Menghidupkan Minke, Mengingat Pramoedya Ananta Toer

No Comment Yet

 

“Kita sudah melawan Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!” Salah satu dialog dalam buku Bumi Manusia tersebut menandai dimulainya teater Bunga Penutup Abad. Teater tersebut merupakan adaptasi dan visualisasi dari roman Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer—atau lebih dikenal dengan panggilan Pram—untuk mengenang 10 tahun meninggalnya Pram, pada Jumat (26/08) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Namun, dialog pada teater tersebut, tak ditempatkan seperti pada buku aslinya. Pram menempatkan dialog tersebut pada bagian. Alur cerita pada teater tersebut pun dibuat maju-mundur. Ini tentu sedikit membingungkan, terlebih bagi yang belum pernah membaca bukunya. Kendati demikian, hal ini tidak mengurangi banyak penampilan teater. Aksi dalam setiap adegan tetap hidup. Ketegasan Nyai Ontosoroh, ceria dan rapuhnya Annelies, dan bergeloranya Minke cukup tergambarkan dalam teater ini. Hal itu kemudian ditambah dengan tata musik, pakaian, dekorasi, hingga busana yang sangat mendukung. Sehingga dapat membawa kita merasakan suasana awal abad XX.

Roman Bumi Manusia sendiri menceritakan Minke (diperankan Reza Rahadian), seorang pelajar jawa dari kalangan priyayi rendahan mengalami masa keresahan sebagai seorang terpelajar. Keresahan yang dimaksud adalah tentang ketidakadilan kolonialisme dalam segala aspek dan merendahkan kaum pribumi—bahkan lebih hina dari binatang peliharaan orang Eropa.

Selama masa itu, Minke ditemani oleh Annelies (diperankan Chelsea Islan), seorang gadis Indo-Eropa yang sangat cantik dan menjadi istri Minke. Tak hanya Annelies, ada dua tokoh penting yang menjadi guru Ideologis bagi Minke. Mereka adalah Nyai Ontosoroh (diperankan oleh Happy Salma), dan Jean Marrais (diperankan oleh Lukman Sardi).

Nyai Ontosoroh merupakan mertua Minke. Ia merupakan Gundik dari seorang Belanda bernama Herman Mellema. Nyai Ontosoroh merupakan sosok pintar dan berkharisma dibandingkan dengan wanita priyayi jawa pada zamannya. Ia dapat menulis, membaca, dan berbahasa Belanda laykanya seorang Belanda totok. Minke pun kagum dengan sosok tangguh ini.

Sedangkan, Jean Marrais merupakan sahabat Minke di Surabaya. Ia merupakan seorang pelukis dari Prancis. Pernah berkuliah di Sorbonne, namun tidak lulus. Ia kemudian berkelana ke Hindia Belanda. Lantas, menjadi tentara bayaran Belanda untuk menyerbu Aceh. Tak kuat dengan situasi perang, ia memutuskan kembali menjadi pelukis di Surabaya. Dan, menjadi teman diskusi bagi Minke.

Minke yang kala itu baru menikah dengan Annelies, harus melawan hukum Kolonial Belanda yang tak adil.  Hingga seluruh harta benda Nyai Ontosoroh lenyap dan Annelies mesti dibawa Ke Belanda hingga akhirnya meninggal. Namun, tentu saja bentuk visual tak bisa sebagus dan semenarik isi roman tersebut.

Konflik pun hanya mengalami simplifikasi yakni antara pribumi dan Belanda. Tak ada penggambaran konflik yang rumit di dalamnya. Terutama konflik Minke dengan adat-istiadatnya. Meski begitu, teater ini dapat dikatakan berhasil untuk kali pertama memvisualkannya secara massif. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir muncul ide untuk memvisualkan roman Bumi Manusia ini dalam bentuk film. Namun, hingga kini tidak ada realisasi ide tersebut.

 

Pram dan Keintelektualan Minke

Satu hal dalam roman Bumi Manusia yang menarik dibahas keintelektualan Minke. Pelajarmerupakan sebuah kelompok baru dalam masyarakat Jawa kala itu. Bahkan, Robert van Niel menyebut bahwa pelajar merupakan elite atau priyayi modern Jawa saat itu. Kelak, ia akan menggantikan peran strategis di masyarakat, dari garis keturunan menjadi keahlian.

Minke mendapat pendidikan Belanda sebagai efek dari politik balas budi Belanda. Kaum terpelajar tersebut dimaksudkan untuk menjadi pegawai administrasi pemerintah kolonial yang dapat dibayar dengan murah. Namun, Minke tak seperti yang diharapkan pemerintah kolonial.

Dengan modal kepintarannya, ia coba tak berjarak masyarakat. Meski pada awalnya ia pun sama seperti golongan terpelajar lainnya. Lebih bangga menulis dengan bahasa Belanda dibandingkan bahasa melayu dan bahasa jawa yang dianggapnya hanya untuk masyarakat tak terpelajar. “Kalau rakyat tak terpelajar. Tugas kau, untuk membuat mereka terpelajar dengan tulisan-tulisanmu,” kata Jean Marrais.

Penyakit merendahkan tersebut sering menjangkiti kaum terpelajar. Dengan modal kepintarannya, bukan tak mungkin seorang terpelajar akan bersikap tidak adil dan menindas rakyat. Sudah seharusnya, kata Pram, melalui percakapan Nyai Ontosoroh kepada Minke, seorang pelajar sudah harus berlaku adil sejak dalam pikiran dan tentu saja dalam tindakan. Minke pun dijadikan role model oleh Pram sebagai sosok intelektual seperti itu.

Kemudian, melalui sosok Minke, Pram juga menyatakan bahwa seorang intelektual atau bahkan bagi semua manusia untuk selalu mengikuti hati nuraninya dalam setiap tindakan dan pekerjaan. “Orang yang bekerja hanya untuk menyenangkan hati orang lain dan tak ada hubungannya dengan diri sendiri. Sama saja dengan pelacuran,” tegas Jean Marrais.

Gambaran sosok Minke tentu saja tak terlepas pada saat koteks Pram menuliskannya yakni pada 1973 atau zaman Orde Baru. Kala itu, Pram melihat inteletual hanya sebagai pelayan negara. Intelektual tak punya sikap dalam hidup. Mereka lebih memilih bersikap kompromis dengan keadaan. Tak ada keinginan untuk menyadarkan masyarakat. Oleh sebab itu, Orde Baru melarang perdaran roman ini dengan alibi Pram seorang musuh negara. Ia dituduh komunis dan dipenjara di Pulau Buru.

Parahnya, yang dikhawatirkan oleh Pram tentang masalah seorang intelektual atau orang terpelajar mewabah hingga kini. Oleh sebab itu, roman ini dirasa masih relevan untuk tetap dibaca dan dibahas. Pram menginginkan seorang terpelajar membumi bersama masyarakat seperti yang dilakukan oleh Minke.

Virdika Rizky Utama

guest83

Author

guest83

Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *