Kemunduran Pers Indonesia

No Comment Yet

Rabu (30/03) – Latihan Dasar Pers Mahasiswa (LDPM) yang diadakan DIDAKTIKA memasuki hari ketiga. Sesi pertama diisi dengan materi teknik penulisan oleh Alfian Hamzah( redaktur pelaksana SINDO weekly). Alfian mengawali materi dengan kegelisahannya terhadap pers di Indonesia. “Zaman sekarang bukan hanya masyarakatnya yang instan, tapi wartawannya juga jadi instan” ungkapnya.

Menurut Alfian hal ini dikarenakan kemajuan teknologi. Dulunya kegemaran dalam menulis hanya dimiliki oleh wartawan, sastrawan, atau ilmuwan. Sekarang, setiap orang bisa menyampaikan gagasannya melalui facebook atau twitter. Alfian mencontohkan, satu artikel yang dipos oleh KOMPAS hanya dilike oleh beberapa netizen, sedangkan satu tulisan lainnya yang berisi kegalauan seorang anak muda yang putus cinta bisa dilike ribuan atau jutaan netizen. “Ini zaman yang benar-benar baru” tambahnya.

Sayangnya, kemajuan teknologi tidak serta merta membuat seorang wartawan menjadi pintar. Bahkan, banyak wartawan saat ini yang hanya mengulangi apa yang dikatakan oleh narasumbernya. “Wartawan sekarang sudah seperti tape recorder, kerjaannya Cuma bisa merekam ulang,” ujar Alfian. Bagi Alfian, saat ini wartawan justru kehilangan daya kreativitasnya dalam menulis berita. Kadang, tulisan tersebut susah untuk dipahami oleh masyarakat kebanyakan.

Lalu Alfian menambahkan kalau semua ini terjadi karena profesi wartawan hanya menjadi profesi kelas dua. Dalam artian, jika tidak menemukan pekerjaan lainnya, wartawan menjadi salah satu pilihan. “Kecintaan akan jurnalisme bisa dikatakan sudah tidak ada” ungkapnya.Kecintaan ini bisa dilihat dari sikap yang suka membaca, ingin tahu, dan sikap kritis. Hal ini menjadi unsur terpenting bagi seorang wartawan, karena dengan membaca bisa membuka perspektif dalam melihat satu peristiwa atau masalah. “Inilah yang membedakan wartawan pasaran dan yang tidak pasaran” ujarnya.

Terkait penulisan sendiri, yang perlu ditekankan adalah kejelasan dalam tulisan. “Tulisan yang baik itu, pembaca yang belum tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu tidak bosan membacanya” ujar Alfian.  Hal ini untuk mengingatkan kembali  tujuan seorang wartawan menulis untuk masyarakat yang berasal dari berbagai kalangan dan latar pendidikan yang berbeda-beda.

Tulisan yang bagus justru mengambarkan apa yang terjadi, terkadang penulis terkendala dalam kekurangan bahan tulisan(data yang sedikit) sehingga tulisan menjadi mengambang, ada pula yang terlalu banyak bahan sehingga kehilangan fokus dalam tulisan. “Sebelum menulis belajarlah kepada juru masak, karena dalam memasak akan melatih anda dalam meramu bahan-bahan yang ada” jelas Alfian.

Lalu Alfian menambahkan bahwa tulisan yang baik nantinya akan membuat pembaca mengikuti tulisan dari awal hingga akhir. “Inilah yang akan menjadi kebanggaan menjadi seorang wartawan sehingga kerja kerasnya tidak menjadi satu hal yang sia-sia dan ide yang ingin dia (wartawan-red) sampaikan diterima oleh pembaca” ungkapnya./Muhammad Fahri

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *