Melenyapkan Prasangka, Menyebarkan Kedamaian

No Comment Yet

Dan Damai Dibumi (1)

Judul Buku          : Dan Damai di Bumi!
Penulis                 : Karl May
Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit      : Januari 2016
Tebal Buku          : vi+599 halaman
ISBN                      : 978-979-91-0991-0

 

Dan Damai Dibumi! diterjemahkan dari Und fiede Auf Erden! yang pertama kali diterbitkan di Freiburg, Jerman pada 1904, buku ini terdiri dari lima bab. Sama seperti buku-buku Karl May lainnya seperti Winnetou I-IV, (1893) dan Im Lande des Mahdi (1896), buku ini ditulis dengan cara seperti catatan perjalanan yang mengisahkan petualangan Karl May—tokoh Aku—berkunjung ke beberapa negara.

Sebelum cerita ini dibukukan, cerita ini diterbitkan berseri hingga bab empat pada sebuah majalah di Jerman. Sebagian besar masyarakat eropa mengganggap cerita Karl May ini sebagai kemenangan Eropa atas bangsa-bangsa lain di dunia. Bangsa Eropa sebagai pembawa peradaban dan bangsa-bangsa lain di dunia harus di bawah kekuasaan Eropa—terutama agama Kristen. Padahal, hal itu sangat berlawanan dengan maksud penulis berkewarganegaraan Jerman ini. Oleh sebab itu, ia menambahkan satu bab lagi untuk menegaskan bahwa tidak ada bangsa mana pun yang mengungguli bangsa lainnya.

Ada enam karakter tokoh inti dalam novel ini. Pertama, tentu saja tokoh aku—Karl May—seorang yang bijak dan bertindak sebagai penengah dari setiap konflik. Kedua, Sejjid Omar, seorang muslim asal Mesir, berprofesi gembala keledai yang setia dan pintar, terutama dalam hal memelajari bahasa asing. Ketiga, Waller, seorang misionaris Amerika yang keras kepala, menganggap bangsa Asia bodoh dan akan menyebarkan agama Kristen dengan cara apa pun. Keempat, Fu, seorang penganut konfusius dan pemimpin kelompok perdamaian bernama “Shen”. Kelima, John Raffley, seorang bangsawan Inggris yang bijaksana. Keenam, Dilke, keponakan Waller yang keras kepala dan licik.

Karl May yang saat itu sedang berada di Mesir bertemu dengan Sejjid Omar dan Waller. Tujuan mereka kebetulan sama yakni menuju Asia Timur. Karl May bersama Sejjid Omar ke Asia Timur ingin mengetahui wilayah-wilayah Asia. Sedangkan, Waller berambisi “menobatkan” seluruh bangsa Asia yang dianggapnya bodoh, kafir, dan penyembah berhala—terutama bangsa Tiongkok. Ia tak segan menyerang siapa pun yang sedang beribadah selain agamanya. Tak hanya itu, Waller berniat ingin membakar seluruh tempat ibadah di wilayah Asia.

Keinginan Waller didukung dengan semangat kolonialisme yang berkembang pesat pada 1900. Bangsa Eropa tak hanya ingin mendapatkan harta dari bangsa Asia, tapi juga ingin menyebarkan agama Kristen—sebagai bentuk kedigdayaan Eropa. Namun, di tengah perjalanannya, Waller bertemu Fu yang sangat di luar dugaan Waller. Fu sangat pintar bahkan dapat menjelaskan persamaan antara ajaran Kristen, Konfusius dan seluruh agama kepercayaan yang ada di seluruh bumi. Inti kesamaan ajaran tersebut, menurut Fu, “Takutilah Tuhan, sayangi sesama, dan hormati semua orang.” (hlm.29). Waller tak terima, justru ia semakin menggebu untuk meruntuhkan seluruh ajaran Negeri Timur yang kafir.

Ternyata, bukan hanya Waller yang menganggap bahwa bangsa Timur kafir dan bodoh dalam segala hal, melainkan hampir seluruh bangsa Eropa di novel ini bernggapan demikan. Ini tentu membuat Karl May gusar,  kemudian ia menuliskan beberapa bait sajak. Sajak ini kemudian menuntun keseluruhan cerita hingga akhir. Sajak itu berbunyi:

“Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

 Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

 Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

Segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

Dalam dirimu kini ia hidup selamanya.” (hlm.116)

Karl May menciptakan alur yang padat dari bab pertama hingga bab kelima. Menariknya, novel Karl May ini tidak terlalu menekankan cerita pada aksi fisik seperti Old Surehand I-II (1894-1895) dan novel lainnya yang ia buat. Karl May lebih mengedepankan sisi psikologis tokoh dengan banyak dialog-dialog perenungan mengenai toleransi dan kedamaian di bumi.

Tak hanya itu, secara tersirat Karl May berhasil membongkar sisi lain kolonialisme yakni menyebarkan prasangka. Dengan menyebarnya prasangka, pihak penjajah—lebih spesifik pemilik modal dan pemerintahan—dapat dengan mudah mengamankan kepentingannya. Akan tetapi, bagi Karl May, prasangka merupakan penyakit yang mematikan. Sebab, prasangka dapat menghancurkan persatuan umat manusia. Jika prasangka dapat dimusnahkan, maka akan tercipta kedamaian di bumi. Oleh sebab itu, Karl May memberi judul demikian pada buku ini.

Meskipun, nilai-nilai agama yang dimuat dalam Dan Damai di Bumi! lebih banyak mengedepankan nilai-nilai Kristen sesuai dengan agama Karl May. Akan tetapi,  hal itu tidak menjadi masalah karena yang dimunculkan adalah nilai-nilai universal yang ada dalam ajaran tiap agama. Karl May menjadikan ceritanya sebagai alat untuk menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian, persahabatan, pengampunan, dan toleransi.

Buku yang ditulis oleh Karl May selama menyusuri Asia Tenggara dan Asia Timur, sejak Maret 1989—Juli 1900, sangat layak untuk dibaca, sebab penyakit prasangka masih belum hilang dari dunia—terutama di Indonesia. Di Indonesia, saat ini masih terdapat beberapa kelompok masyarakat yang menyatakan bahwa ajaran agamanya atau sukunya yang paling benar dan lebih baik dari lainnya. Hal ini tentu saja dapat merusak persatuan negara, lebih dari itu, hal tersebut merusak kemanusiaan. Bukankah manusia itu satu? Meski berbeda agama, ras, dan lainnnya, tetapi tetap satu keturunan Adam.

Virdika Rizky Utama

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *