Berita Instan dari Sosial Media

No Comment Yet

20160803_144849

Kehadiran sosial media mempemudah seorang jurnalis mencari informasi. Kendati demikian, ada tahapan yang harus dipenuhi sebelum diangkat menjadi berita.

Sosial media mampu mempermudah penyebaran informasi di kalangan masyarakat. Siapa pun dapat mengonsumsi informasi yang ada. Contohnya, seseorang mampu mengetahui kebijakan seorang tokoh birokrat hanya dengan membaca kicauan tokoh tersebut dari akun Twitter-nya. Kemudahan ini menjadi suatu keberuntungan bagi para jurnalis. Sebab, hanya dengan mengutip perkataan di media sosial –seperti Twitter— informasi tersebut bisa diangkat menjadi berita. Namun, hal tersebut dapat membawa keprihatinan jika informasi yang disajikan tidak akurat dan terverifikasi. Maka dari itu, perlu melakukan verifikasi sebelum berita terbit dan dikonsumsi pembaca.

Masalah tersebut menjadi pembahasan dalam peluncuran lama berita baru yaitu Tirto.id. Acara yang dihadiri oleh beberapa pers mahasiswa ini diisi dengan mengadakan diskusi yang bertemakan Jurnalisme di Tengah Gegas Media di Tugu Kunstring, Menteng, Jakarta (Rabu, 8/9).

Fenty Effendi, salah satu jurnalis senior memaparkan perbandingan antara cara kerja jurnalis di eranya dengan saat ini. Sebelum ada media sosial, seorang jurnalis tidak mendapatkan berita sebelum datang ke lapangan. Sedangkan saat ini, berita dapat diperoleh dan disebar dengan mudah melalui media sosial. Fenty memberikan contoh, seorang jurnalis cukup mengamati akun seorang tokoh negara di Twitter dan kemudian mengutip perkataannya, lalu mengangkatnya sebagai sebuah berita. “Jempol kini mampu memproduksi berita,” tambahnya.

Hal tersebut tentu membawa keprihatinan bagi masyarakat jika berita yang terbit ternyata tidak akurat dan tidak diverifikasi. Terkait dengan informasi yang tersebar di media sosial, Neneng Herbawati, pendiri IGIco Advisory, yang juga sebagai pembicara pada diskusi tersebut menjelaskan, “sebelum berita terbit wartawan seharusnya melakukan verifikasi kepada tokoh yang berkaitan dengan peristiwa yang akan diberitakan.” Ia menambahkan bahwa verifikasi bisa dilakukan secara langsung bertatap muka, melalui telepon, atau apa pun. Menurutnya, berita yang baik berbasis data dan fakta, bukan asumsi. Sebab, asumsi dapat merusak tujuan pemberitaannya.

Senada dengan Neneng, Arman Dhani, selaku pembicara dari Tirto.id, menjelaskan memang merupakan suatu hal yang fatal jika berita yang tersebar tidak berdasarkan fakta atau data. Berita yang ada bisa menjadi suatu kebohongan. Kemudian kebohongan yang sudah diyakini banyak orang bisa menjadi kebenaran. “Tak masalah jika menulis berita salah (secara teknis), tetapi jangan membuat berita bohong,” tuturnya.

Lutfia Harizuandini

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *