dan narkoba. Chomsky ragu media akan berlaku sebaliknya sebab, media mainstream adalah bagian dari korporat itu sendiri. Chomsky mengatakan negara-negara di Amerika Latin merupakan pemasok narkoba jenis kokain terbesar di AS. Namun, bisnis kokaoin itu sendiri dijalankan oleh pengusaha-pengusaha di AS.

Para pengusaha tersebut memiliki kebebasan untuk memproduksi kokain di Amerika Latin karena AS telah mengintervensi kebijakan agraria di negara tersebut. Kebijakan menentukan jenis tanaman dan kuota yang harus dipenuhi negara tersebut. Masyarakat jadi tidak bisa memproduksi tanaman untuk pangannya sendiri. Sehingga beralih untuk menanam kokain. Dan Chomsky menyayangkan media yang tidak membahas hal ini.

Saya jadi ingat, ketahanan pangan merupakan salah satu masalah yang belum tuntas di Indonesia. Produksi pangan sering kali tidak mencukupi kebutuhan nasional. Konflik lahan pun semakin marak. Sekelumit persoalan agraria membuat bidang pertanian menjadi profesi yang tidak diminati.

Pemerintah Indonesia masih belum menunjukkan minat yang serius mengatasi persoalan ini. Pemerintah lebih memihak korporat ketimbang petani.Misalnya kasus kebakaran hutan. Pemerintah hanya memberikan sanksi kecil kepada pelaku pembakaran, yang kebanyakan merupakan pengusaha sawit. Padahal, kebakaran menyebakan kerugian besar bagi masyarakat. Bahkan, penanganannya dibebankan kepada negara, menggunakan uang masyarakat.

Ini seperti yang dikatakan Chomsky bahwa melalui negara perusahaan besar disubsidi oleh masyarakat. Ini bertolak belakang dengan gagasan mengenai kebebasan pasar seperti yang sering digaungkan AS dan raksasa ekonomi lainnya. AS hanya ingin membuat dunia menuruti keinginannya. (DFH, 12/11/15)

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *