Tuntutan Terhadap Pers Mahasiswa

No Comment Yet

Isu mengenai kemana arah orientasi pers mahasiswa sudah menjadi diskusi yang hangat sepuluh tahun terakhir. Begitulah yang dikatakan Nezar Patria pada Latihan Dasar Pers Mahasiswa XXVIII, Senin (28/03). Ia membawakan materi Sejarah Pers Indonesia di hadapan puluhan mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Jakarta tersebut.

Pada pra-kemerdekaan, Pers bergerak sebagai media perjuangan. Di mana pers telah menjadi pendamping dalam tiap pergerakan. Pers merupakan bagian dari organisasi-organisasi politik yang memiliki cita-cita kemerdekaan. Memasuki orde lama, Pers mulai berafiliasi dengan partai yang mana tiap partai tersebut mengeluarkan produknya sendiri. Seperti Harian Rakjat milik Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Medan Moeslimin dari Partai Masyumi.

Ketika memasuki era orde baru, pers seolah dibuat bungkam. Tidak ada lagi pers yang membawa kepentingan suatu politik apapun. Nezar menyebutnya dengan pers suara pembangunan. Yaitu pers dilarang menyuarakan fakta-fakta keburukan yang terjadi di Indonesia, semua demi kelancaran pembangunan nasional. Untuk menjaga stabilitasnya, anggota Dewan Pers ini menyebutkan, pemerintah kala itu menerbitkan peraturan berupa Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Menjadi redaktur sebuah majalah juga harus melalui seleksi ketat, bahwa calon redaktur haruslah bersih lingkungan alias tidak terindikasi PKI baik diri sendiri maupun keluarganya.

Di tengah suasana mencekamnya zaman Soeharto, pers mahasiswa justru menemukan kejayaannya. Berita-berita yang mereka usung berhasil menjadi alternatif dengan upaya penyadaran.

Meminjam istilah sains, Nezar mengatakan 1998 merupakan big bang dari sejarah Indonesia terutama pers. Saat itu sudah tidak berlaku lagi SIUPP atau pernyataan kesetiaan pada program-program orde baru yang telah runtuh. Setahun kemudian disahkanlah Undang-undang pers yang manfaatnya bisa kita rasakan hingga saat ini, yaitu kebebasan berpendapat.

Namun setelah ada jaminan tidak ada pembredelan terhadap pers, justru pers mahasiswa kalah saing oleh pers umum. Nezar menyebutkan bahwa banyak faktor yang membuat pers mahasiswa hilang orientasi. Selain karena masih adanya tanggung jawab untuk belajar, pola kerja investigasi pers mahasiswa juga dinilai tidak setajam pers umum.

Nezar sendiri menekankan permasalahan bukan lagi pada bagaimana meniru pola-pola pers mahasiswa di era sebelumnya. “Tiap zaman memiliki tekanan tersendiri. Pers mahasiswa tidak harus sama dengan 1966 atau 1998,” ucapnya. Hari ini, yang dituntut dari pers mahasiswa adalah ketajaman berpikir, serta memberikan masyarakat perspektif yang kritis dan cerdas. /Latifah

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *