Sindiran Seorang Pelacur

No Comment Yet

Nawal el – Saadawi terkenal sebagai seorang novelis dari Mesir yang memperjuangkan hak-hak wanita. Banyak karyanya yang membahas tentang wanita, seperti The Hidden Face of Eve, Women and Sex, Women and Psychological Conflict, dan Memoirs of a Lady Doctor. Ia terbilang berani dalam mengkritik keadaan sosial. Salah satu karya yang menampung kritik pedasnya yakni, Perempuan di Titik Nol.
Buku tersebut ditulis berdasarkan hasil wawancaranya yang didapat dari seorang pelacur bernama Firdaus di penjara––yang akan dihukum mati akibat kasus pembunuhan. Firdaus hidup di Mesir sekitar pertengahan abad ke-20. Selama hidupnya, ia tak lepas dari penindasan seorang lelaki terhadapnya. Ia menyadari bahwa semua lelaki di sana hanya menganggap perempuan sebagai objek dan pelampiasan hawa nafsu seks. Tak terkecuali lelaki yang mengaku taat beragama dan intelek. Menurutnya, seorang pelacur yang sukses lebih baik daripada seorang suci yang sesat (hlm. 142).
perempuanPragmatis, merupakan kata yang cocok dengan persepsi Firdaus terhadap lelaki. Setelah berkali-kali dirinya mengalami keterpurukan, ada sekian lelaki yang katanya bersedia dan berjanji untuk membantunya mencari pekerjaan. Dengan bermodal ijazah sekolah menengah, Firdaus menggantungkan harapannya pada janji tersebut. Jika ia berhasil mendapatkan pekerjaan, setidaknya ia bisa mendapatkan penghidupan yang layak dari hasil jerih payah sendiri. Firdaus bahkan terpaksa mengorbankan raganya untuk dijadikan pelampiasan hawa nafsu mereka. Tindakannya tersebut atas dasar kepamrihan serta paksaan dari para lelaki yang merasa dirinya sudah membantu Firdaus.
Sayang, nasib baik ternyata bukan sahabatnya. Berkali-kali ia rugi, sebab lelaki-lelaki itu menipunya bahkan memanfaatkannya seperti budak seks. Di antara lelaki-lelaki itu tak ada satu pun yang memenuhi janjinya dengan dalih bahwa Firdaus adalah seorang perempuan. Seorang perempuan tak semestinya bekerja. Seorang istri harus patuh kepada suaminya, sesuai dengan ajaran agama.
Firdaus pernah menikah dengan seorang Syekh yang terhormat. Selama menjadi seorang istri, ia tak lepas dari perbudakan yang dilakukan suaminya. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, hal itu cukup menyulut amarah si suami. Suatu hari ia disiksa dan dipukul oleh suaminya itu. Namun, tindakan suaminya malah dibenarkan oleh Pamannya, sebab menurutnya agama menganjurkan itu. Pamannya bahkan berkata bahwa justru laki-laki yang paham agama itulah yang memukul istrinya (hlm. 70). Seorang istri yang baik tak layak mengeluh dan harus patuh kepada suaminya.
Dilihat dari kenyataan tersebut, agama malah digunakan sebagai pembenaran terhadap penindasan terhadap perempuan. Pembenaran tersebut sebetulnya bergantung pada setiap perspektif individu atau golongan bagaimana menafsirkan ajaran agamanya. Padahal agama bahkan menjunjung tinggi kehormatan perempuan, bukan menganjurkan perbudakan dan penindasan. Firdaus begitu lega setelah melepaskan status kawinnya; yang kemudian membawanya berkecimpung ke ranah pelacuran. Bagi Firdaus, menjadi seorang pelacur bebas lebih baik daripada menjadi istri yang diperbudak. Ia merasa bahwa menjadi seorang istri artinya perbudakan tiada akhir. Ia sadar bahwa perempuan tak lebih dari sekedar objek semata.
Kisah Firdaus dalam buku ini memberitahu bahwa tak peduli seberapa tinggi tingkat pendidikan seorang perempuan, hal tersebut tidak dapat mengangkat perempuan ke derajat yang lebih tinggi. Padahal ia pernah menyenyam pendidikan hingga sekolah menengah. Lelaki menganggap perempuan patut dibantu, ditolong, dan disayang. Anggapan tersebut sebenarnya merupakan bungkus dari rasa ketidakpercayaan mereka terhadap perempuan dalam melakukan pekerjaan. Secara tak langsung lelaki meremehkan perempuan sehingga membatasi haknya dalam melakukan kegiatan, seperti tak membolehkannya bekerja serta pergi terlalu jauh dari rumah. Hal ini kemudian menggiring perempuan ke arah penindasan. Sebab, lelaki bisa saja membunuh naluri seorang perempuan yang hakikatnya memiliki kebebasan sebagai manusia.
Kehidupan perempuan di Indonesia saat ini juga masih ada yang tak lepas dari pengekangan, yang merupakan manifestasi dari penindasan, terutama di daerah pedesaan. Perempuan tidak boleh pergi jauh dari rumahnya. Berbeda dengan di perkotaan. Kebanyakan perempuan sudah lazim bekerja di dunia luar, yang bahkan jauh dari tempat tinggalnya. Kenyataan ini terasa tak adil. Perempuan di kota seakan mendapatkan kehidupan yang lebih layak ketimbang yang di desa. Tak hanya itu. Seharusnya, baik laki-laki dan perempuan berupaya untuk mengatasi ketidakadilan. Untuk mengatasi segala kekurangan dan ketidakadilan mengenai hak-hak dan kedudukan perempuan di Indonesia saat ini dibutuhkan pikiran yang terbuka. Pikiran terbuka ibarat aspal yang menambal lubang atau kerusakan di jalan raya. Sama seperti ketika seseorang mengetahui kekurangannya, ia berusaha memperbaikinya.\\

Lutfia Harizuandini

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *