Semua Karena Ijazah

No Comment Yet

pendidikan

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah orang tersebut mencari pekerjaan. Ijazah menjadi tolak ukur sejauh mana seseorang menguasai bidangnya. Ijazah hanya sebatas legitimasi yang seolah menyatakan bahwa pemiliknya adalah orang yang terdidik dan berpengalaman. Ketika di dunia kerja nanti, ijazahlah yang digunakan sebagai modal melamar pekerjaan. Ijazah seseorang yang lulus dari sekolah atau perguruan tinggi lebih memiliki prospek kerja yang lebih baik jika dibandingkan yang tidak memilikinya. Alhasil, kini banyak orang yang mengenyam pendidikan setinggi-tingginya hanya untuk mengejar ijazah demi memperoleh pekerjaan. Sehingga setelah lulus sekolah menengah atas, para siswa ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka tentunya memikirkan secara matang perguruan tinggi mana yang dipilih. Perguruan tinggi ternama serta berakreditasi baik selalu menjadi pilihan favorit. Kendati begitu, tak semua orang mementingkan kedua hal tersebut, sebab mereka hanya mengejar ijazah.

Rupanya mencari ijazah menjadi prioritas bagi banyak orang. Dilihat dari tujuan mereka melanjutkan pendidikan, kebanyakan dari mereka tidak tahu akan kewajibannya untuk berkontribusi di bidang ilmu pengetahuan yang diemban masing-masing, bahkan tak tahu apa fungsi perguruan tinggi. Oleh karena itu, beberapa universitas di Indonesia menjadi ajang pencarian ijazah. Padahal tak selamanya kultur akademi berkembang di dalam kelas. Contohnya, pernah suatu waktu di dalam kelas mahasiswa terkesan pasif. Mereka selalu disuapi dosennya tanpa mempertanyakannya kembali; tidak kritis, tak berdialog, dan tak ada dialektika.

Pengejaran ijazah secara tak langsung berdampak pada penyempitan pemahaman mengenai kultural akademik. Kultural akademik hanya dikaitkan dengan kegiatan perkuliahan di kelas, hanya itu. Di luar itu, bukan. Mahasiswa banyak yang ingin cepat lulus sehingga bisa mendapatkan ijazah dengan cepat pula. Sehabis lulus mereka gencar mencari pekerjaan. Maka dari itu, mahasiswa fokus mengejar nilai serta indeks prestasi (IP) yang tinggi agar cepat lulus. Kelas merupakan sarana yang dianggap mampu mencapai tujuan tersebut.

Paradigma tersebut menggeser makna kultur akademik. Padahal sebenarnya kultural akademik tidak hanya dibangun di dalam ruang kelas. Di tempat berorganisasi, baik intra maupun ekstra kampus, kultur tersebut bisa dibangun. Lantas, kultur akademik seperti apa yang ada di luar kelas?

Kultur akademik identik dengan kegiatan berdialektika, yakni berdialog dalam menyelidiki suatu masalah. Banyak organisasi yang juga mengedepankan kegiatan berikut, contohnya dalam rapat. Ketika mengusungkan suatu acara, mahasiswa berperan aktif dalam berpendapat, dituntut pula untuk demokratis dalam merumuskan agenda ke depannya atau ide baru. Adanya kritik juga diperlukan demi mengoreksi serta pembaruan kebijakan yang ada. Namun, jika melihat situasi kampus saat ini, banyak mahasiswa yang masih menganggap remeh keberadaan organisasi di luar. Padahal di dunia kerja, kemampuan berorganisasi, seperti berdiale tika, dibutuhkan dalam bekerja.

LUTFIA HARIZUANDINI

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *