Karut-Marut Pembayaran UKT

No Comment Yet

Di awal semester ini, terjadi kesalahan teknis dalam sistem pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT)

               Pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) pada awal semester ini  dibuka sejak 1—26 Agustus 2016. Dalam rentan waktu demikian, para mahasiswa diharapkan membayar tagihan UKT. Mahasiswa harus datang ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut. Di awal semester ini ada suatu kasus di mana secara tiba-tiba uang tagihan nominal UKT menurun ke angka Rp 1.440.000,00. Hal tersebut terjadi akibat adanya kesalahan dalam menginput data  baru. Sebab, di awal bulan Agustus ini ada perevisian Surat Keputusan (SK) dari rektor bagi mantan penerima bidikmisi.

Berdasarkan keterangan dari Eksekutor Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustikom), Irfansyah, kesalahan upload  data memang kemungkinan besar terjadi. Data nomor bidikmisi yang masuk ke pustikom terkadang ada yang salah. Apabila itu terjadi, bidikmisi bisa salah sasaran. Contohnya ketika mencari data penerima bidikmisi di pusat data, dikhawatirkan data mahasiswa lain yang muncul. Menurutnya, seharusnya mahasiswa melapor ke Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan (BAAK) jika ada kejanggalan. “Ibarat kita mengambil menu orang lain,” tambah Irfan.

Selain itu, adanya revisi SK dari Rektor juga dianggap sebagai faktor permasalahan tersebut. Awalnya, SK tersebut menjelaskan bahwa seluruh mantan penerima bidikmisi mendapat potongan UKT 40%. Pihak pustikom telanjur menjalankan kebijakan tersebut. Kemudian SK direvisi; menjelaskan bahwa tagihan UKT bisa turun 40%  bagi mantan penerima bidikmisi angkatan 2012 saja.

Salah satu mahasiswa dari prodi Sastra Indonesia, Eka Rahmawati, secara tiba-tiba mengalami penurunan UKT. Ia yang biasa membayar UKT senilai Rp 2.200.000,-, tiba-tiba mendapat tagihan Rp 1.440.000,- pada semester ini. Ia kemudian melaporkan kejanggalan tersebut ke BAAK dan kepala prodi (kaprodi)  setelah membayar tagihan tersebut pada 4 Agustus. Sekitar tiga hari setelahnya ia membayar tagihan susulan. “Bayaran susulannya sebesar Rp 800.000,-,” tambahnya. Kendati demikian, Eka mengaku bahwa dirinya bukan mantan penerima bidikmisi. Ia juga menceritakan bahwa ada  mahasiswa dari prodi lain yang seharusnya membayar UKT Rp 1.000.000,- berubah menjadi Rp 10.000.000,-. “Sayang, saya tidak tahu siapa mahasiswa  tersebut,” tuturnya.

Irfan menanggapi kasus yang dialami Eka. Ia menjelaskan bahwa jika mahasiswa sudah telanjur membayar  tagihan yang salah, maka kartu rencana studinya diblok. Kemudian pihak puskom akan membuka  kembali apabila mahasiswa sudah membayar tagihan susulan.

Ratu Nirmala, mahasiswi daari prodi yang sama dengan Eka, juga mengalami permasalahan yang sama. Pada 19 Agustus, ia ingin membayar UKT, tetapi UKT-nya tiba-tiba turun menjadi Rp 1.440.000,-. Padahal UKT sesungguhnya Rp 5.500.000,-. Ia langsung melapor ke pihak Kepala Sub Bagian (kasubag) BAAK atas saran dari karyawan bank. Setelah itu, ia diminta untuk menulis data dirinya, sepeti nama, angkatan, nominal yang ditagihkan, dan nominal yang sebenarnya, serta dibubuhi tanda tangan. Kemudian pihak BAAK meminta Ratu untuk mengecek tagihan ke bank dalam lima hari ke depan. Namun, masih tidak ada perubahan. Ia kemudian melapor kembali ke BAAK dan di tanggal 25 akhirnya ia bisa membayar tagihan UKT yang sebenarnya.

Ratu pun berkomentar ketika melihat kasus ini terjadi pada segelintir mahasiswa. Berdasarkan informasi yang ada, tagihan UKT kembali  normal dalam waktu yang berbeda-beda. “Uang tagihan dikoreksi secara manual,” tutur Ratu mengulangi perkataan pihak kasubag. Maka dari itu, tagihan UKT kembali normal dalam waktu yang berbeda.

Di sisi lain, pihak pustikom mengaku bahwa pada tanggal 4 Agustus sistem pembayaran sudah dikoreksi. Berbarengan dengan diturunkannya SK ke puskom yang sudah direvisi.  Kepala Pustikom menginstruksikan untuk  mengoreksi serta membetulkan permasalahan teknis tersebut di malam harinya. Demi mengklarifikasi informasi, Didaktika mencoba mewawancarai Syaiful, selaku Kepala BAAK. Namun, ia menolak berkomentar ketika ditanya mengenai prosedur pembayaran tagihan selanjutnya.

Lutfia Harizuandini

gambar oleh www.lpm-projustitia.com

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *