Dari Enam Lima Ke Sembilan Delapan

1 Comment

Apa yang kamu lakukan jika lawan bicaramu mengatakan bahwa dia komunis? –hal. 266

Judul Buku: Pulang

Penulis: Leila S. Chudori

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Desember 2012

Tebal: vii+464

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Dimas Suryo masih berstatus mahasiswa ketika berkenalan dengan Hananto Prawiro dan Nugroho yang bekerja di Kantor Berita Nusantara. Melalui Hananto, Dimas mendapat banyak referensi bacaan, termasuk buku-buku Leo Tolstoy dan lainnya. Keduanya sering terlibat dalam diskusi yang berujung perdebatan.

1965

Kondisi politik di Indonesia saat itu, memaksa siapa saja mengambil sikap yang tegas. Tidak ada semi merah atau hijau, benar-benar tak mengenal zona netral. Hananto jelas keberpihakannya pada merah, begitupun dengan sebagian besar petinggi Kantor Berita Nusantara. Maka bila ada orang seperi Amir, yang sejatinya bisa diterima oleh beragam partai, terkecuali Partai Komunis Indonesia (PKI), Amir justru disingkirkan. Hal ini yang membuat Dimas marah.

Ketika bang amir yang sangat vokal dan salah satu wartawan kami yang terbaik itu malah disingkirkan ke bagian pemasaran dan iklan, aku bukan hanya merasa heran, tetapi terhina. –hal. 32

Bagi Hananto, Dimas tak ubahnya seorang yang tidak konsisten. Orang yang tak pernah jelas tujuan hidupnya. Tak jelas pilihan politiknya.

“Kau menolak masuk ormas. Apalagi masuk partai. Kau menolak memihak. Kau mengkritik Lekra tapi kau juga mengkritik para penandatangan Manifes Kebudayaan.” ­–hal. 43

Meski begitu, Hananto di mata Dimas tetaplah sebagai seorang sahabat yang sesekali merangkap sebagai mentor serta atasannya di Kantor Berita Nusantara. Rasa hormat telah jauh diberikan Dimas pada sosoknya. Maka ketika Hananto memintanya menggantikan dirinya dalam Konferensi Jurnalis di Santiago dan Peking, Dimas sulit untuk menolak.

“Suhu Jakarta semakin naik. Kami mendengar banyak gerakan di kalangan elite partai dan petinggi militer. Pemimpin Redaksi merasa sebaiknya aku di Jakarta” –hal. 45

Itulah kali terakhir Dimas bertemu dengan Hananto. Juga terakhir Dimas menanggalkan jejak di tanah air. Sebab ketika ia tiba di Santiago, ia mendapat berita tentang penculikan jendral-jendral. Tanpa mengetahui alasan yang jelas, ia mendengar kabar bahwa PKI dituduh sebagai yang paling bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Semakin membuatnya khawatir adalah, tak hanya anggota, simpatisan partai dan keluarga anggota turut diburu. Bukan sekadar ditangkap, tapi juga dieksekusi habis-habisan.

“jangan pulang koma tunggu sampai tenang titik ibu dan aku baik-baik koma hanya diminta keterangan titik” aji suryo –hal. 67

Kantor Berita Nusantara menjadi salah satu yang digeledah karena dicurigai amat kiri. Hananto masuk sebagai daftar yang paling dicari. Ibu dan Aji, adik Dimas, termasuk yang beruntung karena kakek mereka adalah seorang pemuka agama yang disegani di Solo. Sehingga keduanya tak mendapat pengalaman buruk sebagaimana yang didapati oleh keluarga lainnya, Surti misalnya.

Surti membawa tiga anaknya turut serta dalam ‘pengamanan’ untuk diinterogasi mengenai keberadaan dan kegiatan suaminya, Hananto. Beragam metode interogasi telah dialami Surti. Dari yang halus, sampai mencekam dengan penuh ancaman terhadap anaknya. Kenanga, si sulung yang menjadi saksi bisu kekejian tersebut.

“…tugas Kenanga adalah mengepel bekas bercak darah kering yang melekat di lantai ruangan penyiksaan. Dia bahkan menemukan cambuk ekor pari yang berlumur darah kering… Dia membayangkan jika ayahnya ditangkap, itulah yang akan terjadi padanya…” –hal. 247

1998

Lintang Utara, putri tunggal Dimas dari pernikahannya dengan perempuan Paris, diharuskan membuat film dokumenter tentang Indonesia. Ia meragu. Dilihat Ayahnya yang selalu menitikkan air mata setiap mengingat tanah kelahirannya. Puluhan tahun Ayahnya berusaha mengajukan izin untuk bisa kembali, namun tak pernah berbuah baik.

Tapi zaman telah berubah. Lintang beruntung karena bisa mengenal para diplomat muda yang menempuh pendidikan di luar negeri, tentu memiliki pandangan politik yang berbeda. Mereka tak mengindahkan perintah Bersih Diri, yaitu kebijakan yang dikenakan kepada seseorang yang dianggap terlibat dalam Gerakan 30 September, anggota PKI atau anggota organisasi sejenisnya. Juga Bersih Lingkungan, dikenakan kepada keluarga seseorang yang telah dicap komunis. Lintang medapatkan visa Indonesianya atas bantuan mereka.

Di Jakarta, bersama Segara Alam, putra bungsu Hananto, Lintang menyelesaikan tugas akhirnya tersebut. Alam menghabiskan waktunya di Lembaga Swadaya Masyarakat yang didirikannya untuk kaum minoritas yang tidak mendapat keadilan. Indonesia tengah dalam keadaan krisis, terutama di bidang ekonomi setelah harga BBM dinaikan. Suasana politik memanas karena puluhan tahun Indonesia dipimpin oleh orang yang sama, yang entah bagaimana caranya selalu memenangkan pemilu.

Mahasiswa dengan berani mengemukakan kritiknya, dengan berunjuk rasa. Salah satu mimbar bebas itu dilaksanakan di kampus Trisakti.

…ini gerakan mahasiswa. Para aktivis dan media dengan sukacita mendukung karena memiliki tuntutan yang sama: Reformasi. –hal. 397

Sangat disayangkan, mimbar bebas di kampus Trisakti berujung pada penembakan sejumlah mahasiswa. Nama-nama yang diketahui Lintang tewas dalam insiden tersebut: Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Heri Hartanto, dan Hafidin Royan. Masih ada 2 nama lagi yang belum didapatkannya.

Ayah, meski saya sering menjadi bagian unjuk rasa di kampus Sorbonne, saya kira Alam memang benar: pengalaman saya berdemonstrasi sangat santun. Saya tak mengira akan menyaksikan peristiwa sebiadab ini. –hal. 415

Jakarta mencekam. Ada massa yang bukan mahasiswa, bukan pula warga sekitar, yang entah datang darimana memblokade jalan, menghentikan mobil secara selektif –kebanyakan mobil mewah. Bermacam berita Alam terima dari berbagai daerah yang juga diselimuti ketegangan. Pusat perbelanjaan dijarah, kemudian dibakar.

“…semua laki-laki yang usianya sama. Ada yang cepak, ada yang gondrong. Yang jelas tubuh tegap dan tampak terlatih. Mereka tidak seperti penduduk sekitar. Dan tentara di sebrang duduk-duduk saja…” –hal. 424

Novel ini memang meninggalkan banyak teka-teki yang tak terjawab. Meski fiksi, latar belakang penulis yang juga sebagai wartawan, tetap menyajikan objektivitas dalam penulisannya. Penulis sengaja memberi ruang kepada pembaca agar mengambil sikapnya sendiri.

Tak sedikit orang yang meremehkan buku sastra sebagai referensi sejarah. Alasannya yaitu sulit melepaskan unsur fiktif di dalamnya. Namun harus diakui pula, justru sebuah karya sastra lah yang mampu bicara lebih jujur saat jurnalis sekalipun tak mampu lagi menulis.

Membaca betapa nilai kemanusiaan benar-benar diinjak-injak dalam tragedi 1965. Di mana generasi setelah itu dipaksa menerima sejarah yang dibuat demi kepentingan satu golongan. Merasakan bara semangat menuntut perubahan dari mahasiswa-mahasiswa dan aktivis di tragedi 1998. Saat sang penguasa melakukan apa saja demi melanggengkan kekuasaannya.

Generasi sekarang merasa berjarak dengan dua tragedi besar tersebut. Namun membaca kembali sejarah, bukan berarti untuk melanggengkan romantisme masa lalu. Melainkan untuk mengkritisi mengapa sejarah itu bisa terjadi. Agar tak lagi mengulang sejarah kelam di masa mendatang. Latifah

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *