Guru dan Potret Kemampuan Siswa Indonesia

No Comment Yet

 

Ada yang spesial di perayaan hari pendidikan nasional khususnya di  Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yaitu launchingnya buku baru H.A.R. Tilaar yang berjudul “Guru Kita”. Acara ini diadakan di Aula Maftuhah Yusuf dan dihadiri tiga pembicara yaitu Soedijarto (Guru Besar UNJ), Mohamad Abduhzen (Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina; Ketua Litbang PB PGRI), dan Muchlis R.Luddin ( Wakil Rektor I). Sayangnya, HAR Tilaar tidak dapat menghadiri acara tersebut dikarenakan sakit.

Soedijarto menjelaskan pada buku Tilaar menuliskan periode Sriwijaya menjadi pusat dari pendidikan. Ia menceritakan tiga periode perkembangan sejarah politik dan pendidikan Indonesia. Pada periode I, ia menyatakan pendidikan saat itu sudah sesuai dengan pasal 31 UUD 1945 yang menyebutkan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional. Berlanjut pada periode II, pada periode ini timbul paradigma mengenai pendidikan adalah tanggung jawab orangtua, masyarakat, dan pemerintah sehingga memunculkan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Ia mengatakan bahwa harus ada perenungan mengapa penyelengara pendidikan nasional belum juga mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Soedjiarto, buku Tilaar ini menginspirasi untuk mengembangkan pendidikan guru tingkat profesional yang tidak kalah dengan pendidikan profesi kedokteran dan hukum. Apabila Soedijarto menjelaskan tentang perkembangan pendidikan, Abduhzen justru menjelaskan kondisi siswa Indonesia saat ini.

Abduhzen mengatakan setidaknya ada dua kategori kemampuan yang dimiliki oleh siswa yaitu kemampuan tingkat tinggi dan tingkat rendah. Sayangnya siswa Indonesia memiliki kemampuan pada kemampuan tingkat rendah tertinggi setelah Filipina. Kemampuan tingkat rendah adalah kemampuan menghafal adan mengingat sementara kemampuan tingkat tinggi adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah.

Menurutnya, sudah seharusnya siswa Indonesia memiliki kemapuan tingkat tinggi. Ketua Litbang PB PGRI ini menambahkan hal itu bisa dilaksanakan apabila guru dapat menguasai materi dan tidak melulu terpaku oleh metode dan kurikulum. “Metode itu lebih penting dari kurikulum, tetapi tidak lebih penting dari guru dan guru tidak lebih penting dari semangat sang guru,” pungkasnya.

Sedangkan, Muchlis membicarakan kondisi guru saat ini. Mukhlis berpandangan guru sekarang sudah cenderung administratif. Ini terbukti guru hanya mengajarkan materinya saja tanpa ada dialog kepada muridnya. “Hal itu dapat terjadi karena kondisi kampus calon guru tidak memiliki kultur akademik yang baik,” katanya. Ia melanjutkan bahwa semestinya, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dapat menghasilkan guru yang berkualitas.

An nissa nur Istiqomah

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *